Bagaimana Menasehati Penguasa? Bag.3

HomeManhajAkidah

Bagaimana Menasehati Penguasa? Bag.3

Rifthian 12 Maret 2011 at 5:37 am maaf ada yang terlewat ustadz.mohon dikoreksi jika salah HT mengganti penguasa yang ada saat in

Awas!! Buku Beracun di Sekitar Anda
Cara Mudah Memahami Asma’ was Sifat
Nailah Hasyim Shabri, wanita ‘alim masa kini

Rifthian

12 Maret 2011 at 5:37 am

maaf ada yang terlewat ustadz.mohon dikoreksi jika salah

HT mengganti penguasa yang ada saat ini dengan sistem khilafah tanpa jalan kekerasan. Tentu saja, tidak dapat disamakan dengan memerangi penguasa yang dimaksud di dalam hadist:

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah menyeru kepada kami, kemudian kami membai’at beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam untuk selalu mendengar dan mentaati, baik dalam kondisi yang kami senangi, kami benci, maupun dalam kondisi susah maupun lapang, dan AGAR KAMU TIDAK MEMERANGI PENGUASA kecuali nampak kekufuran yang nyata”[Bukhari]

Perkara penguasa melakukan tindakan kekerasan kepada syabab HT meskipun HT tidak melakukan kekerasan, itu bukanlah kesalahan HT, tetapi kesalahan penguasa itu sendiri yang menyiksa orang-orang mukmin. Apalagi, menasehati penguasa secara terang-terangan itu sendiri, bukanlah perkara haram:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.[QS:85.10]

