BENTENGILAH DENGAN KEADILAN !!

Sejumlah literatur sejarah meriwayatkan bahwa salah seorang gubernur yang diangkat oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis sepucuk surat kepada beliau. Tertulis dalam surat tersebut, ‘Amma ba’du… Sesungguhnya kota kami telah rusak. Apabila Amirul Mukminin berkenan, alangkah baiknya jika mengirimkan sejumlah uang kepada kami untuk merenovasinya.’ Maka Umar membalas surat tersebut dengan mengatakan, ‘Amma ba’du… Aku telah memahami suratmu dimana kau katakan bahwa kotamu telah rusak. Jika surat balasanku ini sampai kepadamu, maka bentengilah ia dengan keadilan dan bersihkan lorong-lorongnya dari kezhaliman. Demikianlah cara merenovasinya. Wassalaam. 1

 

Demi Allah, alangkah tepatnya perkataan Umar! Betapa banyak kita saksikan kota-kota dengan benteng kokoh yang mengelilinginya, akan tetapi itu semua tak mengelakkannya dari kehancuran. Sebab kota-kota tersebut tak dibentengi dari dalam dengan keadilan dan tak dibersihkan lorong-lorongnya dari kezhaliman.

 

Kezhaliman dan kesewenang-wenangan adalah faktor yang senantiasa melapukkan tiang-tiang dan mengeroposkan sendi-sendinya, sehingga bagaimana mungkin tembok yang mengelilinginya akan memberi manfaat dalam kondisi seperti ini. Padahal tembok tersebut tidaklah dibangun diatas ketakwaan dan keadilan… Allah berfirman,

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (At Taubah: 109)

 

Allah menyuruh kaum mukminin agar mengambil pelajaran dan ibrah dari peristiwa, musibah, maupun bencana yang terjadi di sekitar mereka. Allah berfirman yang artinya, ‘Maka ambillah pelajaran wahai ulil absar’ (Al Hasyr: 2) setelah mengatakan,

وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ

Mereka mengira bahwa benteng-benteng mereka akan melindungi mereka dari ketetapan Allah. Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka dan Allah campakkan rasa ketakutan dalam hati mereka sehingga mereka merusak rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan kaum mukminin… (Al Hasyr: 2).

 

Dengan mukaddimah singkat ini, kita jadi sadar akan pentingnya keadilan dalam menjaga eksistensi individu, masyarakat, bangsa, maupun negara. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Kezhaliman itu akibatnya mengerikan, sedangkan keadilan itu akibatnya menyenangkan.”

 

Beliau juga mengatakan, “Allah akan menjaga eksistensi negara yang adil meskipun kafir dan tidak menjaga eksistensi negara yang zhalim meskipun muslim.” Sebagaimana disebutkan bahwa, “Dunia akan langgeng dengan keadilan dalam kekufuran, namun tidak akan langgeng dengan kezhaliman dalam keislaman.2

 

Demikianlah Sunnatullah! Suatu negara menjadi tegak dan eksis karena tegaknya keadilan disana. Namun bila kezhaliman dibiarkan merajalela, maka negara tersebut bakal sirna dan hilang dari peta dunia. Sejumlah bencana dan kudeta yang melanda Tunisia, Mesir, Libya, Suriah, Yaman, dan Irak adalah buktinya !!

 

Tidak diragukan lagi: Bahwa setiap penguasa zhalim pasti akan tersingkir… atau kekuasaan mereka yang akan berakhir. Sedangkan pihak yang dizhalimi pasti akan menang atas izin Allah, cepat maupun lambat; di dunia ataupun di akhirat. Allah berfirman,

 

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari para saksi memberikan kesaksiannya (hari kiamat). (QS Ghafir: 51).

 

Allah juga berfirman,

إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah yang akan Dia wariskan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya. Dan akhir kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al A’raf: 128).

 

Allah juga berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin berbuat sombong maupun kerusakan di muka bumi, dan akhir kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al Qasas: 83).

