Pertanyaan :
"Apakah jika saya duduk di tempat seperti tongkrongan, atau bioskop, atau acara stand-up, lalu pembicara bercanda yang mengarah kepada istihza’ (memperolok-olok agama), dan saya hanya membenci dalam hati dan tidak ikut tertawa namun tidak pergi dari sana? Karena biasanya hal tersebut hanya celetukan dan langsung berganti ke topik lain.
Apakah boleh saya untuk tetap di sana tanpa pengingkaran secara lisan maupun fisik?"

Jawaban :

Iya, barakallahu fiik. Tidak boleh itu dibiarkan seperti itu, karena diamnya anda itu tidak diketahui apakah anda mengingkari atau tidak. Sehingga orang-orang yang ada di sekeliling anda itu jadi tidak tahu bahwa apa yang diucapkan oleh si Fulan ini adalah bentuk istihza’.

Dia mungkin akan mengulangi kembali atau akan ditiru oleh yang lain. Apalagi jika anda adalah orang yang dijadikan sebagai panutan, maka anda harus menampakkan pengingkaran itu agar kemungkaran yang besar ini tidak menular ke orang yang lain.

????? ??????????? ???????? ?????? ????????? ??? ??????? ????????

”Jangan kamu duduk bersama mereka, (sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain)” (Q.S An-Nisa : 140)

Ya sudah, bangkit. Walaupun dia sudah beralih ke topik lain, tidak apa-apa, bangkit dulu, tinggalkan dulu.

“Loh, kamu ke mana?”
“Tadi dia melakukan penghinaan terhadap agama, saya tidak terima. Kalau dia tidak minta maaf dan bertobat, saya tidak akan duduk lagi di sini.”

Gitu. Jadi tidak cukup dia beralih topik. Dia beralih topik itu belum tentu dia menyesali kesalahannya yang fatal itu. Jadi biarkan orang itu tahu bahwasanya kita ini ada garis merah, ada batasan. Ini bukan mainan, ini bukan olok-olok. Ini sesuatu yang sakral.

Kalau seseorang menghina lambang negara bisa kena pidana, maka menghina agama itu kufur dan lebih berat lagi. Walaupun tidak ada hukuman di dunia, di sisi Allah jauh lebih berat.

????????????? ???????? ?????? ?????? ??????? ???????

”Engkau mengiranya remeh, padahal di sisi Allah itu besar sekali.” (Q.S An-Nur : 15)

Jadi tunjukkan loyalitas kita kepada diinullah (agama Allah), kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada ajaran Allah, tunjukkan. Dan bahwasanya kita siap memusuhi orang-orang yang melecehkan agama ini. Minimal dengan cara menjauhi dia, itu minimal. Kalau tetap anda bermajelis dengan dia, dia akan ulangi lagi besok. (Jika anda berpikir:) “Ah, sudah beralih topik, tetap aja di situ.” Ya sudah, akan jadi penyakit masyarakat nanti. Ya, Na’am.