——————————————————————————————————————————————————

Abu Hudzaifah Al Atsary

12 Maret 2011 at 10:39 am

Pertanyaan saya: Mengapa penguasa melakukan tindak kekerasan kpd HT? Apakah mungkin pemerintah kita bersikap demikian jika HT melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang diajarkan Nabi, spt dengan mengutus tokoh-tokoh yang terpandang di mata pemerintah, lalu menghadap presiden (misalnya) secara empat mata dan menjelaskan baik-baik maksudnya dan menasehatinya… atau dengan menyurati beliau? Saya rasa (bahkan yakin), kalau caranya baik dan benar, kita tidak akan diperlakukan spt itu. SBY itu jauh lebih ‘ramah’ dan ‘berperasaan’ daripada Hajjaj bin Yusuf.
Antum jgn punya anggapan bahwa ana membela penguasa yg zhalim, ana hanya ingin menjelaskan bagaimana menghadapi penguasa yg zhalim sesuai dengan yg diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Memang, menyiksa orang-orang beriman adalah kesalahan besar… tapi memberontak kpd penguasa yg jauh lebih kuat, dan belum jelas-jelas kafir, adalah dosa besar pula, yg mengakibatkan fitnah besar.
Karenanya, Imam Ahmad walaupun telah disiksa demikian berat oleh Al Ma’mun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq; ketika dimintai pendapatnya bolehkah mengangkat senjata (memberontak) kpd mereka oleh tokoh-tokoh masyarakat dan sebagian ulamanya; beliau dengan tegas melarangnya. Simaklah nas riwayatnya berikut:
يقول حنبل – رحمه الله تعالي -:
((أجتمع فقهاء بغداد في ولاية الواثق إلي أبي عبد الله – يعني الإمام أحمد بن حنبل – رحمه الله تعالي – وقالوا له: أن الأمر قد تفاقم وفشا – يعنون: إظهار القول بخلق القرآن، وغير ذلك ولا نرضي بإمارته ولا سلطانه !
فناظرهم في ذلك، وقال: عليكم بالإنكار في قلوبكم ولا تخلعوا يداً من طاعة، ولا تشقوا عصا المسلمين، ولا تسفكوا دمائكم ودماء المسلمين معكم وانظروا في عاقبة أمركم، واصبروا حتى يستريح بر، ويستراح من فاجر
وقال ليس هذا – يعني نزع أيديهم من طاعته – صواباً، هذا خلاف الآثار ))
Hambal -sepupu Imam Ahmad- mengatakan: “Para fuqaha’ Baghdad pernah berkumpul dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) di masa kekuasaan Al Watsiq. Mereka berkata: masalah ini semakin meluas dan parah -maksudnya: menampakkan perkataan bahwa Al Qur’an itu makhluk dll- dan kami tidak meridhai kepemimpinan dan kekuasaan dia (yakni Al Watsiq)”. Maka Imam Ahmad mendebat mereka, dan mengatakan: “Hendaknya kalian mengingkarinya dalam hati dan janganlah mencabut bai’at kalian untuk taat kepadanya (dlm selain maksiat tentunya -pent), dan jangan memecah kesatuan kaum muslimin… janganlah menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian… fikirkanlah akibat dari perbuatan yang akan kalian lakukan… dan sabarlah sampai yang orang baik beristirahat, atau orang yang bejat ‘diistirahatkan’. Beliau juga mengatakan: “Ini (maksudnya mencabut bai’at ketaatan) bukanlah sesuatu yang benar… ini bertentangan dengan atsar (hadits Nabi)” (Lihat: Al Aadaabusy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 1/195-196 dan kisah ini diriwayatkan oleh Al KHallal dalam kitab As Sunnah hal 133). Al Khallal sendiri adalah murid Imam Ahmad.
Coba antum perhatikan, bagaimana sikap Imam Ahmad, Imam Ahlussunnah wal jama’ah ketika menghadapi seorang penguasa yg jelas-jelas menyeru kepada kekafiran yg telah disepakati bahwa ia merupakan kekafiran (yakni mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk, bukan kalamullah). Tidak cuma sampai di situ, bahkan si penguasa ini memaksa para ulama untuk mengatakan hal tersebut, bahkan tak sedikit yang telah disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengatakannya. Salah satu yg dibunuh oleh Al Watsiq sendiri adalah Ahmad bin Nashr al Marwazi yg disembelih langsung olehnya !! Pun demikian, Imam Ahmad tetap tidak merestui keinginan mereka karena melihat akibatnya akan lebih buruk.
Adapun apa yg terjadi di zaman Hajjaj, tragedi Al Harrah (di zaman Yazid bin Mu’awiyah), Kudeta Bani Abbas thd Bani Umayyah, Perlawanan Ibnuz Zubeir, Husein bin Ali, dll thd penguasa saat itu dan kejadian-kejadian semisal lainnya; maka itu semua terjadi sebelum zaman imam Ahmad, dan itu memang madzhab klasik yang dianut sebagian salaf. Akan tetapi setelah melihat bagaimana akibatnya yg mengerikan, maka para ulama yg datang kemudian sepakat untuk meninggalkan cara-cara tersebut. Simaklah perkataan Ibnu Katsir berikut setelah menceritakan akibat pemberontakan Ibnul Asy’ats thd Hajjaj, yg didukung oleh banyak ulama:
والعجب كل العجب من هؤلاء الذين بايعوه بالامارة وليس من قريش، وإنما هو كندي من اليمن، وقد اجتمع الصحابة يوم السقيفة على أن الامارة لا تكون إلا في قريش، واحتج عليهم الصديق بالحديث في ذلك، حتى إن الانصار سألوا أن يكون منهم أمير مع أمير المهاجرين فأبى الصديق عليهم ذلك، ثم مع هذا كله ضرب سعد بن عبادة الذي دعا إلى ذلك أولا ثم رجع عنه، كما قررنا ذلك فيما تقدم.
فكيف يعمدون إلى خليفة قد بويع له بالامارة على المسلمين من سنين فيعزلونه وهو من صلبية قريش ويبايعون لرجل كندي بيعة لم يتفق عليها أهل الحل والعقد ؟ ولهذا لما كانت هذه زلة وفلتة نشأ بسببها شر كبير هلك فيه خلق كثير فإنا لله وإنا إليه راجعون.
Yang sungguh aneh bin ajaib adalah perbuatan mereka (maksudnya para fuqaha’) yang membai’at Ibnul Asy’ats sebagai Amirul Mukminin, padahal dia bukan berasal dari Quraisy. Dia hanyalah orang Arab dari suku Kindah asal Yaman. Padahal para sahabat telah ijma’ pada hari Saqifah, bahwa kepemimpinan haruslah dipegang oleh orang yg berasal dari suku Quraisy. Abu Bakar As Shiddiq bahkan berdalil dengan sebuah hadits ttg hal ini ketika mendebat keinginan mereka (orang-orang Anshar). Bahkan ketika kaum Anshar mengusulkan agar mereka juga memiliki Amir bersama Amir dari kalangan Muhajirin, Abu Bakar tetap menolaknya. Bahkan Abu Bakar lantas memukul Sa’ad bin Ubadah (tokoh Anshar) karena semula mengajak kaum Anshar untuk mengangkat pemimpin dari mereka, meskipun akhirnya ia rujuk. Sebagaimana yg telah kami jelaskan sblmnya.
Lantas, bagaimana kok mereka justru mencopot seorang khalifah (maksudnya Abdul Malik bin Marwan) yang telah dibai’at oleh kaum muslimin seluruhnya selama bertahun-tahun, dan melengserkannya, padahal dia adalah seorang Quraisy asli?? Kemudian mereka membai’at seseorang dari suku Kindah yang belum disepakati oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi (semacam wakil-wakil rakyat yg berhak mengangkat/mencopot pemimpin). Nah, karena kesalahan dan ketergelinciran para fuqaha’ tadilah, akhirnya timbul bencana dan kerusakan yang sangat besar, yang menewaskan banyak orang. Fa inna lillaahi wa inna ilaihi Raaji’uun (Al Bidayah wan Nihayah 9/66).