 

Allah berjanji menolong pihak yang terzhalimi walau ia hidup dalam sebuah gubuk reot dan tak ada yang mengenalnya… walaupun ia seorang nenek tua renta yang tak memiliki daya, namun bila ia dizhalimi oleh orang yang paling berkuasa sekalipun, yang hidup dalam istana megah dengan pasukan yang gagah… Allah pasti akan menghancurkannya !

 

Imam Adz Dzahabi pernah menukil sebuah kisah dari Wahab bin Munabbih, katanya, ‘Ada seorang penguasa diktator yang membangun sebuah istana nan megah dan kokoh. Lalu datanglah seorang wanita tua yang fakir dan membangun gubuk reot di sebelah istana tersebut sebagai tempat bermalamnya. Suatu hari, si penguasa diktator berkeliling di sekitar istana dan melihat gubuk reot tersebut.

‘Milik siapa ini?’ Tanyanya.

‘Milik seorang wanita fakir. Ia bermalam disana’ jawab anak buahnya.

Si penguasa lantas memerintahkan agar gubuk tersebut dirobohkan. Setelah itu, datanglah si wanita fakir tadi dan menyaksikan gubuknya telah roboh. Ia bertanya, ‘Siapa yang merobohkannya?’ orang-orang menjawab, ‘Raja melihatnya, lalu memerintahkan agar merobohkannya’. Si Wanita lantas menatap ke langit dengan kedua tangan terangkat dan berkata, ‘Ya Allah, kalaulah ia dirobohkan saat aku tak berada di sana, namun dimanakah Engkau saat itu?’

Maka Allah memerintahkan Jibril untuk membalikkan istana Sang Raja beserta para penghuninya lalu Jibril membaliknya.3

 

Alangkah lemahnya pihak yang zhalim dan para pendukungnya itu, dan alangkah kuatnya keadilan dan pihak yang mendukungnya ! Seorang wanita tua cukup berdoa kepada Allah dengan hati yang pasrah dan penuh keikhlasan, lalu Allah yang Maha Perkasa mengijabahi doanya.

 

Kezhaliman itu bertingkat-tingkat dan tidak sama kadar kerusakan yang ditimbulkannya. Dikisahkan bahwa salah seorang Emir  di negeri maa waraa-an nahri yang bernama Nuh bin Asad, ketika hendak menarik upeti dari warga Samarkand, ia mengirim sepucuk surat kepada gubernurnya. Sang Gubernur lantas menghadirkan para imam masjid, masya-yikh, dan tokoh setempat, lantas ia membacakan surat tersebut. Usai mendengarnya, Abu Mansur Al Maturidi berkomentar kepada tukang pos yang membawa surat tersebut, “Engkau telah menyampaikan surat dari Emir, maka sampaikanlah jawaban ini kepadanya: ‘Tingkatkan kezhaliman terhadap kami, agar kami meningkatkan doa kami di malam hari!’” Lantas hadirin pun bubar dan selang beberapa hari kemudian, Emir Nuh bin Asad ditemukan tewas tertusuk tombak !!4

 

Yang lebih benar dari ini semua ialah sabda junjungan kita, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ketika Nabi mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan:

“Waspadailah doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah!”5

 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Khuzaimah bin Tsabit, Nabi bersabda, “Waspadailah doa yang yang terzhalimi, sebab ia dihantarkan oleh awan, dan Allah akan menjawab,

وعِزَّتِي وجلالي، لأنصُرَنَّك ولو بعد حين

Demi Keperkasaan dan Kemuliaan-Ku, Aku pasti menolongmu walau setelah beberapa waktu!” 6

 

Sedangkan dalam haditsnya Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Waspadailah doa orang yang terzhalimi, sebab ia akan naik ke langit bak bola api.”7 Artinya, ia demikian cepat dan besar pengaruhnya.

