Rifthian

12 Maret 2011 at 5:37 am

maaf ada yang terlewat ustadz.mohon dikoreksi jika salah

HT mengganti penguasa yang ada saat ini dengan sistem khilafah tanpa jalan kekerasan. Tentu saja, tidak dapat disamakan dengan memerangi penguasa yang dimaksud di dalam hadist:

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah menyeru kepada kami, kemudian kami membai’at beliau shallallaahu ‘alaihi wa salam untuk selalu mendengar dan mentaati, baik dalam kondisi yang kami senangi, kami benci, maupun dalam kondisi susah maupun lapang, dan AGAR KAMU TIDAK MEMERANGI PENGUASA kecuali nampak kekufuran yang nyata”[Bukhari]

Perkara penguasa melakukan tindakan kekerasan kepada syabab HT meskipun HT tidak melakukan kekerasan, itu bukanlah kesalahan HT, tetapi kesalahan penguasa itu sendiri yang menyiksa orang-orang mukmin. Apalagi, menasehati penguasa secara terang-terangan itu sendiri, bukanlah perkara haram:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.[QS:85.10]

——————————————————————————————————————————————————

Abu Hudzaifah Al Atsary

12 Maret 2011 at 10:39 am

Pertanyaan saya: Mengapa penguasa melakukan tindak kekerasan kpd HT? Apakah mungkin pemerintah kita bersikap demikian jika HT melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang diajarkan Nabi, spt dengan mengutus tokoh-tokoh yang terpandang di mata pemerintah, lalu menghadap presiden (misalnya) secara empat mata dan menjelaskan baik-baik maksudnya dan menasehatinya… atau dengan menyurati beliau? Saya rasa (bahkan yakin), kalau caranya baik dan benar, kita tidak akan diperlakukan spt itu. SBY itu jauh lebih ‘ramah’ dan ‘berperasaan’ daripada Hajjaj bin Yusuf.
Antum jgn punya anggapan bahwa ana membela penguasa yg zhalim, ana hanya ingin menjelaskan bagaimana menghadapi penguasa yg zhalim sesuai dengan yg diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Memang, menyiksa orang-orang beriman adalah kesalahan besar… tapi memberontak kpd penguasa yg jauh lebih kuat, dan belum jelas-jelas kafir, adalah dosa besar pula, yg mengakibatkan fitnah besar.
Karenanya, Imam Ahmad walaupun telah disiksa demikian berat oleh Al Ma’mun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq; ketika dimintai pendapatnya bolehkah mengangkat senjata (memberontak) kpd mereka oleh tokoh-tokoh masyarakat dan sebagian ulamanya; beliau dengan tegas melarangnya. Simaklah nas riwayatnya berikut:
يقول حنبل – رحمه الله تعالي -:
((أجتمع فقهاء بغداد في ولاية الواثق إلي أبي عبد الله – يعني الإمام أحمد بن حنبل – رحمه الله تعالي – وقالوا له: أن الأمر قد تفاقم وفشا – يعنون: إظهار القول بخلق القرآن، وغير ذلك ولا نرضي بإمارته ولا سلطانه !
فناظرهم في ذلك، وقال: عليكم بالإنكار في قلوبكم ولا تخلعوا يداً من طاعة، ولا تشقوا عصا المسلمين، ولا تسفكوا دمائكم ودماء المسلمين معكم وانظروا في عاقبة أمركم، واصبروا حتى يستريح بر، ويستراح من فاجر
وقال ليس هذا – يعني نزع أيديهم من طاعته – صواباً، هذا خلاف الآثار ))
Hambal -sepupu Imam Ahmad- mengatakan: “Para fuqaha’ Baghdad pernah berkumpul dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) di masa kekuasaan Al Watsiq. Mereka berkata: masalah ini semakin meluas dan parah -maksudnya: menampakkan perkataan bahwa Al Qur’an itu makhluk dll- dan kami tidak meridhai kepemimpinan dan kekuasaan dia (yakni Al Watsiq)”. Maka Imam Ahmad mendebat mereka, dan mengatakan: “Hendaknya kalian mengingkarinya dalam hati dan janganlah mencabut bai’at kalian untuk taat kepadanya (dlm selain maksiat tentunya -pent), dan jangan memecah kesatuan kaum muslimin… janganlah menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian… fikirkanlah akibat dari perbuatan yang akan kalian lakukan… dan sabarlah sampai yang orang baik beristirahat, atau orang yang bejat ‘diistirahatkan’. Beliau juga mengatakan: “Ini (maksudnya mencabut bai’at ketaatan) bukanlah sesuatu yang benar… ini bertentangan dengan atsar (hadits Nabi)” (Lihat: Al Aadaabusy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 1/195-196 dan kisah ini diriwayatkan oleh Al KHallal dalam kitab As Sunnah hal 133). Al Khallal sendiri adalah murid Imam Ahmad.