Simak pula perkataan Ibnu Hajar di akhir biografi Al Hasan bin Shalih bin Hayy, yg digolongkan sebagai Khawarij Qa’adiyyah, maksudnya khawarij yg tidak ikut memberontak secara langsung, namun memprovokasi orang lain untuk memberontak lewan perkataan dan sikapnya thd penguasa. Antum bisa baca biografinya dan bagaimana para tokoh Ahlussunnah yg sezaman dengannya menyikapinya. Contohnya Imam Sufyan Ats Tsauri yg demikian pedas dan keras dalam mengingkari sikap-sikapnya… dan masih banyak ulama lain yg bersikap spt itu dan mengatakan bahwa si Hasan ini (كان يرى السيف). Maka di akhir biografinya, Ibnu Hajar mengatakan:
تهذيب التهذيب (2/ 250):
وقولهم كان يرى السيف يعني كان يرى الخروج بالسيف على ائمة الجور وهذا مذهب للسلف قديم لكن استقر الامر على ترك ذلك لما رأوه قد افضى إلى أشد منه ففي وقعة الحرة ووقعة ابن الاشعث وغيرهما عظة لمن تدبر .
Mereka yg mengatakan (كان يرى السيف) maksudnya ialah bahwa si Hasan ini termasuk yang mendukung pemberontakan dengan senjata (pedang) terhadap penguasa-penguasa zhalim. Ini memang madzhab yang dahulu dianut oleh para salaf. Akan tetapi kemudian terjadi kesepakatan untuk meninggalkan cara tersebut
, setelah mereka menyaksikan akibatnya yang lebih buruk. Apa yg terjadi dlm tragedi Al Harrah, Ibnul Asy’ats dan lain-lain menjadi mau’izhah dan ‘ibrah bagi orang yang ingin mengambil pelajaran.

Nah, dari nukilan-nukilan tadi, jelaslah duduk perkaranya… bahwa pendapat yg membolehkan angkat senjata melawan penguasa zhalim adalah pendapat yg telah ditinggalkan, sehingga kita tidak boleh mengikutinya. Lagi pula, di zaman mereka yg membolehkan hal tsb, banyak pula ulama yg tidak sependapat dengan mereka. Contohnya Ibnu Umar dan Sa’ad bin Abi Waqqash yg menjauhkan dirinya dari fitnah dan tidak mau membai’at Ibnu Zubeir, tidak ikut memberontak bersama warga Madinah, dst… lalu di zaman Tabi’in kita mengenal Muhammad ibnul Hanafiyyah yg juga tidak mau berbai’at kpd Ibnuz Zubeir krn telah memba’iat Yazid, lalu Hasan Al Basri, dan berikutnya Sufyan Ats Tsauri, dll… dan disusul oleh Imam Ahmad bin Hambal. Kalaulah ini merupakan masalah khilafiyah di kalangan mereka, maka jelas bahwa mereka yg tidak khuruj (tidak berontak)-lah yg benar, karena akhirnya pendapat mereka-lah yang dipilih dan menjadi ijma’ ulama yg datang kemudian. Faham?