 

Hal ini berlaku terhadap setiap orang yang dizhalimi meskipun ia kafir ataupun durjana, Allah tetap akan mengijabahi doanya terhadap orang yang menzhaliminya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

دعوة المظلوم مُستجابة، وإن كان فاجرًا ففُجوره على نفسه

“Doanya orang yang terzhalimi itu mustajab. Kendatipun ia seorang yang bejat, kebejatannya ia tanggung sendiri.” 8

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Nabi bersabda,

اتَّقوا دعوة المظلوم، وإن كان كافرا؛ فإنَّه ليس دُونَها حجاب

“Waspadailah doa orang yang terzhalimi walaupun ia kafir, sebab doanya tidak terhalang oleh apapun.”9

 

Intinya, dunia tidak akan menjadi baik dan tetap eksis kecuali bila keadilan ditegakkan. Hanya dengan keadilan lah kehidupan dunia dan akhirat akan sejahtera. Dengan keadilan lah Allah dapat diibadahi tanpa dipersekutukan dengan apa pun. Dan tidak ada maksiat maupun kemusyrikan melainkan saat keadilan diganti oleh kezhaliman. Allah berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya kemusyrikan itu adalah kezhaliman yang sangat besar (QS Luqman: 13).

 

Selagi kemusyrikan masih merajalela di bumi pertiwi, maka pastilah kezhaliman demi kezhaliman datang silih berganti.

 

Apalagi jika kemusyrikan menjadi simbol kebanggaan bangsa dan negara…

lalu berbagai ritual syirik digalakkan demi meraup devisa…

Para pelakunya dimuliakan dengan dalih memelihara tradisi dan budaya…

Kuburan dikultuskan dan dipuja dimana-mana, baik oleh rakyat maupun penguasa…

Adalah sebuah paradoks luar biasa antara hakikat ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi dengan yang diamalkan oleh mereka yang mengaku sebagai ahli baitnya hari ini…

 

Di akhir hayat Rasulullah, beliau sempat sakit selama beberapa hari hingga akhirnya wafat. Ada suatu pesan luar biasa yang diulang-ulang oleh Rasulullah di akhir hayat beliau… Saya pribadi terhenyak luar biasa saat mendapatkan begitu banyak sahabat yang meriwayatkan pesan-pesan terakhir Rasulullah tadi…

 

Salah satunya adalah yang dituturkan oleh Ibunda Aisyah berikut,

أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ، وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أُولَئِكَ، إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ، فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ، أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Bahwasanya Ummu Habibah dan Ummu Salamah (keduanya adalah istri Nabi saw) menceritakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang keindahan gereja yang sempat mereka lihat di negeri Habasyah (Ethiopia). Di dalam gereja tersebut terdapat banyak gambar/lukisan. Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang Nashara), kalau ada orang shalih yang meninggal diantara mereka, mereka akan bangunkan tempat ibadah di atas kuburnya dan mereka hiasi dengan lukisan-lukisan tersebut. Mereka adalah sejelek-jelek manusia di sisi Allah pada hari kiamat !”10

 

Sama sekali Nabi tidak memuji ‘kebudayaan’ atau ‘karya arsitektur’ mereka… justru Nabi menganggapnya sebagai perbuatan manusia terjelek di sisi Allah!

Kapan beliau mengatakan hal tersebut? Saat beliau mulai sakit menjelang kematiannya… Ya, benar. Alasannya pun jelas sekali… beliau khawatir bila beliau meninggal nanti, kuburan beliau akan dikeramatkan oleh umatnya… sehingga mereka celaka sebagaimana celakanya umat-umat sebelum mereka.

 

Nabi tak hanya mengucapkannya di depan istri-istrinya. Namun juga di depan karib kerabat maupun sahabat beliau secara umum. Lafazh hadits ini juga diriwayatkan oleh sahabat Jundub yang mengisahkan,

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ، وَهُوَ يَقُولُ: «… أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ»

Aku mendengar Rasulullah berpesan lima hari sebelum beliau wafat: “… Ingatlah ! Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian biasa menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah ! Jangan kalian jadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Sesungguhnya aku melarang hal tersebut.”11

 

Simak pula bagaimana kesaksian sahabat Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah yang meriwayatkan bahwa,

آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَخْرِجُوا يَهُودَ أَهْلِ الْحِجَازِ، وَأَهْلِ نَجْرَانَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ “

“Ucapan terakhir yang disampaikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah, ‘Usirlah orang-orang Yahudi dari tanah Hijaz (Mekkah, Madinah, dan sekitarnya), dan usirlah warga Najran (Nashoro) dari Jazirah Arab, dan ketahuilah oleh kalian bahwa sejahat-jahat (sejelek-jelek) manusia ialah orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.’”12

 

Ummul Mukminin Aisyah dan sahabat Ibnu Abbas juga meriwayatkan,

لَمَّا نُزِلَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ: وَهُوَ كَذَلِكَ «لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» يُحَذِّرُ مِثْلَ مَا صَنَعُوا

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mulai sekarat, beliau meletakkan sehelai kain di atas wajahnya. Ketika napasnya mulai sesak, beliau menyingkapkan kain tersebut dari wajahnya lalu berkata –dalam kondisi seperti itu-: “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani! Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah!” Beliau mengucapkan kata-kata itu sebagai peringatan agar jangan mengikuti mereka.13

 

Subhaanallaah… sejak beberapa hari menjelang kematiannya hingga pada detik-detik terakhir beliau sekarat, beliau tak henti-hentinya memperingatkan masalah ini. Bahkan beliau menyempatkan untuk melaknat… subhaanallaah. Saya pribadi merenung dalam… mengapa pada detik-detik terakhir dari hayat beliau beliau tidak gunakan untuk melafazhkan dua kalimat syahadat atau bacaan-bacaan dzikir lainnya?? Mengapa justru mengucapkan laknat?

 

Mungkinkah pesan ini adalah pesan biasa sehingga harus dibarengi dengan laknat segala? Bahkah diulang-ulang sejak pertama beliau sakit hingga saat-saat sekarat… Bahkan diperkuat dengan menganggap para pengultus kuburan nabi dan orang shalih tadi sebagai manusia terjelek di sisi Allah pada hari kiamat?

 

Tidak lain tidak bukan ialah karena beliau memahami betul betapa mahalnya tauhid itu, sehingga semua yang menghalanginya menjadi murah dan harus dikorbankan dan dibasmi demi mempertahankannya…

 

Inilah warisan paling penting dari ajaran Rasulullah yang sangat difahami oleh para sahabatnya, termasuk ahli baitnya.

 

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan kepada kepala pasukan keamanannya yang bernama Abul Hayyaj Al Asadi,

أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

Maukah kamu kuutus dengan mengemban misi yang pernah diembankan Rasulullah kepadaku? Yaitu, “Jangan kau biarkan ada gambar-gambar/patung-patung melainkan kau hapus/hilangkan; dan jangan pula kau biarkan ada kuburan yang ditinggikan melainkan kau ratakan.”14

 

Dalam menjaga kemurnian tauhid dan akidah umat, semuanya layak dikorbankan. Lihatlah bagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khatthab menyikapi sebuah pohon yang dianggap kramat oleh masyarakat, karena diklaim sebagai pohon tempat terjadinya bai’atur ridhwan (baiat Nabi terhadap 1400 sahabatnya di Hudaibiyah untuk menuntut Musyrikin Quraisy yang diisukan telah membuhun Utsman bin Affan).

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dengan sanad yang dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, dari Nafi’ maula Ibnu Umar, katanya:

كَانَ النَّاسُ يَأْتُونَ الشَّجَرَةَ الَّتِي يُقَالُ لَهَا شَجَرَةُ الرِّضْوَانِ فَيُصَلُّونَ عِنْدَهَا. قَالَ: فَبَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فَأَوْعَدَهُمْ فِيهَا وَأَمَرَ بِهَا فَقُطِعَتْ.