Coba antum perhatikan, bagaimana sikap Imam Ahmad, Imam Ahlussunnah wal jama’ah ketika menghadapi seorang penguasa yg jelas-jelas menyeru kepada kekafiran yg telah disepakati bahwa ia merupakan kekafiran (yakni mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk, bukan kalamullah). Tidak cuma sampai di situ, bahkan si penguasa ini memaksa para ulama untuk mengatakan hal tersebut, bahkan tak sedikit yang telah disiksa dan dibunuh karena tidak mau mengatakannya. Salah satu yg dibunuh oleh Al Watsiq sendiri adalah Ahmad bin Nashr al Marwazi yg disembelih langsung olehnya !! Pun demikian, Imam Ahmad tetap tidak merestui keinginan mereka karena melihat akibatnya akan lebih buruk.
Adapun apa yg terjadi di zaman Hajjaj, tragedi Al Harrah (di zaman Yazid bin Mu’awiyah), Kudeta Bani Abbas thd Bani Umayyah, Perlawanan Ibnuz Zubeir, Husein bin Ali, dll thd penguasa saat itu dan kejadian-kejadian semisal lainnya; maka itu semua terjadi sebelum zaman imam Ahmad, dan itu memang madzhab klasik yang dianut sebagian salaf. Akan tetapi setelah melihat bagaimana akibatnya yg mengerikan, maka para ulama yg datang kemudian sepakat untuk meninggalkan cara-cara tersebut. Simaklah perkataan Ibnu Katsir berikut setelah menceritakan akibat pemberontakan Ibnul Asy’ats thd Hajjaj, yg didukung oleh banyak ulama:
والعجب كل العجب من هؤلاء الذين بايعوه بالامارة وليس من قريش، وإنما هو كندي من اليمن، وقد اجتمع الصحابة يوم السقيفة على أن الامارة لا تكون إلا في قريش، واحتج عليهم الصديق بالحديث في ذلك، حتى إن الانصار سألوا أن يكون منهم أمير مع أمير المهاجرين فأبى الصديق عليهم ذلك، ثم مع هذا كله ضرب سعد بن عبادة الذي دعا إلى ذلك أولا ثم رجع عنه، كما قررنا ذلك فيما تقدم.
فكيف يعمدون إلى خليفة قد بويع له بالامارة على المسلمين من سنين فيعزلونه وهو من صلبية قريش ويبايعون لرجل كندي بيعة لم يتفق عليها أهل الحل والعقد ؟ ولهذا لما كانت هذه زلة وفلتة نشأ بسببها شر كبير هلك فيه خلق كثير فإنا لله وإنا إليه راجعون.
Yang sungguh aneh bin ajaib adalah perbuatan mereka (maksudnya para fuqaha’) yang membai’at Ibnul Asy’ats sebagai Amirul Mukminin, padahal dia bukan berasal dari Quraisy. Dia hanyalah orang Arab dari suku Kindah asal Yaman. Padahal para sahabat telah ijma’ pada hari Saqifah, bahwa kepemimpinan haruslah dipegang oleh orang yg berasal dari suku Quraisy. Abu Bakar As Shiddiq bahkan berdalil dengan sebuah hadits ttg hal ini ketika mendebat keinginan mereka (orang-orang Anshar). Bahkan ketika kaum Anshar mengusulkan agar mereka juga memiliki Amir bersama Amir dari kalangan Muhajirin, Abu Bakar tetap menolaknya. Bahkan Abu Bakar lantas memukul Sa’ad bin Ubadah (tokoh Anshar) karena semula mengajak kaum Anshar untuk mengangkat pemimpin dari mereka, meskipun akhirnya ia rujuk. Sebagaimana yg telah kami jelaskan sblmnya.
Lantas, bagaimana kok mereka justru mencopot seorang khalifah (maksudnya Abdul Malik bin Marwan) yang telah dibai’at oleh kaum muslimin seluruhnya selama bertahun-tahun, dan melengserkannya, padahal dia adalah seorang Quraisy asli?? Kemudian mereka membai’at seseorang dari suku Kindah yang belum disepakati oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi (semacam wakil-wakil rakyat yg berhak mengangkat/mencopot pemimpin). Nah, karena kesalahan dan ketergelinciran para fuqaha’ tadilah, akhirnya timbul bencana dan kerusakan yang sangat besar, yang menewaskan banyak orang. Fa inna lillaahi wa inna ilaihi Raaji’uun (Al Bidayah wan Nihayah 9/66).