Tidak cukupkah dalil-dalil yg memerintahkan untuk taat kpd penguasa zhalim untuk mengharamkan pemberontakan? Tidak cukupkah akibat buruk yg dicatat oleh sejarah tersebab pemberontakan (yg dilakukan oleh sejumlah ulama) menjadi dalil bahwa cara ini sama sekali tidak membuahkan hasil yg baik? Itupun yg memimpin pemberontakan adalah para ulama yg tidak diragukan keshalihannya… lantas bagaimana kalau yg mimpin saja masih diragukan ‘nawaitu’-nya… tidak dikenal sbg orang baik, dan kalaupun dia orang baik maka kebaikannya jauh tak sebanding dengan para ulama tsb…??
Bahkan secara logika, kalaupun penguasanya jelas-jelas kafir dan rakyatnya lemah… maka membolehkan pemberontakan thd penguasa dlm kondisi ini sama dengan mati konyol.

COMMENTS

WORDPRESS: 10
  • comment-avatar

    Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.. ini adalah penjelasan yang sangat memuaskan bagi saya Ustadz.. Syukron, barokallohu fiik.

  • comment-avatar
    abu_azzam 8 years ago

    Bahkan secara logika, kalaupun penguasanya jelas-jelas kafir dan rakyatnya lemah… maka membolehkan pemberontakan thd penguasa dlm kondisi ini sama dengan mati konyol… masyaAllah..logika apa ini?..yg konyol itu justru membiarkan kesyirikan merajalela ( termasuk kesyirikan UU Taghut)& tidak membongkar keburukannya…krn itulah fitnah terbesar umat ini yaitu kesyirikan& kekafiran,,bukanlah peperangan yg antum gembar-gemborkan…sehingga saking pentingnya mslh ini,seorang ulama dakwah Tauhid najdiyah..berkata..”terbunuhnya seluruh kaum muslimin krn peperangan antara mrk,lbh ringan di sisi ALLAH,drpd mrk mngadukan prmaslhnya kpd taghut”…ini pelajaran kpd kita smua( jg kpd yg punya web ini) bahwa prmasalahan thagut & kesyirikan bukan smt2 syirik kubur,dukun,pohon..tp jg syirik dlm mslh pembuAtan UU..