Orang-orang sering mendatangi pohon yang dijuluki sebagai syajaratur ridhwan, lalu shalat di bawahnya. Kabar ini terdengar oleh Umar, maka Umar mengancam mereka dan memerintahkan agar pohon tersebut ditebang, hingga ia ditebang.15

 

Bukan hanya ‘pohon bersejarah’ yang ditebang oleh Umar karena dikhawatirkan menjadi ajang pengultusan dan merusak akidah tauhid masyarakat. Bahkan ada peristiwa lain yang cukup terkenal dan dinukil oleh sejarawan Islam terkenal, Al Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H), tentang peristiwa penemuan jasad Nabi Daniyal. Sebagaimana yang diceritakan oleh Yunus bin Bukair dari salah seorang tabi’in senior bernama Abul ‘Aliyah, katanya:

 

“Ketika kami menaklukkan kota Tustar16, kami mendapati pada harta kekayaan Hormuzan (panglima perang Persia) yang tersimpan dalam rumahnya, ada sebuah dipan yang di atasnya terbaring jasad seorang lelaki yang sudah mati, dan di dekat kepalanya ada sebuah mushaf. Maka kami ambil mushaf tersebut dan kami kirimkan ke Umar bin Khatthab. Umar lantas memangil Ka’ab Al Ahbar (mantan rahib yahudi yg masuk Islam) untuk menerjemahkan isinya ke dalam bahasa Arab. Dan aku (Abul ‘Aliyah) adalah orang Arab pertama yang membaca terjemahannya. Maka kubaca ia seperti aku membaca Al Qur’an ini.

Yunus bertanya, “Apa isinya?”

Abul ‘Aliyah menjawab, “Sejarah perjuangan kalian, kehidupan kalian, tutur kata kalian, serta apa yang akan terjadi di masa depan.”

“Lantas jasad lelaki tersebut kalian apakan?” Tanya Yunus.

“Kami menggali 13 liang kuburan yang terpencar-pencar di waktu siang, lalu di malam harinya kami kuburkan dia dan kami ratakan semua liang tadi dengan tanah untuk menghilangkan jejaknya dari orang-orang agar tidak dibongkar kembali !” jawab Abul ‘Aliyah.

Yunus bertanya, “Memangnya apa yang orang-orang harapkan dari lelaki tersebut?”

“Biasanya jika hujan tak kunjung turun, mereka mengeluarkan dipan lelaki tersebut hingga hujan pun turun kepada mereka.” Jawab Abul ‘Aliyah.

“Menurut kalian, siapakah lelaki itu?” tanya Yunus.

“Dia seorang lelaki bernama Daniyal.” Jawab Abul ‘Aliyah.

“Sejak berapa lama kalian mendapatinya telah wafat?” tanya Yunus lagi.

“Sejak 300-an tahun.” Jawab Abul ‘Aliyah.

“Tidak adakah yang berubah dari jenazahnya sedikit pun?” tanya Yunus lagi.

“Tidak. Kecuali beberapa helai ramput pada tengkuknya. Sesungguhnya jasad para nabi tidak akan dimakan tanah atau diterkam binatang buas.” Jawab Abul ‘Aliyah.

 

Kisah ini dituturkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Kitab Al Bidayah wan Nihayah dan beliau menshahihkan sanadnya.17

Kisah ini secara singkat juga disebutkan oleh Imam Ath Thabari dalam Tarikhnya, dan disebutkan disana bahwa penguburan tersebut atas perintah Umar bin Khatthab.18

 

Coba perhatikan bagaimana para tabi’in tadi dalam menjalankan instruksi Amirul Mukminin Umar bin Khatthab agar menguburkan ‘jasad seorang Nabi’ dengan cara yang tidak menyisakan jejak sedikit pun bagi para pengubur maupun orang lain yang berfikir untuk mencari kembali jasad tersebut.

 

Umar maupun para tabi’in tadi tidak sedikitpun mempertimbangkan keuntungan ekonomis di balik penemuan spektakuler tersebut… walaupun tentunya ia bisa saja memerintahkan agar jasadnya dikirim ke kota Madinah, lalu dia bangunkan museum yang dibuka untuk umum, dan pastilah akan banyak mendatangkan devisa bagi Negara ! bukan hanya di masa pemerintahannya, namun akan selama-lamanya, karena jasad nabi tidak akan lapuk.

Akan tetapi itu semua beliau kesampingkan, karena ada yang lebih mahal dari itu semua… yaitu tauhid masyarakat yang bakal terancam.

 

Sekarang, bandingkan dengan Indonesia yang ‘katanya’ adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia… bagaimanakah pemerintah maupun rakyatnya menyikapi masalah tauhid?

 

Ajaran tauhid dihalangi penyebarannya oleh ormas terbesar di Indonesia, para da’inya diintimidasi, kajian tauhid di sejumlah daerah dibubarkan secara paksa…

Mereka yang mendakwahkan tauhid dan mengajak manusia untuk tunduk kepada Allah Sang Pencipta malah dituduh radikal, fundamentalis, dan dimusuhi…

Sedangkan yang mengajak manusia untuk menghambakan diri kepada sesama manusia, membela liberalisme, sekularisme, dan LGBT justru dibilang nasionalis dan dipuji-puji…

Berbagai ajaran menyimpang diperjuangkan dan dilegalkan…

Ritual-ritual adat yang penuh kemusyrikan dan kekufuran dianggap sebagai warisan budaya yang wajib dilestarikan…

Kemudian tempat-tempat maksiat dan kemusyrikan difasilitasi dan dipelihara demi menggalakkan pariwisata dan meraup devisa…

 

Apakah setelah ini semua kita masih mengharap pertolongan dari Allah untuk bangsa dan negara ini??

Pantaskah setelah kezhaliman terbesar tadi (syirik), Allah memberi kita kedudukan yang mulia di dunia??

Ataukah justru yang terjadi sebaliknya…?

Kekayaan alam luar biasa yang dikandung oleh ibu pertiwi hanya menjadikan bangsa ini kuli di negeri sendiri… Kita mengeksploitasi hasil bumi untuk dijual dengan harga murah ke bangsa lain, lalu kita beli lagi dengan harga berlipat ganda…

Pajak mencekik, sembako melejit, ekonomi terpuruk, dan politik yang carut-marut hanyalah sebagian dari peringatan dan hukuman Allah terhadap bangsa ini… agar kita sadar siapakah sebenarnya yang zhalim disini? Dan bagaimana kita mengakhiri penderitaan ini?

 

Jawabnya ialah pada ayat berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96)

Andai penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, sehingga Kami azab mereka tersebab apa yang mereka perbuat. (Al A’raf: 96).

 

Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Wallaahu ta’ala a’lam.

 

Solo, 14 Dzul Hijjah 1440 H / 15 Agustus 2019 M

Al Faqir ilallaah,

Sofyan bin Fuad Baswedan

 

[Footnote]

  1. Lihat: Hilyatul Auliya’ 5/305 dan Tarikh Dimasyq 45/202.
  2. Lihat: Majmu’ Fatawa 28/63, 146.
  3. Al Kaba-ir, hal 107.
  4. Al Ithaafaatus Saniyyah bil Ahaadiitsul Qudsiyyah hal 52.
  5. HR. Al Bukhari no 2448 dan Muslim no 19.
  6. HR. At Thabrani dalam Al Kabir no 3718 dan dinyatakan hasan lighairih oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no 2230.
  7. HR. Al Hakim dalam Mustadraknya no 7753 dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no 2228.
  8. HR. Ahmad no 8577 dan dinyatakan hasan lighairih oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no 2229.
  9. HR. Ahmad no 12140 dan dinyatakan hasan lighairih oleh Al Albani dalam Shahihut Targhib no 2231.
  10. HR. Bukhari dalam Shahihnya no 427 dan Muslim dalam Shahihnya no 528.
  11. HR. Muslim dalam Shahihnya no 532.
  12. HR. Ahmad dalam Musnadnya no 1691 dan Ad Darimi dalam Sunan-nya no 2498 dengan sanad yang shahih.
  13. HR. Muslim dalam Shahihnya no 969.
  14. Lihat: Fathul Baari 3/180 dan 7/448. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath Thabaqat Al Kubro 2/76.
  15. Sebuah Benteng kuno terkenal di wilayah imperium Persia, tepatnya di provinsi Khuzestan, Iran.
  16. Al Bidayah wan Nihayah 2/48-49
  17. HR. Al Bukhari dalam Shahihnya no 435 dan Muslim dalam Shahihnya no 531.
  18. Lihat: Tarikh Ath Thabari 4/93.