Simak pula perkataan Ibnu Hajar di akhir biografi Al Hasan bin Shalih bin Hayy, yg digolongkan sebagai Khawarij Qa’adiyyah, maksudnya khawarij yg tidak ikut memberontak secara langsung, namun memprovokasi orang lain untuk memberontak lewan perkataan dan sikapnya thd penguasa. Antum bisa baca biografinya dan bagaimana para tokoh Ahlussunnah yg sezaman dengannya menyikapinya. Contohnya Imam Sufyan Ats Tsauri yg demikian pedas dan keras dalam mengingkari sikap-sikapnya… dan masih banyak ulama lain yg bersikap spt itu dan mengatakan bahwa si Hasan ini (كان يرى السيف). Maka di akhir biografinya, Ibnu Hajar mengatakan:
تهذيب التهذيب (2/ 250):
وقولهم كان يرى السيف يعني كان يرى الخروج بالسيف على ائمة الجور وهذا مذهب للسلف قديم لكن استقر الامر على ترك ذلك لما رأوه قد افضى إلى أشد منه ففي وقعة الحرة ووقعة ابن الاشعث وغيرهما عظة لمن تدبر .
Mereka yg mengatakan (كان يرى السيف) maksudnya ialah bahwa si Hasan ini termasuk yang mendukung pemberontakan dengan senjata (pedang) terhadap penguasa-penguasa zhalim. Ini memang madzhab yang dahulu dianut oleh para salaf. Akan tetapi kemudian terjadi kesepakatan untuk meninggalkan cara tersebut
, setelah mereka menyaksikan akibatnya yang lebih buruk. Apa yg terjadi dlm tragedi Al Harrah, Ibnul Asy’ats dan lain-lain menjadi mau’izhah dan ‘ibrah bagi orang yang ingin mengambil pelajaran.

Nah, dari nukilan-nukilan tadi, jelaslah duduk perkaranya… bahwa pendapat yg membolehkan angkat senjata melawan penguasa zhalim adalah pendapat yg telah ditinggalkan, sehingga kita tidak boleh mengikutinya. Lagi pula, di zaman mereka yg membolehkan hal tsb, banyak pula ulama yg tidak sependapat dengan mereka. Contohnya Ibnu Umar dan Sa’ad bin Abi Waqqash yg menjauhkan dirinya dari fitnah dan tidak mau membai’at Ibnu Zubeir, tidak ikut memberontak bersama warga Madinah, dst… lalu di zaman Tabi’in kita mengenal Muhammad ibnul Hanafiyyah yg juga tidak mau berbai’at kpd Ibnuz Zubeir krn telah memba’iat Yazid, lalu Hasan Al Basri, dan berikutnya Sufyan Ats Tsauri, dll… dan disusul oleh Imam Ahmad bin Hambal. Kalaulah ini merupakan masalah khilafiyah di kalangan mereka, maka jelas bahwa mereka yg tidak khuruj (tidak berontak)-lah yg benar, karena akhirnya pendapat mereka-lah yang dipilih dan menjadi ijma’ ulama yg datang kemudian. Faham?

Tidak cukupkah dalil-dalil yg memerintahkan untuk taat kpd penguasa zhalim untuk mengharamkan pemberontakan? Tidak cukupkah akibat buruk yg dicatat oleh sejarah tersebab pemberontakan (yg dilakukan oleh sejumlah ulama) menjadi dalil bahwa cara ini sama sekali tidak membuahkan hasil yg baik? Itupun yg memimpin pemberontakan adalah para ulama yg tidak diragukan keshalihannya… lantas bagaimana kalau yg mimpin saja masih diragukan ‘nawaitu’-nya… tidak dikenal sbg orang baik, dan kalaupun dia orang baik maka kebaikannya jauh tak sebanding dengan para ulama tsb…??
Bahkan secara logika, kalaupun penguasanya jelas-jelas kafir dan rakyatnya lemah… maka membolehkan pemberontakan thd penguasa dlm kondisi ini sama dengan mati konyol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here