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Tanggapan: Jazakallaahu khairan atas komentarnya, ana senang berdiskusi asalkan ilmiah… Thayyib ya akhi, bukankah ketika di Mekkah, Rasulullah menyaksikan berbagai kesyirikan dan penindasan terhadap ahli tauhid (para sahabat beliau)? Jelas iya… tapi mengapa beliau tidak memberontak dengan mengangkat senjata kepada penguasa kafir mekkah? Mengapa beliau justru menegur sahabat Khabbab bin Aratt ketika mengeluhkan penyiksaan yg dideritanya dari pihak musyrikin Quraisy? Bahkan beliau menganggap permintaan Khabbab agar beliau mendoakan kemenangan atas kaum muslimin dlm kondisi spt itu, sebagai tindakan isti’jal… adapun menjelaskan kekeliruan/kesesatan suatu pemikiran, baik itu berupa UU atau yg lainnya; bisa dilakukan tanpa mengangkat senjata. Siapa yg mengharuskan umat islam untuk mengingkari dgn senjata, berarti dia jahil thd syariat… Bedakan dong antara menjelaskan kesesatan dan kemusyrikan; dengan memeranginya dengan senjata !
      Adapun perkataan ulama dakwah tauhid yg antum nukil tsb, maka pertama antum menukil perkataan dari seseorang yg tidak antum sebutkan namanya, dan ini berarti tidak jelas sumbernya, alias majhul… dan agama tidak boleh diambil dari orang yg majhul. fafham dzaalik. Kedua, nt tau khan bahwa perkataan ulama itu bukanlah dalil, namun justru membutuhkan dalil untuk bisa diterima… nah, apakah dalil yg mendukung perkataan dia tadi?
      ketiga, ketika mengatakan bahwa hal tsb ‘lebih ringan di sisi Allah dari pada mereka mengadukan permasalahannya kepada taghut’; maka ini merupakan taqawwul ‘alallaah, yg bila tidak dilandasi dgn ilmu, maka kedudukannya lebih berat dari syirik itu sendiri, sebagaimana yg dinyatakan oleh Ibnu Qayyim tatkala menafsirkan ayat (Innamaa harrama rabbiyal fawahisya maa zhahara minhaa wamaa bathan… al aayah).
      Coba antum renungi hadits berikut beserta syarahnya:
      عن أبي عبد الله خباب بن الأرت رضي الله عنه قال: شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة فقلنا ألا تستنصر لنا ألا تدعو لنا ؟ فقال : ” قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها ثم يؤتى بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه وعظمه، ما يصده ذلك عن دينه والله ليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخاف إلا الله والذئب على غنمه ولكنكم تستعجلون ” . رواه البخاري .
      قال الإمام العلامة الفقيه محمد بن صالح العثيمين – رحمه الله تعالى – في ( شرح رياض الصالحين ) :
      ( حديث أبي عبد الله خباب بن الأرت رضي الله عنه يحكي ما وجده المسلمون من الأذية من كفار قريش في مكة فجاؤوا يشكون إلى النبي صلى الله عليه وسلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة فبين النبي عليه الصلاة والسلام أن من كان قبلنا ابتلي في دينه أعظم مما ابتلي به هؤلاء يحفر له حفرة ثم يلقى فيها ثم يؤتى بالمنشار على مفرق رأسه ويشق، وأيضا يمشط بأمشاط الحديد ما بين جلده وعظمه وهذا تعزير عظيم وأذية عظيمة .
      ثم أقسم عليه الصلاة والسلام أن الله سبحانه سيتم هذا الأمر يعني سيتم ما جاء به الرسول عليه الصلاة والسلام من دعوة الإسلام حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخشى إلا الله والذئب على غنمه ولكنكم تستعجلون أي فاصبروا وانتظروا الفرج من الله فإن الله سيتم هذا الأمر وقد صار الأمر كما أقسم عليه الصلاة والسلام ففي هذا الحديث آية من آيات الله حيث وقع الأمر مطابقاً لما أخبر به النبي عليه الصلاة والسلام .
      وآية من آيات النبي عليه الصلاة والسلام حيث صدقه الله بما أخبر به وهذه شهادة له من الله بالرسالة كما قال الله لكن الله يشهد بما أنزل إليك أنزله بعلمه والملائكة يشهدون وكفى بالله شهيداً وفيه أيضاً دليل على وجوب الصبر على أذية أعداء المسلمين وإذا صبر الإنسان ظفر فالواجب على الإنسان أن يقابل ما يحصل من أذية الكفار بالصبر والاحتساب وانتظار الفرج ولا يظن الأمر ينتهي بسرعة وينتهي بسهولة .
      قد يبتلي الله عز وجل المؤمنين بالكفار يؤذنهم وربما يقتلونهم كما قتلوا الأنبياء .
      اليهود من بني إسرائيل قتلوا الأنبياء الذين هم أعظم من الدعاة وأعظم من المسلمين، فليصبر ولينتظر الفرج ولا يمل ولا يضجر بل يبقى راسيا كالصخرة والعاقبة للمتقين والله تعالى مع الصابرين .
      فإذا صبر وثابر وسلك الطرق توصل إلى المقصود ولكن بدون فوضى وبدون استنفار وبدون إثارة بطريق منظمة لأن أعداء المسلمين من المنافقين والكفار يمشون على خطا ثابتة منظمة ويحصلون مقصودهم .
      أما السطحيون الذين تأخذهم العواطف حتى يثوروا ويستنفروا فإنه قد يفوتهم شيء كثير وربما حصل منهم زلة تفسد كل ما بنوا إن كانوا قد بنوا شيئاً .
      لكن المؤمن يصبر ويتئد ويعمل بتؤده ويوطن نفسه ويخطط تخطيطاً منظماً يقضي به على أعداء الله من المنافقين والكفار ويفوت عليهم الفرص لأنهم يتربصون الدوائر بأهل الخير يريدون أن يثيروهم حتى إن حصل من بعضهم ما يحصل حينئذ استعلوا عليهم وقالوا هذا الذي نريد وحصل بذلك شر كبير .
      فالرسول عليه الصلاة والسلام قال لأصحابه اصبروا فالمؤمن فيمن قبلكم – وأنتم أحق بالصبر منه – كان يعمل به هذا العمل ويصبر فأنتم يا أمة محمد أمة الصبر والإحسان فاصبروا حتى يأتي الله بأمره والعاقبة للمتقين .
      فأنت أيها الإنسان لا تسكت عن الشر ولكن اعمل بنظام وبتخطيط وبحسن تصرف وانتظر الفرج من الله ولا تمل فالدرب طويل لا سيما إذا كنت أول الفتنة فإن القائمين بها سوف يحاولون ما استطاعوا أن يصلوا إلى قمة ما يريدون فاقطع عليهم السبيل وكن أطول منهم نفساً وأشد منهم مكراً فإن هؤلاء الأعداء يمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين والله الموفق . ).

      • comment-avatar
        abu_azzam 8 years ago

        syukron nasihatnya akhi,smg Allah menambah kebaikan pd antum,dan bermanfaat ilmunya tuk kbaikan umat.amin..perkataan ulama dakwah Tauhid td adlh perkataan Syaikh Sulaiman ibnu sahman rahimahullah dlm Ad durar As Saniyyah( bahasan taghut).hanya redaksi yg brbeda krn kkeliruan ana.smg Allah mmafaafkan ana..kmbli k topik prmslahan.ana insyaAllah luruskan kkeliruan antum berkaitan dgn tidak sinkronnya antum mendudukkan permasalahan dgn realita yg terjadi.
        1.bukankah ketika di Mekkah, Rasulullah menyaksikan berbagai kesyirikan dan penindasan terhadap ahli tauhid (para sahabat beliau)? Jelas iya… tapi mengapa beliau tidak memberontak dengan mengangkat senjata kepada penguasa kafir mekkah? Mengapa beliau justru menegur sahabat Khabbab bin Aratt ketika mengeluhkan penyiksaan yg dideritanya dari pihak musyrikin Quraisy?
        …masyaAllah akhi,bagaimana peng analogian yg rusak ini bs antum kmukakan..apakah kita skrg sdg berhadapan dgn org2 kafir asli( spt awal dakwah Rasulullah)./ apkh kita berhadapan dgn org2 yg mngaku islam,ttpi lbh mndahulukan UU buatan mrk ktimbang Syariat( sperti zaman dakwah Syaikh Muhammad bin abdlwahhab& imam Muhammad al saud rahimahullah)?..disini nampak krancuan cr berpikir antum..Rasulullah d awal dakwah mmg tidak mmrintahkan umat tuk mmrangi kafir quraisy,krn blm adanya kekuatan( blm turunnya syariat Jihad mmrangi kafirin),ttpi bkn brarrti justru bliau brsikap sembunyi2 dlm mnjlaskan kkafiran mrk.& yang pasti bliau tdk mnganggap pnguasa quraisy sbg “ulil amri” yg mesti d taati spt..slogan yg srg antum& gol antum besar2kan.krn kalo awal pengqiyasan sj sdh slh,mk tindaklanjut brikutnya bakal salah.wallahua’lam
        2.adapun menjelaskan kekeliruan/kesesatan suatu pemikiran, baik itu berupa UU atau yg lainnya; bisa dilakukan tanpa mengangkat senjata..betul ya akhi,ana s7 dgn antum. Siapa yg mengharuskan umat islam untuk mengingkari dgn senjata, berarti dia jahil thd syariat… Bedakan dong antara menjelaskan kesesatan dan kemusyrikan; dengan memeranginya dengan senjata !
        ..kita skrg sdg berbicara ttg pngusasa yg dgn sgl kkuatannya berupaya mmpertahankan UU buatannya( UU Taghut)..lalu dmn sisi keimanannya..sdgkan syarat seseorang dsebut mukmin adlh,beriman kpd AllAH& kafir thd Taghut..lalu dmnakah sisi kkafiran mrk kpd taghutnya?..sekian dulu koreksinya smg Allah mmaafkan ksalahan ana& smg Allah mmberi kita hidayah,shinnga terhindar dr ksesatan.amin.

        • comment-avatar
          Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

          Coba kita persempit skup diskusi kita agar masalahnya lebih jelas. Kita mulai dulu dari pemerintah RI, apakah menurut antum mereka telah kafir/murtad?
          kalau jawabannya ‘ya’, maka apakah kemurtadan tsb meliputi seluruh aparat pemerintah (presiden, para menteri, anggota DPR, DPRD, dst), ataukah hanya orang-perorang? Dan siapakah orangnya?
          Ana tidak mengingkari bahwa berhukum dengan selain hukum Allah adalah perbuatan kafir, sebab demikianlah yg Allah namakan dalam kitabNya, wa ana uuminu bihaadza. Tapi perbedaan kita ialah: kafir dlm ayat ini maksudnya kufur akbar atau kufur ashghar, atau fiihi tafshiil.
          Tafadhdhal… wallaahi ana berharap bisa diskusi langsung dgn antum, tapi jgn via komentar begini, karena ana tidak online tiap hari… bagaimana jika via mesenger agar lebih instant? Kapan antum bersedia?

  • comment-avatar
    Herizal 8 years ago

    ” Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, tahtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya”

    Perkataan “Mencederai Rasa keadilan” sering kita dengar saat ini, dimana banyak kebijakan dari pemerintah tidak mencerminkan rasa keadilan bagi rakyat banyak.

    Selain kebijakan pemerintah, banyak juga putusan-putasan hakim yang benar-benar tidak adil, lihat saja bagaimana seorang pencuri sebuah semangka dihukum, tapi dilain sisi ada koruptor yang diputus bebas.

    Kejadian atau pristiwa yang kita lihat saat ini di Indonesia yang sering mencederai rasa keadilan kita, sehingga membuat pemerintah saat ini digoyang oleh ketidakadilan itu sendiri. Bahkan partai penguasa saat ini diambang kehancuran.

    jadi kepada pemimpin bersikap adil dan bijaksanalah terhadap rakayat jika ingin kekuasaannya akan kokoh dan tetap dicintai rakyat.

  • comment-avatar
    Abu Hanif 8 years ago

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, Pak Ustadz ana pernah dengar kajian, dan dalam ceramah tersebut sedikit disinggung tentang adanya perbedaan pendapat antara Syeikh Al Albani dan Syeikh Bin Baz Rahimamullah رحمه الله berbeda pendapat mengenai keberadaan tentara Amerika di Saudi Arabia pada saat terjadinya Perang Teluk. Kalau tidak salah Syeikh Al Albani tidak setuju dengan keberadaan tentara asing di Saudi Arabia sedangkan Syeikh bin Baz tidak keberatan dengan hal itu. Namun demikian perbedaan pendapat tersebut tetap tidak menghilangkan sikap saling respek di antar kedua ‘Ulama Kibar’ tersebut. Bagaimana Pak Ustadz bisa menjelaskan hal ini? syukron jazaakallahu khairan……

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Apanya yg harus dijelaskan? Itu khan sudah berlalu hampir dua puluh tahun lalu… Yg namanya perbedaan ijtihad itu wajar, apalagi dlm masalah2 yg genting spt itu. Ana rasa, ulama2 Saudi lebih faham dan mengetahui thd kondisi negaranya yg mendorong mereka utk berfatwa spt itu. Bukan hanya Syaikh Bin Baz, tapi Syaikh Utsaimin jg memfatwakan bolehnya minta tolong kpd tentara AS utk melawan pasukan Saddam Husein yg jumlahnya konon mencapai 1 juta personel… dan harap antum tahu, bahwa Saddam Husein berafiliasi ke Partai Ba’ats (Nasionalisme Arab yg lebih dekat ke sosialisme/komunisme), alias satu partai dengan pemimpin Suriah saat ini.

  • comment-avatar
    teguh 8 years ago

    Bismillah. Ya ustadz, terkait dengan haramnya mengambil harta seorang muslim tanpa hak, apakah kita boleh melanggar ketentuan pajak yang diberlakukan oleh penguasa? Atau bolehkah kita menyajikan data keuangan yang tidak benar agar dibebaskan dari pajak?

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Ana tidak tahu jawaban pertanyaan pertama. adapun yg kedua maka tidak boleh, karena termasuk saksi palsu/kedustaan. wallaahu a’lam.

DISQUS: