Home

Ini Dalilnya (bantahan atas buku: ‘Mana Dalilnya 1’)

Mukaddimah Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamien... kami menyanjung-Nya, mengharap pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami

Syubhat-syubhat Seputar Demonstrasi
Bid’ah tidak sama dengan Mashalih Mursalah maupun Istihsan
Dahulu Aku Seorang Qubury (bag. 2)

Mukaddimah

mana dalilnya1 1Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamien… kami menyanjung-Nya, mengharap pertolongan dari-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Namun barangsiapa dibiarkan sesat oleh-Nya, maka tiada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya…. penghulu sekalian manusia dan pemimpin orang-orang bertakwa… semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepadanya, keluarganya, sahabatnya, dan setiap orang yang berpegang teguh dengan Sunnah-Nya…. aamien.

Amma ba’du,

Memang… saat ini kita hidup di zaman yang penuh fitnah[1]). Ada fitnah yang menyerang fisik, ada yang menyerang hati, dan ada pula yang menyerang pemikiran. Sebagian orang tenggelam dalam fitnah ini tanpa peduli… sebagian lagi tenggelam dengan sadar… dan sejumlah orang terjerumus ke dalamnya karena ikut-ikutan.

Orang yang hatinya hidup sampai-sampai heran terhadap apa yang dilihatnya. Wajah-wajah telah berubah, bukan lagi seperti yang dikenalnya dahulu… amal perbuatan tak lagi seperti yang diajarkan… dan akal fikiran pun tak lagi mendapat cahaya dari Allah ‘azza wa jalla.

Fitnah tersebut telah membaur dengan masyarakat dan demikian akrab dengan aktivitas mereka, hingga orang yang berada di atas kebenaran seakan terasing di tengah kaumnya.

Diantara fitnah yang paling berbahaya dan paling menyimpangkan manusia dari jalan yang lurus ialah; fitnah yang menghalangi perwujudan makna syahadatain; syahadat bahwa tiada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad saw adalah Rasul-Nya. Alangkah banyak orang yang menebarkan fitnah ini dengan sengaja, dan alangkah banyak orang yang termakan fitnah ini karena taklid buta (ikut-ikutan).

Fitnah semacam ini amat beragam bentuknya, dan semuanya terkumpul di zaman ini. Tak pernah ia terkumpul dalam suatu zaman seperti terkumpulnya di zaman ini… namun, alangkah sedikitnya orang yang faham tentangnya dan berjihad melawannya, padahal pengaruhnya telah sedemikian dahsyat!

Ada sementara kalangan yang bila ditanya tentang makna laa ilaha illallaah mengira bahwa maknanya: tiada pencipta selain Allah. Seakan-akan orang jahiliyah tempo dulu –yang kepadanya Allah mengutus para Rasul– menyatakan bahwa pencipta itu ada banyak, hingga Allah mengutus para Rasul-Nya untuk mengajarkan laa ilaha illallaah.

Padahal, masalah sebenarnya bukanlah karena mereka menganggap ada banyak pencipta, akan tetapi karena mereka menyembah banyak ilah. Karenanya Allah mengutus para Rasul dengan laa ilaha illallaah, yang maknanya persis seperti ucapan para Nabi ‘alaihimussalaam kepada kaumnya: “…Janganlah kalian beribadah (menyembah) kecuali kepada Allah” (Fushshilat: 14).

Makna Ibadah dalam bahasa Arab ialah ketundukan, kerendahan diri dan kekhusyu’an. Berbagai ritual ibadah disebut sebagai ‘ibadah’ ialah karena semuanya dilakukan dengan penuh rendah diri, tunduk dan khusyu’, yang nantinya mewariskan sikap tunduk terhadap Rabbul ‘Alamien atas setiap perintah dan larangan-Nya. Inilah makna ibadah yang difahami bangsa Arab lewat ucapan mereka, dan karena pemahaman inilah mereka tidak mau tunduk kepada laa ilaaha illallaah meski sekedar mengucapkannya!

Hari ini, jika anda perhatikan sikap sebagian orang, anda akan dapati bahwa ketundukan dan kekhusyu’an mereka tatkala berdiri di samping kubur, atau di area pemakaman, atau dalam perjalanan mereka untuk ziarah kubur, adalah lebih besar daripada ketundukan mereka saat berada dalam mesjid yang tidak ada kuburnya.

Di sekitar kubur tadi, anda akan dapati berbagai hal yang membatalkan makna tauhid uluhiyyah yang tak terhitung banyaknya. Entah dengan tawaf mengelilinginya, atau mengatakan: “Wahai Wali Allah, sembuhkan sakitku… hapuskan hutangku… dll. Mereka meyakini bahwa si penghuni kubur memiliki pengaruh di dunia, seakan Allah menyerahkan urusan ini kepada mereka.

Namun ada diantara mereka yang tidak meyakini demikian, tapi mengikuti golongan lain yang berbuat syirik dalam mendekatkan diri kepada Allah, yang nantinya menghantarkan mereka ke syirik akbar seperti sebelumnya. Mereka meminta pada si penghuni kubur agar memberikan syafa’at yang dengannya dosa mereka diampuni, rezeki mereka lancar, musibah yang mereka alami berakhir, dan mereka sembuh dari sakitnya. Mereka menyeru perantara-perantara tadi agar menjadi penghubung antara mereka dengan Allah dalam memenuhi hajat mereka. Seakan-akan Allah ‘azza wa jalla telah menutup pintu-Nya dan tidak lagi mengabulkan hajat dan doa mereka.. atau seakan-akan sikap mereka mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak akan memberi atau menolak sesuatu kecuali dengan perantara, dan ini jelas-jelas meremehkan kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.

Anda dapati bahwa mereka mendekatkan dirinya kepada si penghuni kubur dengan berbagai cara. Diantara mereka ada yang berkurban untuk si penghuni kubur dan ada pula yang tawaf mengelilinginya untuk mencari syafa’at.

Dua fenomena syirik akbar tadi sayangnya telah merajalela, laa haula walaa quwwata illa billaah…!! Banyak orang tertipu dengan hal ini, lebih-lebih mereka yang awam. Namun ada juga yang justeru memanfaatkannya sebagai peluang mengumpulkan kekayaan. Praktek semacam ini biasanya sangat laris di kalangan kaum sufi akibat terlalu banyaknya ahli ibadah yang bodoh di kalangan mereka. Akhirnya orang-orang bodoh ini mereka peralat untuk mencari kekayaan pribadi.

Fitnah ini semakin menyebar di kalangan kaum muslimin setelah abad ke-5 H. Pengaruhnya semakin ganas dan meluas, hingga nyaris tak tersisa satu kota pun yang selamat darinya. Di manapun dan kapan pun manusia-manusia itu berada, maka tiap kali diantara mereka ada yang wafat segeralah mereka dirikan kubah/bangunan diatas kuburnya, lalu lokasinya dijadikan tempat ziarah… alias tempat orang mencari syafa’at dan minta-minta.

Kuburan semakin banyak, seiring dengan semakin banyaknya ‘oleh-oleh’ yang dipersembahkan oleh para peziarah… hingga makin banyak pula orang yang tertarik menjadi juru kunci dan mengambil manfaat dari ini semua.

Memang… harta adalah fitnah, sebagaimana pamor dan kekuasaan merupakan fitnah. Mereka yang alergi dengan dakwah tauhid ingin supaya orang-orang selalu mengagungkan mereka. Entah dengan mencium tangan, mengusap-usap pakaian, atau dengan menundukkan ucapan dan anggota badan dihadapan mereka.

Kondisi kaum muslimin hari ini memang terlalu panjang untuk dikisahkan… akan tetapi, intinya tersimpulkan dalam penggalan cerita berikut…

Ketika berada di suatu kota di Afrika, kami [2]) berdebat dengan salah seorang ulama besar yang terjerumus dalam fitnah ini. Ia menghasung orang-orang untuk mengangungkan kuburan beserta para juru kuncinya. Lantas, dimanakah arti ibadah kepada Allah? Bagaimana pula dengan pemahaman akan dua kalimat syahadat?? Dengan enteng orang ini menjawab: “Aku tahu bahwa Anda berada diatas kebenaran, namun… biarlah mereka mencari penghidupan!

Inilah kenyataannya…

Jadi, masalahnya bukan bagaimana memperjuangkan kebenaran dengan dalil-dalilnya, akan tetapi bagaimana mempertahankan pengaruh spiritual, pamor, pengagungan, nama harum, dan kekayaan. Mereka lantas mencari-cari dalil demi melegitimasi perbuatan mereka, walau dengan hadits-hadits palsu atau sekedar akal-akalan.

Menjaga pamor dan kehormatan adalah kunci utama para penjaja bid’ah. Pamor dan kehormatan tadi mereka lestarikan secara turun temurun agar anak cucu mereka kelak menjadi orang kaya dan terpandang. Kalau ada diantara mereka yang binasa, segeralah mereka menjadikan kuburnya sebagai pusara besar yang menjadi tambatan hati para pengikutnya. Dengan demikian, generasi penerusnya akan semakin kaya, terkenal dan disegani.

Di belahan bumi manapun yang disana terdapat pemuja kubur, rata-rata ada sekelompok orang yang tetap berjalan sesuai petunjuk Nabi saw. Mereka tidak silau dengan kekuasaan, tidak pula terpengaruh dengan berbagai syubhat. Mereka adalah orang-orang yang terasing dan dikucilkan di banyak tempat. Mereka mengajak manusia kepada sunnah dan membimbing mereka kepada tauhid. Mereka berusaha menuntun hati manusia agar mengagungkan Allah semata, serta hanya takut dan berharap kepada-Nya. Mereka tidak mengaitkan hati kecuali dengan Penciptanya, bukan dengan ciptaan-Nya. Mereka mencintai karena Allah, membenci karena-Nya dan tidak menyembah selain Dia. Jiwa dan raga mereka selalu tercurah dalam rangka menyeru manusia untuk mengesakan Allah dalam setiap ibadah, baik ibadah jiwa maupun raga.

Mereka dijuluki oleh musuh-musuhnya sebagai wahhabi atau muslim fundamentalis. Musuh-musuh mereka cukup giat dalam menyebarkan buku-buku yang kontradiksi dengan misi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab [3]). Mereka membuat berbagai macam kedustaan atas beliau dan para pengikutnya. Ada yang menuduh beliau mengkafirkan kaum muslimin, mengingkari karamah para wali, bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau tidak mengakui kerasulan Rasulullah Muhammad saw.

Metode yang mereka gunakan pun bermacam-macam, sesuai dengan tempat buku-buku tersebut disebarkan. Di beberapa daerah mereka menentang secara terus terang, namun di daerah lain mereka menentang secara sembunyi-sembunyi dengan berbagai kamuflase. Akan tetapi, perang yang mereka lancarkan pada hakikatnya sama saja. Jalan yang mereka lalui adalah jalan lama yang banyak dilalui orang… di kanan kiri jalan tersebut berdiri dai-dai mereka, hingga jika salah satunya berteriak maka semua ikut berteriak menyambutnya.

Di Indonesia, ironisnya fitnah ini justeru disebarkan oleh sebagian mereka yang ‘mengaku’ sebagai ahlul bait (anak cucu Nabi saw) [4]). Salah seorang dari mereka bahkan telah menulis beberapa buku demi melestarikannya. Ia hendak membentuk opini bahwa berbagai ritual keagamaan yang mereka lakukan selama ini bukanlah bid’ah dan syirik, namun justeru dianjurkan dalam Islam.

Cara yang dia tempuh sebenarnya bukan cara ilmiah –sebagaimana yang tersirat dalam judulnya–, namun tak lebih dari sebuah cara yang tujuannya mendukung setiap penyeru kebatilan di manapun mereka berada. Ia menggunakan seribu satu jurus untuk melegitimasi berbagai kebatilan tersebut, meskipun dengan memelintir nash-nash Al Qur’an dan Hadits sesuai keinginannya, atau menamainya dengan bid’ah hasanah, atau mengumpulkan berbagai perkataan ‘ulama’ yang sesuai dengan seleranya meski bertentangan dengan dalil, atau berdalil dengan hadits-hadits yang dho’if bahkan palsu, yang penting mendukung pendapatnya.

Dalam buku Mana Dalilnya 1, si penulis nampaknya memang ahli memutarbalikkan fakta. Tak sekedar mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, ia bahkan menjadikan yang haq tadi sebagai syubhat yang harus dibantah habis-habisan karena tidak sesuai dengan tarekat-nya. Langkah pertama yang dia lakukan ialah ‘meluruskan’ (baca: memelintir) pengertian bid’ah. Maklum saja, sebab memang tidak ada tarekat sufi yang bersih dari bid’ah. Di mana ada tarekat, disitulah sarang bid’ah dan khurafat.[5]

Buku yang merupakan ungkapan dari keyakinan penulisnya ini memang sarat dengan penyimpangan dalam masalah tauhid. Ia membela bid’ah mati-matian, dan membuka berbagai pintu syirik dengan keyakinan bahwa hal tersebut tidak dilarang, bahkan dianjurkan!!

Kemungkaran besar ini tentunya tidak boleh didiamkan, sebab itu kami memohon pertolongan kepada Allah dalam menjelaskan yang haq dan membongkar kebatilan mereka. Semoga lembaran-lembaran ini diterima di sisi-Nya sebagai amal shaleh, dan semoga Dia menjadikannya bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.[6]


[1]) Yang dimaksud dengan fitnah ialah cobaan, musibah, bencana, azab, dan apapun yang berdampak negatif bagi manusia.

[2]) Yang bercerita di sini adalah Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alus Syaikh, yang sekarang menjabat Menteri Urusan Agama Saudi Arabia.

[3])Berangkat dari sini, maka julukan wahhabi yang ditujukan kepada pengikut beliau adalah keliru dari segi lafazh dan maknanya. Dari segi lafazh, mestinya orang yang mengikuti beliau dijuluki Muhammadi bukan wahhabi, karena nama beliau adalah Muhammad dan nama ayahnya Abdul Wahhab, sedangkan Wahhab adalah salah satu nama Allah. Adapun dari segi makna, julukan tadi seakan mengisyaratkan bahwa beliau mengajarkan ajaran baru yang berbeda dari ajaran Islam, padahal siapa pun yang membaca kitab-kitab beliau secara obyektif dan independen, pasti mendapati bahwa beliau tidak membawa ajaran baru, namun sekedar berusaha mengembalikan kaum muslimin kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman As Salafus Shaleh. Sebagai bukti, silakan saudara baca kitab beliau yang paling monumental: Kitab Tauhid, yang tiada lain isinya adalah ayat Al Qur’an, Hadits Nabi saw. dan ucapan para ulama.

[4]) Kami tidaklah mengingkari keutamaan mereka (kalaulah mereka memang tergolong ahlul bait). Namun yang kami ingkari ialah sikap dari mayoritas haba-ib tadi yang justeru bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw., yang notabene adalah penghulu ahlul bait itu sendiri. Kalau Rasulullah saw. menghabiskan umur beliau demi menegakkan tauhid (memurnikan ibadah kepada Allah), mereka justeru acapkali mengajarkan pengikutnya untuk tabarruk dengan ‘orang shaleh’, menyemarakkan kuburan, tawassul dengan orang mati, dan berbagai pintu syirik lainnya.

Ironis memang, tatkala misi utama Rasulullah saw. di kemudian hari justeru digagalkan oleh mereka yang ‘mengaku’ sebagai anak-cucu beliau…! Sungguh demi Allah, seandainya mereka memperjuangkan dakwah tauhid ini, niscaya kami akan mencintai mereka lebih dari yang lainnya, pertama karena cinta kami terhadap sesama muslim, dan kedua karena kedekatan nasab mereka terhadap orang yang paling kami cintai, yaitu Baginda Rasulullah saw. .

[5]) Perlu diketahui bahwa berkembangnya bid’ah khurafat di kalangan mereka ialah sejak leluhur mereka yang dijuluki Al Faqieh Al Muqaddam (574-651 H) menganut ajaran tasawuf dan menyebarkannya di Hadramaut, Yaman Selatan. Padahal sebelumnya –sejak As Sayyid Ahmad bin ‘Isa Al Muhajir rahimahullah (leluhur mereka yang pertama kali singgah di Hadramaut, wafat sekitar abad 4 H)– mereka adalah tokoh-tokoh Ahlussunnah dan orang-orang shalih yang berjalan sesuai dengan manhaj sahabat. Sangat disesalkan mengapa mereka tidak meneladani leluhur mereka sebelum Al Faqieh Al Muqaddam yang bersih dari bid’ah & khurafat? Bukankah generasi pertama mereka lebih mulia dan lebih pantas untuk diikuti dari pada yang belakangan? (lihat: Tahqiequl Farqi bainal ‘Aamil Bi’ilmihi wa Ghairihi, hal 25-26 (footnote), oleh ‘Allaamah wa Mufti Hadhramaut; As Sayyid Abdurrahman bin ‘Ubeidillah Assaqqaf (w. 1375 H), tahqiq & ta’liq: As Sayyid ‘Alawi bin Abdul Qadir Assaqqaf, cet.1, 1426/2005). Kesufian Al Faqieh Al Muqaddam diakui sendiri oleh Novel Alaydrus dalam bukunya: Jalan Nan Lurus, Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi; hal 97-112.

[6]) Disadur dari mukaddimah kitab: Haadzihi Mafaahimuna, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Aalu Syaikh dengan beberapa penyesuaian.

Newer Post

COMMENTS

WORDPRESS: 134
  • comment-avatar

    Assalamu alaikum saudaraku,
    mhon maaf sebelumnya,sebagai orang yang awam saya hanya ingin mengingatkan,sebagai sesama muslim harus bukan.Perpecahan diantara umat islam adalah asumber yang menjadi malapetaka disetiap jaman,sesama muslim saling menghujat,mengeluarkan dalil dan sebagainya.Yang di untungkan siapa?
    *jwbnya:Orang kapir dan kaum orientalis,lihatlah runtuhnya irak,afganistan,dll.mereka diadu domba dengan politik devide et impera,dari sebelum dan pada awal 19 kaum orientalis berbondong-bondong memepelajari agama islam.tujuannya apa?
    ingin masuk islam?
    ataukah ingin menjujung islam?
    *jwb:NO
    mereka ingin menghancurkan islam dari dalam,seperti vanderflash dan konconya.
    Kalau ingin membahas ini cukup untuk kalangan diri sendiri sahaja tidak usah disebar luaskan,kalau lah pemikiran anda benar,misalnya anda sudah menghapal Al-Qur’an,menguasai ilmu nahwu,sorop,ilmu hadist,menghafal ratusan juta hadist,menguasai ilmu fiqih,Tauhid,ijma para ulama,dan lainnya.Mungkin anda bisa mengeluasrkan pendapat seenaknya yang langsung dikonsumsi publik.Tapi kalu lah pendapat anda keliru dan sesat,maka naudzubillah dholum mudholim,sudah sesat menyesatkan.maka dosa orang yang mengikuti pendapat anda,akan ditanggung dunia akhiratnya oleh anda.
    Karena saya ragu dijaman sekarang masih ada muslim yang menghapal ratusan juta hadist,dan menguasai ilmu agama yang lengkap seperti para imam yang 4 madzhab.
    apallagi kalau rujukan anda kepada madzhab mutazillah yang diciptakan imam ibnu taimiyah,ulama yang kontroversial dan nyeleneh pendapatnya dengan zumhur para ulama waktu itu sampai sekarang.
    mohon dikaji ulang tulisanya,supaya anda tidak ikut dalam
    pemecah belahan umat,yang tentunya sangat disukai orang kaum orientalis,orang kapir,orang munafik,orang fasik,dan musuh islam lainya..
    jazakumullohu khoiron katsiron
    wassalam
    Al-fakir asep hasan nudin

    • comment-avatar

      Alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh,
      Alhamdulillah, saya senang menerima kritikan seperti ini, dan saya akan terima dengan lapang dada setiap kritikan yang BERDASAR KEPADA DALIL, bukan yang penuh subyektivitas.
      Ala kulli haal, anda telah mengakui bahwa anda orang awam, alhamdulillaah kalau begitu… saya jadi memaklumi adanya banyak kesalahan –yang sebagiannya cukup fatal—dalam kritikan anda ini, kesalahan-kesalahan tersebut ialah:
      1. Anda seakan menuduh saya menghujat penulis buku: Mana Dalilnya… okelah, saya ingin bertanya: Mana yang lebih jelek: menghujat Nabi ataukah menghujat orang seperti Novel Alaydrus? Tentu menghujat Nabi bukan, nah kalau dia menganggap adanya bid’ah hasanah, berarti dia telah menghujat sabda Nabi yang mengatakan: “kullu bid’atin Dholaalah”.
      2. Anda mengatakan bahwa pembahasan ini cukup untuk kalangan sendiri dan tidak usah disebarluaskan… Maaf bung, yang mulai siapa? Siapa yang menanyakan dalilnya? Bukankah saya hanya menjawab pertanyaan? Lagi pula buku Mana Dalilnya telah dicetak belasan kali dalam setahun dan tersebar luas, dan entah berapa ribu orang yang telah disesatkan oleh isinya… kalau buku itu untuk kalangan sendiri, saya bisa memaklumi, karena saya juga orang solo, bahkan sekecamatan dengan penulisnya, jadi saya lebih tahu.
      3. Anda seakan mensyaratkan bahwa orang yang hendak berpendapat dalam agama harus menghafal Qur’an,ratusan juta hadits, ilmu nahwu,sharaf, dst… Wah, apa ya ada orang seperti itu? Anda telah membikin syarat yang nyeleneh yang tidak ada seorang pun bisa memenuhinya, dan saya yakin 1000 persen bahwa Imam yg 4 pun tidak ada yg hafal RATUSAN JUTA HADITS, spt yg anda katakan… (Jumlah nash hadits yg ada paling-paling 50 ribu kata Imam Suyuthi, tapi barangkali yg anda maksudkan adalah hadits2 bohong dan palsu yg sering dipakai oleh kaum Sufi macam Novel Alaydrus, ya mungkin saja kalau itu yang anda maksudkan…).
      Salah besar jika anda mengatakan bahwa seseorang yg telah menghafal Al Qur’an, ratusan juta hadits, dst bisa berpendapat seenaknya…TIDAK ADA YG BERHAK BERPENDAPAT SEENAKNYA DALAM AGAMA, SIAPA PUN DIA!!
      4. Anda menuduh saya merujuk kepada mazhab mu’tazilah. Wah, berarti anda dong yang main hujat? Apa buktinya saya merujuk kepada mazhab mu’tazilah? Apa yg anda ketahui ttg mazhab mu’tazilah?
      5. Anda mengatakan bahwa mazhab mu’tazilah diciptakan oleh Ibnu Taimiyyah. Wah, bodoh sekali anda ini… mazhab tsb sudah ada ratusan tahun sebelum Ibnu Taimiyyah lahir, ini menunjukkan bahwa anda bicara tanpa ilmu alias ‘Asbun’. Dan anda telah menuduh seorang ulama besar dengan tuduhan keji, Anda harus segera bertaubat atau Ibnu Taimiyyah kelak menuntut Anda di hadapan Allah nanti!!
      6. Anda menuduh Ibnu Taimiyyah sebagai ulama kontroversial dan nyeleneh pendapatnya dengan zumhur (yg benar Jumhur) ulama pd waktu itu. Lho, katanya anda orang awam, kok bisa-bisanya mengatakan Beliau yang ulama besar telah bersikap kotroversial dan nyeleneh, Anda tahu dari mana? Orang awam sebaiknya diam saja, jangan sembarangan berbicara agar tidak diketawain karena semakin banyak bicara semakin nampak kebodohannya…
      7. Anda menyuruh saya mengkaji ulang tulisan ini. Kenapa? Kalau ada yang salah silakan jelaskan dengan dalil-dalilnya… Alhamdulillah saya tidak merasa telah menyesatkan siapa pun, saya hanya membela sunnah Nabi dan berusaha membersihkannya dari bid’ah-bid’ah sesuai ilmu yang saya miliki. Bukankah penulis buku “Mana Dalilnya” juga perlu mengkaji ulang tulisannya? Lantas mengapa anda tidak menyuruhnya terlebih dahulu, bukankah dia yang memulai?
      8. Yang memecah belah umat ialah ahlul bid’ah, bukan ahlussunnah wal jama’ah. Kalaulah ada seorang yang mengaku ahlussunnah lantas mengajarkan kekeliruan, maka ia harus dibantah demi kebaikan dirinya dan orang lain. Saya menulis bantahan ini ialah agar yang bersangkutan mengoreksi kesalahannya dan kembali kepada kebenaran, dan agar orang-orang tidak mengikutinya, sehingga dengan demikian dosa si penulis tidak bertambah karena menyesatkan makin banyak orang lewat bukunya.
      Demikian, mohon ma’af bila kata-kata saya kurang berkenan, karena saya hanya bermaksud mengingatkan Anda agar bersikap ilmiah dan sopan dalam menyampaikan pendapat.
      Wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh…

  • comment-avatar
    Nazar Oi 10 years ago

    Assalamualaikum wr wb,

    Lebih baik antum sowan ke rumah Ust.Novel,apalagi satu daerah,satu kota dan satu kecamatan pula.bisa minta klarifikasi lebih detail kenapa beliau keluarkan buku tsb ?? tentunya beliau bukan org bodoh yg berani mengeluarkan sebuah karya tanpa didasari dengan ilmu.seperti antum berani mengeluarkan bantahan, tentunya ada dasar ilmu.kalaupun beliau mengeluarkan buku yg penuh kontroversi atau menyesatkan, tentunya dari awal buku tsb muncul sudah banyak protes dari masyarakat dan juga banyak mendapat hujatan.semoga kita semua bisa mendapatkan kebenaran yang hak,bukan pembenaran.

    Wassalam

    • comment-avatar

      Alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh. Alhamdulillah dan terima kasih atas sarannya. Sekarang saya sedang berada di Luar Negeri, tapi saya sempat menulis nasehat untuk sdr. Novel… bukan berkaitan dgn buku yg ditulisnya, tapi dengan masalah yg lebih besar dari itu, yaitu masalah syirik dan tauhid. Memang saya kira dia bukan orang bodoh, tapi bukan juga orang pintar… apa yg ditulisnya sebagian besar hanyalah fotokopi dari kitab ‘gurunya’ yg bernama Muh. Alawi Al Maliki, yg sarat dengan kerancuan dan pemahaman yg keliru (ini kalau memakai bahasa yg halus, tapi kalau ingin blak-blakan, ya boleh dibilang sarat dengan kesesatan!)
      kalau Anda mengatakan bahwa bila sebuah buku yg penuh kontroversi dan menyesatkan mestinya banyak diprotes oleh masyarakat, maka itu bukanlah suatu standar yg baku untuk menilai sebuah buku… sebab mayoritas masyarakat adalah orang awam, atau mereka yang dibesarkan dilingkungan yang tidak mengenal kecuali apa yg diajarkan oleh Sdr. Novel dan yang sepertinya. Jadi, bagi mereka yang benar ya hanya itu… karena mereka tidak tahu kecuali yang begitu-begitu… nah, bagaimana orang-orang seperti ini hendak memprotes sesuatu yg mereka warisi turun-temurun dari nenek moyang, dan para kyai/habaib mereka?
      Ukuran kebenaran dan kebatilan bukanlah ada atau tidaknya protes dari masyarakat, karena sikap masyarakat bukanlah dalil. kebenaran diukur dari kekuatan dalil yang disampaikan oleh yang membawanya… dan saya rasa anda sepakat dengan saya dalam hal ini.
      Masalah membantah kesalahan bukanlah masalah baru, hal ini telah dilakukan oleh para ulama sejak dahulu hingga sekarang… justeru dengan menjelaskan kekeliruan sdr.Novel, saya telah berbuat baik kepadanya, karena dengan diketahuinya kekeliruan tsb orang-orang akan berpikir dua kali untuk taklid kepadanya dalam kekeliruan (kebatilan) tsb, dengan demikian, dosa yg ditanggung sdr. Novel ‘diharapkan’ akan berkurang…
      Ttg sowan ke rumah Sdr. Novel untuk mengetahui kenapa beliau keluarkan buku itu, tentunya setiap orang yang berani mengutarakan pendapatnya di depan umum, baik secara lisan maupun tulisan, berarti telah siap untuk dikritik oleh pihak lain… apa pun hakikat yang dia sampaikan, baik itu hak maupun batil. Bukankah Rasulullah saja dikritik, dihujat, dicaci maki dan dimusuhi karena apa yang disampaikannya? padahal beliau hanyalah menyampaikan kebenaran mutlak 100 %, lantas bagaimana jika yang disampaikan kebenarannya tidak mutlak, atau malah banyak salahnya? Apa ya harus ditanya kenapa anda mengatakan seperti itu baru dia boleh dikritik? Intinya, kalau takut dikritik ya ga usah ceramah dan nulis buku, apalagi yg sarat dengan kerancuan seperti itu…
      Bantahan ini tidak akan saya cabut kecuali jika Sdr. Novel bersedia menarik kembali seluruh bukunya dari pasaran dan menyatakan taubat secara terang-terangan dari semua kesalahan yang dia tulis dalam bukunya. SEbab Allah berfirman yang artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, memperbaiki kesalahan mereka, dan menjelaskan (kesalahan tsb), maka mereka lah orang-orang yang Aku terima taubatnya, dan sesungguhnya Aku adalah Maha penerima taubat dan maha penyayang” (Al Baqarah: 160).
      Demikian penjelasan dari saya, semoga bermanfaat. wassalaam

  • comment-avatar
    Ali Muhammad Torif 10 years ago

    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

    Seperti kita ketahui bersama, bahwa perbedaan pendapat di antara kita umat Islam sudah merupakan Sunnatullah. Dan sampai menjelang kiamat pun hal tersebut akan terus terjadi. Setiap pendapat pasti ada yang mendukung dan ada yang menentang dengan disertai dalil masing-masing. Golongan yang satu tak akan dapat memaksakan pendapatnya pada golongan yang lainnya. Saya yakin penulis buku tersebut bertujuan menjelaskan masalah yang diuraikan dalam buku tersebut kepada orang-orang yang sepemahaman dengan penulis.

    adapun bagi yang tidak sepemahaman dengan penulis, buku tersebut bisa di jadikan penambah wawasan tentang keberagaman umat Islam.

    Alangkah baiknya jika membahas hal-hal yang bersifat perbedaan pendapat seperti ini dilakukan dalam forum khusus bahtsul masa’il dan tabayyun dengan yang bersangkutan secara langsung.

    Hal tersebut akan menghindarkan timbulnya fitnah dan bencana yang lain yaitu makin lebarnya jurang pemisah diantara kita sesama umat Islam.

    Sekedar mengingatkan kembali, dari pada kita sesama umat Islam saling menyerang dengan hal-hal khilafiah yang sampai menjelang kiamat tak kan ada habisnya ini,
    akan lebih baik kita menyatukan kekuatan untuk bangkit melawan kedholiman yang di lakukan oleh orang-orang nonmuslim pada saudara-saudara kita di seluruh belahan dunia ini.

    Akhir kata, semoga Allah memenangkan kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Amin.

    Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    • comment-avatar

      wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh… saya ucapkan terima kasih kpd saudara Ali atas saran dan niat baiknya, hanya saja ada beberapa hal yg perlu diluruskan dari komentar saudara di atas:
      Saudara menganggap bahwa masalah maulid Nabi adalah masalah khilafiyah yg tidak perlu diperdebatkan kecuali dlm forum khusus bahtsul masa’il… saya katakan: Kalau memang khilaf dalam masalah ini adalah khilaf yang mu’tabar, artinya masalah ini adalah hasil ijtihad yang sah dari kalangan para salaf (tiga generasi pertama umat islam), maka saya ok-ok aja dan tidak akan berkomentar… tapi tahukah Anda bahwa perayaan Maulid Nabi BARU TERJADI DI ABAD 6 H, tepatnya di masa Daulah ‘Ubeidiyyah yang bermadzhab syi’ah itu? Dan tahukah saudara bahwa perayaan maulid yg ada penuh dengan bid’ah2 lain yang sebagiannya sampai ke tingkat mengultuskan Rasulullah, memuji beliau dengan kelewat batas, dan berbagai kemungkaran lainnya??! Jadi, jelas sekali bahwa ini bukan masalah khilafiyah yang mu’tabar… alias yang khilaf (menimbulkan perselisihan) dalam hal ini adalah mereka yg mengadakannya, bukan kami yang mengingkarinya… sebab mereka menimbulkan ajaran dan tata cara baru dalam agama yang sebelumnya tidak ada… oleh karenanya mereka sendiri mengakui bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah (barangkali saudara belum baca buku: Mana Dalilnya 2 yg tegas-tegas menyebutnya sebagai bid’ah) hanya saja demi melegitimasi bid’ah tsb mereka tambahkan embel2 ‘hasanah’… padahal Nabi jelas2 mengatakan bahwa semua bid’ah adalah ‘dholaalah’ (SESAT). Jadi, mereka lah yang keliru dan harus disalahkan karena telah menodai kemurnian ajaran Islam dan secara tidak langsung menyalahkan sabda Nabi yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat, sadar atau tidak sadar dan diakui atau tidak, itulah hakikatnya…
      kemudian, saudara menghendaki agar masalah ini dibahas dlm forum tertutup… dst. Pertanyaannya: Apakah perayaan maulid nabi baru wacana yang belum diterapkan, ataukah telah mendarah daging dan semakin marak dari tahun ke tahun?? Kalau lah baru sekedar wacana, maka kami tidak akan mengingkari dengan cara seperti ini, tapi kenyataannya sebaliknya… ia sudah menjadi semacam keharusan bagi mereka, bahkan saya diberi tahu oleh teman yang tinggal di daerah condet Jakarta Timur, dan ia berasal dari keluarga yang sejak kecil dididik untuk mengagungkan haba-ib dan mengikuti ajaran mereka, ia mengatakan kepada saya bhw tiap kali warga kampungnya hendak merayakan maulid, ia selalu ditodong untuk memberi sumbangan minimal 1 JUTA, dan jika tidak maka bisa digebukin oleh mereka… ini baru satu dari ribuan kasus yang terungkap. Jadi, mereka tidak sekedar memberi wawasan, namun ada udang di balik batu… ini hanya langkah awal untuk menjaga pamor mereka (haba-ib) di tengah-tengah masyarakat… setahap demi setahap mereka akan terus menanamkan ajaran bid’ah tersebut sehingga siapa yang tidak mau mengikuti akan dikucilkan, atau dicap tidak cinta Rasul… jadi, kita harus ikut-ikutan orang Nashara yang merayakan Natal !?!
      Jika saudara memandang bahwa lebih baik kita bersatu melawan orang-orang non muslim yang mendholimi kaum muslimin, maka saya katakan: sejarah mencatat bahwa perlawanan terbaik kaum muslimin terhadap musuhnya ialah di masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan awal-awal kekhilafahan Utsman… yakni ketika kaum muslimin masih bersatu dalam akidah dan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah… namun di akhir masa Utsman mulai timbul bid’ah pertama, yaitu bid’ah kaum khowarij, kemudian terus bermunculan bid’ah2 lain seperti syi’ah, mu’tazilah, jahmiyah dsb hingga pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib praktis tidak terjadi perlawanan terhadap musuh kafir, dan tidak ada satu negeri kafir pun yang berhasil dikuasai karena beliau sibuk memerangi musuh dalam selimut, yaitu ahli bid’ah dari kalangan khowarij dan syi’ah… pertanyaannya: Apakah sikap Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu ini keliru? atau justeru beliau melakukan langkah yang sangat tepat?
      Jika saudara membaca sejarah, maka saudara akan dapati bahwa sumber kelemahan umat islam ialah karena banyaknya bid’ah-bid’ah yang meracuni umat, baik dalam hal akidah maupun ibadah… oleh karenanya, kekuatan umat islam barulah pulih di masa Mu’awiyah setelah kaum muslimin bersatu kembali, dan demikian seterusnya sampai di masa khalifah al ma’mun yg menganut akidah mu’tazilah (bid’ah), hingga mulailah perselisihan internal menggerogoti umat islam dan mereka melemah kembali, demikianlah sunnatullah… jadi masalah sesungguhnya bukanlah adanya perselisihan di tubuh umat, namun bagaimana kita memberantas bid’ah2 yang merupakan sebab utama munculnya perselisihan. dan kita tidak bisa membiarkan setiap orang untuk bebas berpendapat dalam agama, lalu membikin suatu ajaran yg diklaim sebagai bid’ah hasanah dan dianggap sebagai masalah khilafiyah yg tidak perlu diingkari… jika demikian maka bisa dibayangkan apa jadinya agama ini? tentu akan kacau balau dan tercampur aduk antara yg sunnah dan bid’ah.. dan ini adalah musibah yg jauh lebih besar dari pada kaum muslimin kalah menghadapi musuhnya. karena musibah yg pertama menimpa agama mereka sedangkan musibah yg kedua hanya menimpa diri mereka… demikian, semoga Anda mendapat pencerahan…

  • comment-avatar
    abuya al-khawarizmi 10 years ago

    Kebenaran itu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Walaupun anda menyatakan bahwa kebenaran anda adalah berdasar dalil, namun dalil tersebut juga bisa multitafsir. Kalau menurut saya tidak ada kebenaran hakiki di dunia ini. Ust Novel menjelaskan dalam buku tsb adalah agar masyarakat mengetahui alasan kenapa para ulama’ terdahulu melakukan hal tsb. Ust Novel lebih mending menjlentrehkan dalil2nya, lha kalau anda? Kebenaran hakiki itu ada di akhirat, kalau memang anda yg benar dan ust Novel salah pasti nanti terlihat. Gak perlu ngeyel kayak gitu…untuk mendukung buku mana dalilnya, anda bisa membaca buku Fiqih Tradisionalis karya KH. Muhyiddin Abdushshomad (ketua PCNU Jember) bahkan beliau bersedia didatangkan untuk didatangkan berdebat (sebagai pertanggungjawaban atas buku yg ditulisnya).

    • comment-avatar

      Hmm… ma’af bung, anda nampaknya orang bingung? atau oknum JIL yang berbaju muslim karena mengatakan bahwa kebenaran tidak ada yg hakiki kecuali di akhirat… (INI KUFUR LHO !!) NT yakin ga’ kalo Rasulullah itu bener? Yakin Al Qur’an bener? Al Qur’an dan Rasulullah yg ada di dunia ini kebenarannya hakiki atau nisbi? Afwan, kalo nt masih syak nt segera ulangi syahadat nt dan bertaubat sebelum mati (Innamal mukminunalladzina aamanu billaahi wa rasuulihi ,TSUMMA lam yartaabuu…).

      Ana pernah baca tuh fiqih tradisionalis… ga’ ilmiyah dan hanya mencari legitimasi terhadap praktek keberagamaan NU yg mengikuti ajaran leluhur, bukan mengikuti sunnah sebagaimana pemahaman salafus shalih…

      Mana bukti yg shahih dan sharih bahwa para salaf pernah mengadakan maulid nabi spt yg kalian lakukan, kalau memang maulid itu sesuatu yang baik?

      Novel sendiri mengakui bahwa Maulid adalah Bid’ah, tapi dia menyifatinya dengan kata: “Bid’ah Hasanah”, yg berarti mengoreksi sabda Nabi yg mengatakan bahwa kullu bid’ah dholaalah, dan ini sdh ana bantah panjang lebar di tulisan ana…

      tentu yg mengatakan bahwa semua BID’AH (ingat ya, Bid’ah !) adalah sesat, adalah lebih benar sudut pandangnya dan penafsirannya dari pada yg mengatakan sebaliknya, karena mereka sesuai dengan penafsiran Nabi…

      Tapi kalau Nabi masih diragukan kebenarannya, ya monggo aja… saya siap bermubahalah dalam hal ini ! Anda Siap?

  • comment-avatar
    ahmad rifki almubarrok 10 years ago

    Apakah anda yang menulis “karangan” sudah hafal lebih dari 1000000 hadist???? bahkan bagi saya orang seperti anda lebih bodoh dari babi, orang barziarah ke makam wali dikatakan syrik. saya percaya bahwa orang-orang teroris itu orang orang mirip anda. tahukah anda? golongan seperti anda itu telah membunuh sebagian besar ulama di makkah, golongan seperti anda bak seorang musuh dalam selimut muslim. solo terkenal dengan orang-orang seperti anda, tapi saya tidak. sebelah rumah saya ada masjid, dulu ketika babi-babi seperti anda belum besar di solo, ayah saya berjuang menghentikan kristenisasi di daerah saya. tetapi sekarang setelah kristenisasi mulai berkurang hingga sudah tidak ada, babi-babi seperti anda baru keluar. ingatlah!! golongan seperti anda itu dibayar inggris untuk memecah belah kaum muslimin. camkan itu!!!!!

    • comment-avatar

      Jazakallah khair…semoga Allah menghapus kejahilanmu, memperbaiki lisanmu, dan memberi hidayah kepadamu. Anda saya ma’afkan…

    • comment-avatar
      tommi 10 years ago

      @ahmad rifki almubarrok,

      Nama yg bagus tp tidak dengan mulutnya. Spt ini nih contoh muridnya org2 yg “hapal 1jt hadits”, ga bisa jaga mulut dari mengeluarkan kata2 kotor.

      Allahul Musta’an

    • comment-avatar

      Qul haatuu burhanakum inkuntum shodiqiin! Katakanlah: Datangkanlah bukti-bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar..

      nah, datangkan buktinya golongan yang anda bilang itu dibayar Inggris..

  • comment-avatar
    ahmad rifki almubarrok 10 years ago

    Allah berfirman : ‘Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115). dan kau dan aliranmulah yang dimaksud.

    • comment-avatar

      Joko Sembung main angklung, ente gemblung ndak nyambung, tau?

      • comment-avatar
        PembelaMaulidNabi 8 years ago

        Waduh…,begini cara dakwah anda, BID’AH itu, cara dakwah Rosululloh gak kasar kayak gitu…masyaAllah…

        • comment-avatar
          Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

          Halus atau kasar itu relatif akhi… patokannya apa dan siapa dulu yang menilai? Bukankah Allah sendiri menyerupakan orang-orang yang diberi ayat-ayat dariNya, lalu meninggalkan ayat-ayat tsb dan mengikuti hawa nafsunya serta mendustakan ayat-ayat Allah sebagai ANJING yg selalu menjulurkan lidahnya? (Al A’raf: 175-176). Apa antum berani mengatakan bahwa cara seperti ini adalah KASAR?? padahal Allah menyifati dirinya sebagai Al Lathieful Khabier??

  • comment-avatar
    Jimmy 10 years ago

    saya sependapat dengan Abu Hudzaifah Al Atsary, memang kebanyakan orang mengikuti agama nenek moyang dan sudah melupakan sunnah

  • comment-avatar

    sadarlah wahai saudaraku yang seiman bijaklah dalam berpendapat cernalah dlm mengartikan ilmu bukan dg hawa nafsu yaitu melalui otaknya/akal pikirnya coba berpikir dengan ilmunya para sahabat yang sudah jelas allohu ta’ala beri jaminan masuk surga. nah…apakah yang sudah jelas itu masih saja mau kita ingkari ajarannya. Apakah kita masih mau membuat ilmu baru yang tidak ada contohnya dari rosululloh yang telah jelas allohu ta’ala katakan dalam firman-Nya “pada hari ini telah -Ku sempurnakan agama-Ku… ” jd agama islam sudah sempurna tidak perlu ditambah2. dan saudara kita tadi mengatakan bahwa “melawan kedholiman oleh org2 non muslim” kalau boleh saya katakan kedholiman yang paling besar adalah syirik kepada allohu ta’ala bagaimanakita bisa mengatakan bahwa islam dapat menang sedangkan kesyirikan terjadi dimana contohya saja banyak orang yang masih mendatangkan org pinter entah itu ustadz/kyai(menurut meraka) yang mampu mengobati orang sakit dan sampai keluar ucapan “orang ini terkena gangguan jin” dan masih banyak lagi yang lainnya. Kita bisa katakan lebih pinter mana guru kita atau rosululloh sedangkan rosululloh tdk tau yang ghoib kalaulah rosululloh tau yang ghoib tentulah dalam perperangan beliau tidak akan kalah dan tidak akan berdarah2 dan juga tau bila makanannya diberi racun, mungkin itu saja semoga allohuma yahdi kepada saudara kita.

  • comment-avatar

    saya teringat akan ceramah K.h.munir asli
    saya sangat senang masih ada segelintir orang seperti anda,yang berdedikasi keras untuk mempelajari agama…namun jangan sampai energi anda dimanfaatkan oleh orang orientalist untuk memecah belah umat.kalau belajar harus dari sumber yang benar,saya yakin anda belajar dari kitab putih(kitab terjemahan),bukanlah kitab kuning.sebelum mengeluarkan pendapat ada bagusnya belajar kitab ahlakul banin,sampaikan yang baik dengan baik.
    anda sudah merasa yakin kemampuan anda dapat melebihi habib zindan,dan para imam yang empat.
    kenapa harus banyak hapal hadist dan hapal Al-qur’an bagi seorang mujtahid?
    jawabanny gampang saudaraku,kiasnya begini:” jika anda mau kasih tahu arah ke monas anda harus tahu dulu peta jakarta,jalan2nya…kalau belum hapal jalan jakarta dah menunjukan orang..itu namanya menyesatkan orang!!!”.
    >sekarang saya tanya apakah anda hapal Al’qur’an?
    >berapa hadist yang anda hapal?lebih dari 3000 hadist kah?
    >dapatkah anda membaca kitab gundul?

    jawab dengan hati yang jujur,itulah jawaban buat anda…
    jika masih kurang puas,dan mau baca kitab putih yang gampang dicerna,silahkan anda baca dahulu kitab putih( alias hurup latin) “40 MASALAH AGAMA” karangan kh.sirajudin abbbas..cetakan pertama.
    disana sudah dibahas dengan gamlang lengkap dengan dalilnya,baik mengenai faham ibnu taimiyah,fahamm wahabiyah..baik tentang bid’ah hasanah.
    logikanya kalu bid’ah semuanya dolalah(sesat),kenapa ada ustadz seperti anda main internet,ngeblog,padahal khan g ada dijaman rasulnya….
    baca yasin,ziarah kubur,tahlilan koq di bid’ah in…mf ya
    semoga Alloh menunjukan kepada anda bahwa yang benar itu benar dan bathil itu bathil…
    saya bicara seperti ini karena percayalah saya menyayangi anda ,jangan sampai energi anda terbuang sia-sia tidak pada tempatnya….
    maaf ya…
    Jazakumulloh
    al-fakir asep

    • comment-avatar

      Terima Kasih mas Asep atas komentarnya… Perlu saya jelaskan beberapa hal di bawah:
      1.Saya sangat bisa baca arab gundul atau kitab kuning, bahkan bicara bahasa Arab dengan fasih dan lancar pun bisa… minimal lebih bisa dari Anda lah…
      2. Saya sama sekali tidak merasa lebih pandai ijtihad dari Imam yg Empat. Itu tuduhan yg tidak berdasar sama sekali… apa buktinya saya punya keyakinan spt itu?
      3. Syarat yg anda tentukan (Hafal Al Qur’an & 3000 hadits) itu apa dasarnya bung? Imam Abu Hanifah saja tidak hafal sampai 3000 hadits… saya kuliah di jurusan hadits bung, jadi tahu persis bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan dan dihafal Imam Abu Hanifah ga nyampe segitu… separuhnya pun tidak!! Itu bid’ah bung, kalo gitu, semua habib di Indo ga ada yg alim (menurut kriteria anda sendiri lho!), krn saya yakin ga ada yg hafal 3000 hadits… tanya saja ama mereka !
      3. Yang bilang semua bid’ah itu dholalah kan Rasul tercinta… saya cuma ikut kanjeng Nabi, dan percaya sama sabda kanjeng Nabi… saya ga percaya sama Novel dll yg bilang bhw tidak smua bid’ah itu dholalah, siapa pun orangnya…
      4. Kalau ingin diskusi baca dulu argumen lawan dengan baik dan benar… yg bilang ngeblog itu bid’ah siapa? kan Anda, bukan saya… Tidak ada seorang alim pun yg faham apa maksud dari bid’ah yg berkata seperti itu… Itu berarti anda tidak faham apa itu bid’ah… Bid’ah yg dholalah ialah yg kaitannya dengan agama, dengan mengadakan cara baru dlm beribadah kepada Allah. Bedakan antara cara beribadah dengan sarana ibadah. kalo orang berdzikir dgn mengadakan tahlilan, shalawatan, dan semisalnya, itu namanya berdzikir dengan cara baru yg tidak diajarkan Kanjeng Nabi… itulah bid’ah yg dholalah. tp kalo ente makan pake sendok, garpu, haji naik pesawat, dakwah lewat internet.. itu hanya sarana, ga ada ulama yg menggolongkannya dalam bid’ah yg dholalah. jadi jgn dicampur adukkan.
      Saya lebih kenal ttg ibnu Taimiyyah dan orang yg dinamakan wahhabi drpd Kyai Sirajuddin Abbas, karena beliau menulis ttg ibnu Taimiyyah dalam posisi sebagai lawan, bagaimana saya harus mempelajari ibnu Taimiyyah dari tulisan lawan beliau? Itu ga obyektif namanya… saya alhamdulillah punya puluhan jilid buku2 ibnu taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab… ga perlu baca kata orang lain ttg mereka saya bisa menyimpulkan sendiri kok… saya justru kasihan dgn anda yg hanya mengambil ilmu dari haba-ib dan kyai-kyai yg sepaham dgn mereka… lalu mengikuti apa ucapan mereka tanpa verifikasi, padahal buku2 ibnu taimiyyah mudah di dapat, demikian pula buku Muhammad bin ABdul Wahhab…
      5. Memecah belah itu bagaimana pengertiannya, mohon dijelaskan! lengkap dengan dalil-dalilnya… sebab Nabi Muhammad dulu juga dituduh begitu oleh musuhnya… Nabi Musa juga dituduh begitu oleh Fir’aun (baca dlm surat Ghafir).
      Saya tunggu bung Asep penjelasannya yg ilmiah ttg apa yg saya tanyakan. sekitan, wassalaam…
      O iya, sampaikan salam ke Habib Zindan, dan katakan bahwa saya mencintai para haba-ib lebih dari orang lain SELAMA mereka berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para salaf.

  • comment-avatar
    KHOUJAH 10 years ago

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    sekarang banyak orang ingin mendalami agama islam dengan konsepnya “kembali ke Al-Qur’an dan sunnah” malah membuat orang awam tak mau lagi taklid kepada ulama salaf mereka cenderung mengikuti ulama khalaf yang mengusung paham dari ibnu taymiyah. karena dangkalnya ilmu pengetahuan agama yang mereka miliki mereka kemudian berijtihad sendiri-sendiri, inilah fitnah akhir zaman tak selamanya kebenaran terlihat kebenaran dan kesalahan terlihat kesalahan.

    saya hanya memberi tahu mengenai syarat orang yang berfatwa dan berijtihad, jika salah satunya tak terpenuhi marilah kita bertaqlid kepada 4 imam madzhab dan ulama2 yang mengikuti keempatnya dan jelas keshohihannya bukan kepada ulama-ulama yang tidak bermadzhab.

    syarat berijtihad dan berfatwa:
    1. memiliki kemampuan untuk menggali hukum dari Alqur’an. yaitu harus paham ayat2 yang berkaitan dengan hukum: asbabun-nuzul, nasikh mansukh, mujmal-mubayyan, al’am wal khash, muhkam mutasybih dsb.
    2. memiliki ilmu yang luas tentang hadits nabi terutama tentang asbabul wurud, rijalul hadits,dsb
    3. menguasai persoalan-persoaln yang telah disepakati ulama (ijma)
    4. mamahami qiyas serta dapat menmenggunakannya dalam menghasilkan sebuah hukum
    5. menguasai bahasa arab dan gramatikanya secara mendalam: nahwu, sharf, balaghah dan lain sebagainya serta menguasai kaidah2 ushul fiqh
    6. menghayati tujuan utama pemberlakuan hukum islam.
    7. mempunyai metodologi yang dapat dibenarkan menghasilkan keputusan hukum.
    8. mempunyai akidah dan niat yang benar (Muhammad Abu Zahrah, Ushul fiqh hal 380-389

    sekarang jika kita jujur pada diri kita masing-masing sudahkah syarat2 tersebut terpenuhi, marilah kita bertaqlid, janganlah kita menyibukkan diri mencari dalil2 dan berfatwa kepada masyarakt banyak, karena memang kita tidak diperkenanakan untuk berfatwa semabarangan tanpa syarat2 diatas. syarat2 diatas merupakan ijma’ dari para ulama terdahulu, hanya ulama’2 zaman akhir ini yang tidak lagi menghiraukan syarat2 diatas, sehinggan masing2 orang awam tidak lagi mengikuti madzhab, malah mencari dalil-dalil menurut ijtihad mereka sendiri, apa kau stuju dengan pendapatku, saudaraku?

    • comment-avatar

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh. Jazakallaahu khairan atas nasehat dan komentarnya… dan terima kasih karena Anda telah berkomentar dengan baik dan sopan. Kalau boleh menanggapi, saya katakan bahwa Konsep tersebut benar jika al-Qur’an & Sunnah-nya difahami menurut pemahaman salafus shalih. Taklid boleh-boleh saja bagi orang awam yg tidak mengerti dalil, tapi itu sesuatu yg tidak dianjurkan bagi pencari ilmu. Yang benar ialah kita belajar kepada para ulama tapi tidak taklid kepada mereka, yg kita ikuti adalah dalil. Siapa saja yg lebih kuat dalilnya, maka itulah yg paling berhak diikuti. Justru fitnah akhir zaman ini makin parah karena banyaknya orang awam (bahkan santri) yg taklid buta kpd kyai, habib, ustad, syaikh dan guru mereka (dan semuanya adalah khalaf)…

      Ibnu Taimiyyah tidak mengusung faham baru… beliau hanya berijtihad dan memang beliau sangat mumpuni untuk berijtihad (kedalaman ilmu, kekuatan hafalan, dan keshalihan beliau telah diakui oleh Imam Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar Al Asqalani, dan banyak ulama lainnya. Baca aja kitab: Al Uquudud Durriyyah Min Manaqibi Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah karya Imam Ibnu Abdil Hadi; lihat pula Ad Durarul Kaaminah 1/168-186 karya Ibn Hajar). Bahkan Adz Dzahabi menyebutkannya sebagai mujtahid, demikian pula As Subki yg membantah ibn Taimiyyah, ketika ditegur oleh Adz Dzahabi ia pun mengakui bhw Ibn Taimiyyah adalah ahli tafsir, alim, zuhud, dst yg jarang ditemui sejak zaman dahulu hingga zaman ini… baca aja sendiri pernyataan as Subki tadi dlm Ad Durarul kaaminah 1/186 cet. Da-irotul Ma’arif al-Utsmaniyyah.

      Makin banyak ulama-ulama besar yg membantahnya, menunjukkan bhw Ibn Taimiyyah demikian hebat dan tegar memegangi keyakinannya, sekaligus demikian mendalam ilmunya. Meski saya menghargai pendapat sebagian dari mereka yg membantah Ibnu Taimiyyah, tapi sayangnya banyak dari mereka yg tidak jujur dlm membantah, atau salah faham dalam memahami perkataan ibn Taimiyyah; shg akhirnya menuduh beliau sebagai Mujassim, Kafir, dsb… Na’udzubillah.

      Kalau betul Ibnu Taimiyyah membawa pemahaman sesat, maka tolong tunjukkan di mana kesesatan beliau? Dan apa dalil mereka yg mengatakan demikian? Dan sudahkah anda membaca jawaban Ibnu Taimiyyah atas tuduhan tsb? Bukankah dalam menghakimi seseorang kita tidak boleh mendengar dakwaan sepihak tanpa mendengar pembelaan pihak lain? Ataukah kita boleh main hakim sendiri dalam hal ini, dan mengkafirkan atau menganggap sesat ulama besar seperti Ibn Taimiyyah karena taklid?

      Saya sepakat dengan anda bahwa syarat-syarat ijtihad memang berat… tapi ingat, itu untuk siapa bung? Itu kan untuk mujtahid mutlak… bukan mujtahid dlm madzhab ttt atau mujtahid di bidang ttt… ijtihad bila dilakukan oleh orang yg tepat dan sesuai aturan adalah tindakan terpuji, dan saya tidak mengatakan bahwa saya telah mencapai tingkatan ‘mujtahid’… saya hanya penuntut ilmu yg berusaha mencari kebenaran lewat dalil-dalil yg ada dan sesuai dgn metodologi yg digariskan dlm ilmu-ilmu agama; spt ilmu fiqih, usul fiqih, tafsir, hadits, dll. Saya tidak bisa lepas dari bimbingan para ulama dlm hal ini… tapi sekali lagi saya tidak akan taklid kecuali dlm kondisi terpaksa (ga ada dalil, atau ga memahami masalah)… Alias selama dalilnya jelas dan kuat, maka itulah yg saya ikuti… dan saya rasa anda tidak menyalahkan saya dlm hal ini, bukankah demikian?

      Saya setuju bahwa masalah fatwa memang bukan mainan, dan tidak sembarangan orang boleh berfatwa dlm masalah agama.

      Jika anda mengajak orang untuk taklid, apakah itu berlaku untuk semua orang? Kalau iya, siapakah ulama yg anda calonkan? Kan ulama banyak jumlahnya, dan pendapat mereka beda-beda… madzhab mereka juga beda-beda… bahkan banyak dari mereka yg punya madzhab sendiri, spt Imam Sufyan ats Tsauri, Al Auzai, Laits bin Sa’ad, Hasan al Bashri, dan buaaaanyak lagi lainnya yg madzhabnya bukan Syafi’I, hambali, hanafi, maupun maliki. Terus siapa yg kita ikuti?
      Inilah masalahnya… kalau kita taklid kepada orang-perorang tadi, ya kita akan bingung karena pendapat orang macam-macam dan semuanya alim… orang yg taklid tidak boleh menyalahkan orang lain yg tidak sepaham, karena dia bukan orang alim tapi sekedar ikut-ikutan… tapi kalau dia punya dalil yg kuat, silakan dia sampaikan dan diskusikan, supaya jelas siapa yg lebih kuat dalilnya dan lebih dekat kepada kebenaran… itulah maksud saya dengan tulisan dan bantahan ini…

      Anda melarang saya mencari dalil-dalil dan berfatwa? Waduh… maaf mas, anda ngajari saya untuk bodo terus kalo gitu… jadi yg diikuti itu sabda Nabi dan firman Allah, atau pendapat si fulan dan si fulan? Kalau kita tahu suatu masalah dengan dalilnya, dan kita ditanya orang ttg masalah itu: bagaimana menurut Anda?
      Kalo saya sih manut aja sama perintah Rasulullah yg mengatakan:
      من كتم علما وهو يعلمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار
      Siapa yg menyembunyikan ilmu yg diketahuinya, maka dia akan dikekang dengan api pada hari kiamat (lihat takhrijnya di kitab Al Maqashidul Hasanah, karya as Sakhawi).

      Saya tidak berani memvonis bahwa ada ‘ulama’ yg menghiraukan syarat-syarat ijtihad di atas, mungkin itu oknum yg berbaju ulama, spt Sdr. Novel Alaydrus misalnya… (saya berani bilang begitu setelah membuktikan sendiri betapa kacaunya cara dia berdalil…).

      Ala kulli haal… saya tidak pernah mengajak orang untuk taklid kpd Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan ulama-ulama lainnya SECARA MUTLAK, tapi, saya mengajak para penuntut ilmu agar mempelajari ilmu dari sumber aslinya, dan melalui bimbingan para ulama tersebut, tanpa taklid buta kepada salah seorang dari mereka… kalau ada pendapat Ibnu Taimiyyah yg keliru ya tidak boleh diikuti, karena beliau tidak maksum… demikian pula dgn ulama lainnya… intinya, mana yg dalilnya lebih kuat, itulah yg diikuti. Tapi bg yg awam ya silakan untuk taklid kepada orang yg dianggapnya alim dan shalih. Itu saja bung… maaf kalau tanggapannya terlalu panjang.

  • comment-avatar
    khoujah 10 years ago

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    terimakasih telah menjawab tulisan saya, namun kali ini saya akan mengungkapkan pendapat saya berdasarkan fakta dan argumentasi yang telah saya terima dari ulama2 kami. mengenai taubatnya ibnu taymiyyah dari paham yang keliru.

    Syeikhul Islam Imam Al-Hafiz As-Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqolany yang hebat dalam ilmu hadith dan merupakan ulama hadith yang siqah dan pakar dalam segala ilmu hadith dan merupakan pengarang kitab syarah Sohih Bukhari berjudul Fathul Bari beliau telah menyatakan kisah taubat Ibnu taymiah ini serta tidak menafikan kesahihannya dan ibnu taymiyyah diakui olehnya sendiri dalam kitab beliau berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi ‘ayan Al-Miaah As-Saminah yanh disebutkan oleh panjenengan.
    Kenyatan bertaubatnya Ibnu Taimiah dari akidah yang keliru tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama sezaman dengan Ibnu Taimiah iaitu Imam As-Syeikh Syihabud Din An-Nuwairy wafat 733H.

    saya akan mencuplikan perkataan ulama yaitu
    Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juz 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab yang menyatakan kisah taubat Ibnu Taimiah

    Terjemahannya berkata Imam Nuwairy seperti yang dinyatakan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany : ” Dan aku bersaksi bahwa Ibnu Taimiah telah bertaubat kepada Allah dari akidah yang keliru pada empat masalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taymiah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat dari akidah keliru yang pernah dia pegangi dahulu)”.

    karena kisah taubat ibnu taymiyyah tersebut banyak ulama memujinya, jujur sayapun benar-benar memujinya berikut…
    ULAMA-ULAMA YANG MENYATAKAN DAN MENYAKSIKAN KISAH TAUBATNYA IBNU TAIMIAH.

    1. Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juz 1 hal. 148
    2. Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juz 32 hal. 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab yang menyatakan kisah taubat Ibnu Taimiah.
    3. As-Syeikh Ibnu Al-Mu’allim wafat tahun 725H dalam kitab Najmul Muhtadi Wa Rojmul Mu’tadi cetakan Paris nom 638.
    4. As-Syeikh Ad-Dawadai wafat selepas 736H dalam kitab Kanzu Ad-Durar – Al0Jam’-239.
    5. As-Syeikh Taghry Bardy Al-Hanafi bermazhab Hanafiyah wafat 874H dalam Al-Minha As-Sofi hal. 576 dan beliau juga menyatakn sama seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya yang lain berjudul An-Nujum Az-Zahirah Al-Jami’ 580.

    kalau anda berkenan membantu masyrakat dalam hal ini, boleh anda mencuplikan pendapat-pendapat ulama tersebut di atas dalam situs yang mengajak kebenaran ini.

    kemudian tolong ijinkan saya bertawassul dengan perantara kecintaan saya pada ulama di atas dan tentunya kecintaan saya dengan ibnu taymiyyah yang telah bertaubat dan bermadzhab hambali.

    • comment-avatar

      Wa’alaikumussalaam… Saya heran juga dengan anda bung, masa Ibnu Taimiyyah tobat dari aqidah yg benar, padahal kitab-kitab yg beliau tulis demikian banyak, dan tak satupun yg menunjukkan bahwa beliau tobat dari akidah yg benar tsb (yg menurut anda salah tentunya). Bahkan kisah taubat ini diingkari oleh sebagian musuhnya, contohnya bisa anda baca di link berikut (saya kasih arabnya nih!): http://www.nokhbah.net/vb/showthread.php?t=861

      Adapun bagi pecinta Ibn Taimiyyah dan orang-orang yg lebih mengenal siapa Ibnu Taimiyyah, maka kisah tsb ibarat legenda ‘Gunung Tangkuban Perahu’, atau ‘Maling Kundang’ dan semisalnya… alias dongeng belaka yg tidak terbukti keabsahannya. Apalagi yg menukil kisah itu adalah orang-orang Asy’ari yg tidak sepaham dgn Ibn Taimiyyah… dalam metodologi bahtsul ilmi ini ga bisa diterima bung, kalo mau menisbatkan sesuatu kpd seseorang ya harus dinukil dari perkataan orang tsb dlm kitab yg diakui sebagai tulisannya, atau dari perkataan murid-muridnya… tidak bisa dengan menukil perkataan musuhnya. Masa’ anda tidak tahu metodologi spt ini?

      Baiklah bung, silakan baca tanggapan Ahlussunnah As Salafiyyah, (bukan Asy’ariyah) thd kisah yg ‘menggelikan’ tsb di sini: http://majles.alukah.net/showthread.php?t=14260

      Ma’af, saya tidak mau mencuplikkan kisah khurafat ttg taubatnya Ibnu Taimiyyah demi restu masyarakat, saya khawatir jika kelak Ibn Taimiyyah menuntut saya dihadapan Allah karena berbohong atas diri beliau…

  • comment-avatar
    khoujah 10 years ago

    kali ini saya akan menjelaskan mengenai fiqh madzhaby yaitu pengambilan hukum berdasarkan pendakatan ulama2 imam madzhab. dan sering disebut sebagai istinbath dengan pendekatan madzhaby. berkembangnya empat madzhab ini bukan oleh semangat taqlid membabai buta, melainkan karena kebenaran dan manfaatnya telah teruji. apa njenengan percaya kalo ibnu hajar, imam ghozali, jaluddin as-suyuthi, jaluddin al mahalli, imam nawawi, sulthonul auliya’ Al izzuddin abdussalam, dan imam bukhori serta imam asy’ari yang berjuang melawan dominasi mu’tazilah adalh ulama bermadzhab syafi’i. dan tentu saja ibnu taymiyyah merupakan ulama beramadzhab hambali. apa anda percaya? saya hanya ingin kejujuran anda.

    dan saya akan menjelaskan tingkatan mujtahid yang melakukan pendekatan madzhabiy, jadi ulama-ulama yang mengikuti imam madzhab menggali dan menetapkan hukum suatu masalah agama dengan berorientasi pada madzhab fiqh yang dibatasi pada fiqh empat madzhab dan menggunakan metodologi madzhabnya. jadi maksud saya menjelaskan ini adalah jika kita mengikuti 4 madzhab kita tidak keluar dari mayoritas pendapat ulama’ulama tersebut. namun bayangkan jika orang-orang yang belajar agama tanpa dibatasi pada fiqh empat madzhab tersebut mereka akan menggali hukum agama dengan ijtihad masing-masing dan tentunya saling berbeda antara yang satu dan yang lain karena ijtihad mereka bergantung dari kemampuan mreka dalam memnuhi syarat2 ijtihad yang telah saya sebutkan, ini akan menyebabkan perbedaan yang sangat kontras dan bermacam-macam, dan tentu ini akan menyebabkan perpecahan. karena masing-masing akan mengatakan pendapatnya juga shahih dan ini cukup membuang waktu.

    berikut yang pertama adalah mujatahid yang anda disebutkan diatas

    1. mujtahid muthlaq yaitu seseorang yang melakukan ijtihad dengan cara menciptakan sendiri kaidah istinbath hukum. masuk dalam kategori ini adalh 4 imam madzhab.

    2. mujtahid muntasib, yakni seseorang yang melakukan penggalian hukum dengan metode dan kaidah istinbath imamnya, seperti imam al muzani dan al buaithi dari madzhab syafi’i, imam muhammad bin hasan dan imam abu yusuf dari madzhab hanafi dan golongan ini sering disebut mujtahid muthlaq ghairu mustaqil.

    3. mujtahid muqayyad yaitu orang yang mengglali hukum persoaln2 yang belum prnah dibahas imamnya. contoh imam al karkhi, imam al sarakhsi dsb.

    4. mujtahid madzhab/fatwa mujtahid yang menggali hukum mengikuti metode dan cara istinbath hukum imamnya juga produk hukum imamnya. dia hanya menyeleksi dan merajjih pendapat imamnya. contoh : imam al ghazali dan al juwaini dari madzhab syafi’i

    5. mujtahid murajjih ialah mujtahid yang menyeleksi pendapat imamnya memilih pendapat paling unggul imamnya dan paling sesuai dengan maslahat masyarakat. contoh golongan ini adalah imam al Rafi’i dan imam Nawawi dari madzhab syafi’i.

    pembagian ini merupakan ijma’ pembagian ini dapat ditemui didalam ushul fiqh karya Muhammad Abu Zahrah dan karya Dr. Al Zuhalli, al fiqh al islami wa ‘adillatuh.

    demikian pemaparan saya, kalo anda jujur anda tergolong mujtahid yang mana? kalo saya sih masih tingkatan muqallid yang mengikuti madzhab syafi’i.
    kemudian ijinkan saya bertawassul dengan perantara kecintaanku pada imam syafi’i dan ulama2 yang mengikutinya.

    demikian saya juga ada alasan kenapa terbentuk Majlis Ulama Indonesia, karena ulama2 mui jelas merasa bahwa mereka belum memenuhi kriteria mujtahid diatas oleh karena itu dibentuklah majlis ulama indonesia agar ulama2 indonesia saling melengkapi keilmuannya dan menghasilkan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan dan sangat hati2 dalam mengeluarkan hukum.

    jadi maukah anda bermadzhab seperti saya dan ulama2 lainnya? kita beljar dulu untuk menjadi mujtahid, bukannya sebagai mujtahid yang sedang belajar.

    wassalamu’alaikum wr. wb.

    • comment-avatar

      Pemaparan yg bagus, saya setuju dengan anda… Memang orang awam, jahil, dan setengah-setengah ilmunya tidak boleh langsung ijtihad, bisa kacau nantinya… saya juga belajar menjadi mujtahid, tapi bukan berarti harus taklid kpd salah satu madzhab. mujtahid juga tetap harus belajar, siapa mujtahid yg tidak belajar? Semua ulama sehebat apa pun juga terus belajar, baik yg mujtahid maupun yg muqallid. Yg saya ikuti adalah dalil, siapa yg kuat dalilnya maka itulah yg saya ikuti, terlepas dari madzhab apa pun dia… dan alhamdulillah saya pernah belajar dasar-dasar ilmu agama shg bisa mentarjih meski belum maksimal, dan akan terus belajar… nah, ketika saya menghadapi kesulitan dlm mentarjih, saya akan tanya kepada yg lebih ‘alim untuk membantu saya dlm hal ini (baik secara langsung kpd yg masih hidup atau lewat kitab-kitab mereka yg sdh wafat; spt Ibn Hajar, an-Nawawi, Ibn Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dll)… lalu saya akan ikuti penjelasannya. Dan bila suatu saat saya mendapat fatwa lain yg lebih kuat dalilnya, maka saya akan rujuk ke fatwa tsb… demikian seterusnya….

      Saran saya, bertawassullah dgn amal shalih anda, atau berdoalah langsung kepada Allah dgn menyebut asma’ dan sifat-Nya…

  • comment-avatar
    khoujah 10 years ago

    NB: jika memang saudara merasa belum setingkat mujtahid, marilah kita bersama-sama mengikuti salah satu 4 imam madzhab. dan sama-sama belajar untuk memenuhi syarat2 ijtihad diatas dengan metodologi yang berorientasi pada fiqh madzhab tersebut dan menggunakan produk hukum salah satu madzhab tersebut.

    jazakallah khairan saudaraku…, maaf terlalu banyak pemaparan, namun untuk kepentingan ilmu pengetahuan mohon maklum.

    maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    • comment-avatar

      Setuju… saya pilih Imam Ahmad kalo gitu, sebab beliau paling alim ttg hadits Nabi, bahkan konon hafal 1 juta hadits. Selain itu, beliau adalah murid Imam favoritku, Imam Syafi’i yg dijuluki Naashirussunnah, yang merupakan murid kesayangan Imam Malik, Imam Daarul Hijrah… kota dimana aku menuntut ilmu sejak 7 tahun silam hingga detik ini… dan Imam Syafi’i juga berguru kpd Muhammad bin Hasan Asy SYaibani, salah satu murid terdekat Imam Abu Hanifah… radhiyallaahu ‘anhum wa jazaahum ‘anil Islami wal Muslimina khairan.

  • comment-avatar
    DEDDY 10 years ago

    SUBHANALLOH…….tulisan yg bagus ustadz, izin share ya agar umat tidak tersesat kepada taklid buta dan tidak terjerumus kedalam lembah ke syirikan

    TERUS MENULIS USTADZ UNTUK MENEGAKKAN AMAL MA’RUF NAHI MUNGKAR SEMOGA ALLOH MENOLONG USTADZ MENEGAKKAN DAKWAH TAUHID DAKWAHNYA PARA RASUL

  • comment-avatar

    Assalamu’alaikum warakhmatullah wabarkatuh, jujur saja, saya bukan termasuk bilangan orang yang mempunyai kemampuan untuk masuk kedalam kancah diskusi yang ilmiah berkaitan bid’ah.Namun saya tergelitik juga setelah mengikuti sejak awal beberapa komentar yang disampaikan oleh sahabat-sahabat muslim yang sepertinya sudah mumpuni dalam menanggapi tulisan dari saudaraku se aqidah Abu Hudzaifah al-Atsary. Sebenarnya kalau kita mau mengakui secara jujur, apa yang telah dikemukan yang b ersangkutan itulah sebenarnya ilmu yang shahih. Karena saya hampir setengah abad terbelenggu dalam jebakan kesyirikan dan bid’ah, dan saya b ersyukur bahwa Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang masih menyayangi saya dan memberikan petunjuknya untuk belajar kembali tentang ilmu yang bermanfaat itu yang bagaimana sih. Dan saya menemukan jawabannya bahwa beragama r( baca bertauhid) yang benar adalah berpegang kepada al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman pada Sababat, Tabi’in dan tabi’ut tabiin, sebagai generasi terbaik umat ini. Kalau tidak mengikuti jejak ini maka dapat dipastikan bahwa kita akan keliru memililh jalannya hawa nafsu dan godaan syetan yang berbentuk iblis ataupun manusia,sebagaimana yang saya alami hampir setengah abad. Dan bukan untuk bermaksud berbangga diri bahwa saya menjelang senja telah memilih jalan yang dulu ditempuh para salafus shalih, dan itulah yang seharusnya diikuti oleh sahabat-sahabat muslim lainnya. Berterimaksihlah kita semua masih ada diantara kita yang masih mau mengingatkan tanpa mengharapkan imbalan materi, kecuali mengharapkan wajah Allah. Syukron

    • comment-avatar

      Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya… semoga Allah senantiasa memelihara Anda dari fitnah syubhat dan fitnah syahwat, dan juga kita semua. aamin… jazakallah khairan atas komentarnya.

      • comment-avatar

        Kalau manaqib tentang siapa Syekh Ibn Taimiyyahpun telah ada,lalu knp pula kisah2 sejarah tentang Orang yg paling mulia d dunia ini yg menjadi Rosul allah tak boleh d tulis n d baca untuk mengenang n mengenal kepribadian luhur yg Beliau miliki???malah itu d katakan bid’ah.aneh menurutku.

        • comment-avatar

          Betul Bung, aneh memang… kenapa harus baca sejarah para nabi lewat perayaan maulid? Khan bisa dibahas kapan saja dan di mana saja tanpa harus dengan ‘perayaan’ dan pada tanggal tertentu dengan cara tertentu pula… Kalau ada orang yg membaca manaqib Ibnu Taimiyyah (atau ulama lainnya) dengan cara seperti ‘perayaan maulid Nabi’, pastilah para ulama Ahlussunnah akan membid’ahkannya tanpa ragu-ragu, termasuk ulama-ulama Saudi sendiri yg demikian mencintai Ibnu Taimiyyah, namun bagi mereka kebenaran lebih mereka cintai dari siapa pun juga selain Allah dan Rasul-Nya… salah satu buktinya, Lajnah Daa-imah yg merupakan komisi resmi dewan Fatwa Saudi Arabia, menyatakan bahwa ‘iedul wathan (peringatan berdirinya kerajaan Arab Saudi) yg dijadikan hari raya oleh pemerintah Saudi, adalah BID’AH… ya, BID’AH seperti merayakan maulid Nabi (bisa dilihat di Fatawa al-Lajnah ad-Daa-imah 3/59 no 9403)

  • comment-avatar
    AMR ELBANTANY 10 years ago

    SOMBONG BENAR ANDA INI! ISTIGHFARLAH PADA ALLAH! SAYA TIDAK MELIHAT ADANYA AKHLAK MULIA DALAM BLOG INI. SEGALA ARGUMENTASI DALAM BLOG INI TERJAWAB SUDAH DENGAN PEMAHAMAN NAHWU YANG BENAR. ANDA BISA MENELITI KALIMAH ‘KULLU’ DALAM BAHASA ARAB. ANDA JUGA DAPAT MENELITI HADITS RUJUKAN ANDA (HADITS ‘KULLU BID’ATIN…) DARI SEGI ASBAABUL WURUDNYA DAN MUNAASABAHNYA DENGAN HADITS YANG LAIN.
    INI TELAH DIBAHAS DALAM TULISAN UST. NOVEL ‘DALAM MANA DALILNYA 2’. SEMOGA ALLAH TUNJUKKAN KITA SEMUA PADA JALAN KEBENARAN.

    • comment-avatar

      Hmm… nampaknya anda terlalu emosi. Diskusilah dengan kepala dingin, tidak perlu emosi… kan kita lagi menunaikan ibadah puasa. Jangan cuma bisa menuduh dan memvonis orang lain dengan istilah ‘sombong’, ‘tidak berakhlak mulia’, dst… hanya karena berbeda pendapat dengan anda. Saya tidak memaksa anda untuk ikut pendapat saya kok… tapi masalahnya anda yang tidak faham terhadap argumentasi saya, yang sebenarnya bukan dari saya pribadi, tapi dari para ulama terdahulu yang jauh lebih mumpuni dari sdr. Novel maupun ulama-ulama yg menjadi rujukannya… nampaknya anda belum baca tulisan saya secara tuntas, atau bacanya tidak dengan kacamata inshaf (obyektif), tapi dengan emosi dan fanatisme kelompok…

      قال الشاعر:
      وعين الرضا عن كل عيب كليلة وعين السخط تبدي المساويا

      saya tidak heran, memang kebanyakan komen antipati yang saya terima rata-rata emosional dan tidak ilmiah, menunjukkan bahwa yang berkomentar adalah orang awam yg tidak mengerti cara berdalil, dan hanya ikut-ikutan…
      Saya sudah baca buku Mana Dalilnya 1,2; buku Misteri Berkah, dan buku jalan nan lurus… saya berharap semoga penulisnya bertaubat sebelum mati dari segala bid’ah khurafat yg diajarkannya kepada kaum muslimin. Saya menulis bantahan ini karena kasihan kepada beliau… ngakunya keturunan Nabi tapi justru meracuni tauhid umat dengan berbagai bid’ah khurafat, padahal Nabi berjuang mati-matian untuk menegakkannya. Ironis memang…

      قال الله تعالى: ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين، وكان الله بكل شيء عليما
      Muhammad itu bukanlah bapak salah seorang dari kalian, akan tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. dan Allah maha mengetahui segala sesuatu (al-Ahzab: 40).

      قال شعبة بن الحجاج: إذا وجدتم قولي مخالفا للحديث فبولوا عليه
      ِsyu’bah bin Hajjaj (salah seorang ahli hadits di zaman salaf) mengatakan: Jika kalian dapati perkataanku bertentangan dengan hadits Nabi, maka kencingilah perkataanku!

      Semoga Allah merahmati Syu’bah dan para ulama yg demikian cinta kepda Nabi, melebihi kecintaan mereka atas siapa saja selain beliau… yang mengedepankan perkataan beliau di atas perkataan siapa saja, meski tidak sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu mereka. Hadaanillahu wa iyyaakum.

  • comment-avatar
    Profz 10 years ago

    Aq hanya bisa bicara empat kata ya…Ya…Ya…Ya…

  • comment-avatar
    tommi 10 years ago

    Assalamu’alaikum ustadz Hudzaifah…semoga antum selalu dalam curahan rahmat Allah Ta’ala

    Afwan nih ana mau nanya dikit. Antum kan skrg tinggal di Madinah, ana ingin tau saja ada ga ulama dari kalangan ahlul-bait yg tinggal di Mekkah/Madinah tetapi mereka bermanhajkan salaf. Soalnya kok selama ini (di Indonesia khususnya) mereka yg mengaku2 keturunan ahlul bait (baca: habaib) terlalu identik dengan sufi. Kalo ga sufi ya palingan asy’ari. Dan mereka amat sangat dihormati disini bahkan sebagian kalangan ada yg beranggapan bisa kualat klo ga hormat ama habib. Na’udzubillah, mereka melupakan kehormatan junjungan mereka yg utama yg harusnya paling didahulukan untuk dihormati yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam.

    • comment-avatar

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh… jazakallaahu khairan atas doanya, amin, semoga antum juga demikian.
      Tentu ada dong… emangnya yg ahlul bait cuma haba-ib karbitan indonesia doang? Dekan Fakultas hadits tempat ana kuliah sekarang juga Ahlul Bait, dari jalur Al Hasan bin Ali. Di Saudi mereka biasanya dijuluki al-asyraaf, dan banyak tinggal di mekkah. Meski tidak semuanya bermanhaj salaf … tapi masih ada yg salafi, contohnya syaikh alawi bin abdul qadir assegaf yg tinggal di Dammam. Beliau bahkan banyak membantah penyimpangan kaumnya…

      Haba-ib karbitan indonesia hanya memanfaatkan kebodohan dan keluguan orang-orang Indonesia yg memang minim pengetahuan agama, dan sejak dulu keislaman mereka telah terwarnai tasawuf yg memang ngajarin kultus individu… makanya mereka paling benci ama kita-kita yg dijulukin ‘wahhabi’ ini… sebab dakwah kita tidak mengajak kepada kultus individu, tapi murni kepada Allah (insya Allah). Nah, yg begini-begini ini pasti mengancam status sosial dan pamor mereka di masyarakat… padahal dari sanalah tokoh-tokoh mereka mendapat ‘penghidupan’ selama ini.

      • comment-avatar
        Tommi M 10 years ago

        Jazakallah khoir ustadz, maaf nih ana mau nanya lg, apakah fatwa para habaib ini benar adanya?

        http://abumushlih.com/habaib-serukan-tinggalkan-perayaan-maulid.html/

        Terus terang ana sangat senang dengan fatwa ini tetapi sayangnya para habaib di Indonesia menyangka ini fatwa karbitan alias bikin2an org wahabi.

        • comment-avatar

          Habib ada dua macam, habibullah dan habibusy syaithan (kekasih Allah dan kekasih syaithan)… yang memfatwakan itu insya Allah menjadi habibullah wa habibuna (kekasih Allah dan kekasih kami), sebab mereka berani menyuarakan kebenaran dan membela sunnah Nabi yang banyak dinodai oleh kaum mereka sendiri. Artinya, mereka lebih mementingkan ridha Allah dari keridhaan kaumnya (yg tidak benar). Sedangkan yg menganggap itu sebagai fatwa karbitan… saya khawatir mereka adalah haba-ib tipe kedua. Jangankan fatwa, hadits “Kullu bid’atin dholaalah” aja mereka plintir kesana kemari… apalagi sekedar fatwa… Kalau hawa nafsu yg bicara, maka seribu dalilpun takkan mempan. Kita doakan saja jika takdir Allah masih mengizinkan mereka untuk kembali kepada kebenaran, maka semoga Allah mengembalikan mereka semua kepada kebenaran, karena merekalah yang semestinya menjadi panutan dalam kebaikan; bukan sebaliknya. Namun jika takdir Allah tidak mengizinkan mereka kembali kepada kebenaran, maka kita doakan semoga Allah membersihkan bumi pertiwi dari orang-orang seperti mereka. Allahumma aamiin.. aamiin… aamiin.

  • comment-avatar
    abu atsaryyah 10 years ago

    Tak ada kata yg dapat sy ungkap selain doa smg Allah memberi ilmu yg banyk kepd antum,memberi kemudahan dalam mencari kebenaran dan kemudahan dalam menuntut ilmu,dan jg kesehatan dan keselamatan,jazakallahu khoiron katsiron.

  • comment-avatar
    Muhammad bin rukban 10 years ago

    Assalamu’alaykum,
    Antum bersama asatidz yang terus menerus beramal, berdakwah dan bersabar setelah menuntut ilmu kepada para Ulama Ahlus Sunnah akan terus dimaki oleh KEBANYAKAN kaum muslimin sebagai wahabi pemecah belah ummat, antek2 kafir dan tuduhan2 serta fitnah2 keji lainnya..

    Mungkin sekarang belum seberapa dibanding nanti … di saat semakin jauhnya kaum muslimin dari Al Quran dan Sunnah di atas metode yang benar… Di saat meriahnya dunia dakwah Islamiyyah diisi dengan kultus individu dan loyalitas kelompok.

    Sebagian pencaci sudah berhenti memaki “salafy” karena setelah sekian puluh tahun di pondok para habaib, mereka baru tahu istilah itu memiliki makna kebenaran. Malah sebagian berdakwah mengajak manusia kepada salaf walaupun jadi terlihat “berantakan” karena kebanyakan mereka yg saya tahu adalah sufi atau asya’iroh yang kuat … Ya, sedikit demi sedikit..pelan-pelan mereka ambil inti kebenaran yang disampaikan musuh mereka yang satu ini.

    Dan kami yang baru tersadar dari taqlid buta atau dari ketidakpedulian atas makna dan konsekwensi dua kalimat syahadat selama ini sungguh membutuhkan bimbingan orang2 seperti antum bagaimana menjalani Islam di atas Alquran dan As Sunnah dengan pemahaman para murid2 Rasulullah tanpa taqlid kpd antum, guru2 antum bahkan para ulama besar

    Jazakallahu khoiron..
    Wabarokallahu fiik ya Abu Hudzifah Al Atsariy

    • comment-avatar

      Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmus shaalihaat… Baarakallaahu fiik ya akhi. Seruan antum sungguh baik, hanya saja masalah taklid kepada ulama tidak haram secara mutlak. taklid dibolehkan bagi orang yang awam sama sekali dan tidak bisa mencari kebenaran serta ia bukan penuntut ilmu. Tapi syaratnya, ia hanya boleh taklid kepada orang yang memang alim dan shalih serta tsiqah. Wallahu a’lam.

  • comment-avatar

    kayanya kita merasa paling benar aja ya,,ah kalo ana mah ikutin guru ana aja deh yang telah ngajari ana mengenal rukun islam dan rukun iman,,tapi jujur ana demen maulid ana cinta ama rosululloah saw…

    • comment-avatar

      Semua orang Islam memang harus cinta ama Rasulullah, yg gak cinta ama beliau harus dipertanyakan keislamannya. TAPI, cinta bukan cuma klaim… cinta itu perlu pembuktian… bukti terbesar bahwa seseorang mencintai Rasulullah ialah berpegang teguh dengan Sunnah beliau, yang tidak pernah mengajari umatnya untuk merayakan maulid, dan mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. Diantaranya adalah bid’ah maulid, yang oleh mereka yg membelanya tetap diakui sebagai bid’ah… hanya saja mereka mengatakannya sebagai bid’ah hasanah, dan mereka tidak ma’shum. Sedangkan Rasulullah yg ma’shum telah menyifati semua bid’ah sebagai ‘dholalah’, alias kesesatan. Nah, siapa yg antum ikuti kalau begini? Seorang mukmin itu bukan meyakini terlebih dahulu baru lantas mencari-cari dalil untuk mendukung keyakinan (baca: keinginan/hawa nafsu)nya. Tapi ia meyakini dan menginginkan sesuai dalil yg ada. Kalau tidak ada dalilnya, ya berarti bid’ah… meskipun orang sejagat merayakannya. Semoga Allah membimbing anda dan saya untuk mencintai Rasul-Nya dengan baik dan benar… amien.

  • comment-avatar

    Mereka bilang mengikuti Nabi, tapi Nabi tidak mengerjakannya, terus apanya yang diikuti….mereka malah mengerjakan yang tidak pernah dilakukan Nabi…Anak kecil aja bisa tahu ini namanya bukan mengikuti…bilang anak kecil namanya mengikuti kalo Nabi kerjakan, ya ikut dikerjakan, dan kalo Nabi tidak mengerjakan maka mengikuti tidak mengerjakan….Wong gampang kok dibuat susah..memang benar orang yang melakukan bid’ah lebih sulit untuk bertaubat daripada pelaku maksiat…

  • comment-avatar
    parhan 9 years ago

    Podo wae mas, satu sama lain saling mengejek….saling menyesatkan……tidakkah anda sadari anda sendiri telah terjebak dalam hal membicarakan keburukan orang lain. ketika anda dipojokan dengan kata-kata kurang sopan, lalu anda membalasnya dengan bahasa yang menurut anda sopan padahal sama saja maksudnya. jadi inikah yang dianjurkan rasululloh SAW?. sama2 emosi , sama2 bernafsu, sama2 dipengaruhi syetan. bagi saya kebenaran itu akan nampak pada akhirnya, dan kebenaran itu datangya dari allah SWT.

    • comment-avatar

      Alhamdulillah, dakwah berlanjut terus… makin banyak yg faham kok. Anda benar bahwa kebenaran itu akan nampak pada akhirnya, tapi alangkah ruginya kalau seseorang baru tahu kebenaran di akhirat, saat pengetahuan itu sudah tidak bermanfaat lagi baginya? Saat seseorang telah dihadapkan kepada siksa Allah dan Neraka-Nya?
      Alangkah ruginya kalau ternyata selama ini yg dia yakini sebagai ibadah ternyata adalah bid’ah?
      Alangkah ruginya kalau dia telah bersusah payah menggapai ridha Allah tapi justru mendapatkan murka-Nya karena salah jalan?
      Apakah menurut anda ini ‘podo wae mas’? Coba anda renungi, waffaqakallaah limaa yuhibbu wa yardha..

  • comment-avatar
    parhan 9 years ago

    Berhubung komentarnya panjang, saya akan memuatnya lengkap dengan tanggapan saya, dan saya akan pergunakan istilah (A) untuk ucapan Anda, dan (S) untuk tanggapan saya.

    (A): assalamu alaikum WR. WB
    Saudaraku seiman mari kita bertukar pikiran dengan hati yang ikhlas, bukan untuk mencari siapa yang paling benar apalagi mencari permusuhan, namun untuk sebuah pencerahan dan persaudaraan

    Yakinilah apa yang saudara yakini, dan biarkan saya meyakini apa yang saya yakini, sehingga tidak ada pemaksaaan.
    (S): Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh,
    Saya senang sekali bisa bertukar pikiran secara ilmiah dan sopan dengan orang seperti Anda. Tujuan saya menulis artikel ini sama sekali bukan memaksakan karena toh Nabi saja tidak bisa memaksakan kebenaran kepada orang yg belum mau menerimanya, apalagi saya. Tujuan saya hanyalah menjelaskan apa yang benar sesuai dengan dalilnya, dan menjelaskan apa yang keliru sesuai dengan dalilnya. Itu saja.

    (A): Perdebatan mengenai penafsiran hadist, sudah lama terjadi dari jaman ke jaman, dan tidak hanya masalah bid’ah saja, banyak sekali perbedaan tentang penafsiran dan pemahaman tentang hadist.
    ketika perbedaan itu tidak menemui titik terang apa jalan keluarnya saudaraku?.
    apakah tali persaudaraan sesama muslim jadi terputus, apakah akan terus bermusuhan, salin menentang, saling menyalahkan, saling menjelekan sampai pada akhirnya tidak bertegur sapa.
    sampai kapan saudaraku?……………..sementara mereka (kafir) tertawa melihat kita.

    (S): Memang perbedaan itu ada, tapi tidak semua perbedaan harus disikapi sama. Kalau masalah itu memang masalah ijtihadiyyah dimana seseorang memang dibolehkan untuk berijtihad di sana, maka oke-oke saja. Tapi kalau masalah itu sudah ada dalilnya, lalu ada orang yg ingin berinovasi dalam agama dan menganggapnya ‘tidak mengapa’, atau melabeli bid’ahnya dengan bid’ah hasanah, maka jelas tidak boleh dibiarkan, apa pun alasan dan tujuannya.
    Jadi, setiap perbedaan harus disikapi sesuai dengan jenis dan kadarnya, tidak bisa disamakan. Contoh, beda antara sunni dan syi’ah harus disikapi dengan tegas, dan tidak sama dengan beda antara sesama ahlussunnah.
    Tentang putusnya tali persaudaraan, permusuhan, pertentangan, saling menyalahkan, dst itu tergantung penilaian masing-masing fihak. Bagi saya pribadi, saya menganut prinsip ahlussunnah wal jama’ah yang memberikan mutlaqul wala’ kepada setiap muslim. Artinya, betapa pun jeleknya keyakinan dan sikap seorang muslim, betapapun besarnya permusuhan dia terhadap dakwah yang saya yakini kebenarannya; saya tetap saja memberikan wala’ saya kepadanya sebagai seorang muslim, namun saya bersikap bara’ (membenci/memusuhi) penyimpangan dan kejelekan yg ada pada dirinya, bukan memusuhi dzat orang tsb.
    Sampai kapan hal ini saya lakukan? jawabnya: sampai yg bersangkutan meninggalkan kekeliruannya. Pun demikian, tidak berarti saya harus menampakkan kebencian saya tsb secara terang-terangan, namun itu tergantung maslahat dan mafsadatnya secara syar’i.
    Adapun sikap orang kafir bukanlah ukuran. Keridhaan dan kebencian mereka tidak akan merubah status hukum dalam syari’at. Yg halal tetap halal walaupun dipandang buruk oleh orang kafir, dan yang haram tetap haram walaupun dipandang baik oleh mereka. Demikian pula mengenai bid’ah dan sunnah.

    (A): tapi sudahlah itu mukadimah saja salam kenal saudaraku,

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ t قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: إِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَالْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةُ. (رواه مسلم).

    “Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara, adalah perkara yang baru. Dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Muslim [867]).

    Termyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

    عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ. رواه مسلم

    “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

    Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan, bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Tetapi dalam hadits kedua, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan pula, bahwa barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya. Dengan demikian, hadits kedua jelas membatasi jangkauan makna hadits pertama “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)” sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Nawawi dan lain-lain. Karena dalam hadits kedua, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan dengan redaksi, “Barangsiapa yang memulai perbuatan yang baik”, maksudnya baik perbuatan yang dimulai tersebut pernah dicontohkan dan pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau belum pernah dicontohkan dan belum pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

    (S): Tanpa mengurangi rasa hormat saya thd imam Nawawi dan para ulama lainnya dlm menafsirkan hadits ini, akan tetapi penafsiran mereka tidak benar. Mengapa? Karena hadits yg kedua tidak berbicara tentang bid’ah dan muhdatsaatul umuur (hal-hal yg baru dalam agama). Hadits Jarir hanya berbicara tentang sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah, nah apakah yang dimaksud sunnah? Sunnah secara lughawi artinya ‘thariqah’ alias ajaran/cara, baik yang baik maupun yang buruk (silakan rujuk ke kamus-kamus Arab yg terkenal). Lantas bagaimana kita bisa menilai suatu ajaran/cara itu baik dan buruk kalau bukan dari kaca mata syari’at itu sendiri? Singkatnya, baik buruknya suatu sunnah (ajaran) harus diukur dengan kaca mata syar’i, dan syari’at telah menegaskan bahwa setiap bid’ah itu dholalah. Jadi, hadits ini tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan adanya bid’ah hasanah. Ini yg pertama.
    Yang kedua, sababul wurud hadits ini ialah ketika Nabi menyaksikan sejumlah orang dari suku Mudhar yg kondisinya mengenaskan, maka Nabi menghasung para sahabat agar bersedekah semampunya untuk mereka, lalu datanglah seorang sahabat Anshar untuk memelopori sedekah, sehingga yang lain pun mengikuti perbuatan si Anshari tadi, maka Nabi pun mengatakan sabdanya di atas (hadits Jarir bin Abdillah al Bajali). Dan jangan lupakan hadits Aisyah yg mengatakan (من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد، وفي لفظ: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد) “Barang siapa mengamalkan sesuatu dalam urusan kami ini (agama), padahal ia bukanlah bagian dari agama, maka amalan tsb tertolak. dlm lafazh lainnya disebutkan: “barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan berasal darinya, maka hal itu tertolak”. Ingat pula perkataan imam Malik yg sangat terkenal: ( من زعم أن في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا خان الرسالة لأن الله يقول: اليوم أكملت لكم دينكم، فما لم يكن يومئذ دينا لم يكن اليوم دينا) “Siapa ygn mengklaim adanya suatu bid’ah dalam agama yang dianggap hasanah (baik), berarti menganggap Rasulullah telah mengkhianati risalahnya. Sebab Allah mengatakan -yg artinya-: “Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian bagi kalian”, jadi apa pun yg pada hari itu bukan bagian dari agama, maka hari ini pun juga bukan bagian dari agama” (Dinukil oleh Asy Syatibi dalam Al I’tisham).

    (A): Di sisi lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seringkali melegitimasi beragam bentuk inovasi amaliah para sahabat yang belum pernah diajarkan oleh beliau. Misalnya berkaitan dengan tatacara ma’mum masbuq dalam shalat berjamaah dalam hadits shahih berikut ini:

    عَنْ عَبْدِالرَّحْمنِ بْنِ أَبِيْ لَيْلَى قَالَ: (كَانَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ r إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ وَقَدْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ الصَّلاَةِ أَشَارَ إِلَيْهِ النَّاسُ فَصَلَّى مَا فَاتَهُ ثُمَّ دَخَلَ فِي الصَّلاَةِ ثُمَّ جَاءَ يَوْمًا مُعَاذٌ بْنُ جَبَلٍ فَأَشَارُوْا إِلَيْهِ فَدَخَلَ وَلَمْ يَنْتَظِرْ مَا قَالُوْا فَلَمَّا صَلَّى النَّبِيُّ r ذَكَرُوْا لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ r «سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ».وَفِيْ رِوَايَةِ سَيِّدِنَا مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ: (إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوْا). رواه أبو داود وأحمد ، وابن أبي شيبة، وغيرهم، وقد صححه الحافظ ابن دقيق العيد والحافظ ابن حزم.

    “Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

    Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata, “Mengapa kamu membuat cara baru dalam shalat sebelum bertanya kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam.

    (S): Hadits ini tidak masuk pula dalam pengertian bid’ah, namun ia merupakan salah satu bentuk sunnah, yaitu sunnah taqririyah, alias sunnah yang ditetapkan berdasarkan persetujuan Rasulullah terhadap perbuatan/perkataan yg dilakukan oleh sahabatnya atas sepengetahuan beliau. Apalagi di akhir hadits beliau tegas-tegas memerintahkan hal tsb, maka jelaslah bahwa ini merupakan sunnah, bukan bid’ah.

    (A): Dalam hadits lain diriwayatkan:

    وَعَنْ سَيِّدِنَا رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ t قَالَ : كُنَّا نُصَلِّيْ وَرَاءَ النَّبِيِّ r فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ (مَنِ الْمُتَكَلِّمُ؟) قَالَ : أَنَا قاَلَ: «رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا». رواه البخاري.

    “Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata: “sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih”. Setelah selesai shalat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikat berebutan menulis pahalanya”. (HR. al-Bukhari [799]).

    Kedua sahabat di atas mengerjakan perkara baru yang belum pernah diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan, karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat memuji kepada Allah. Oleh karena itu al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam Fath al-Bari (2/267), bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru dalam shalat, selama dzikir tersebut tidak menyalahi dzikir yang ma’tsur (datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam), dan bolehnya mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain. Seandainya hadits “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)”, bersifat umum tanpa pembatasan, tentu saja Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan melarang setiap bentuk inovasi dalam agama ketika beliau masih hidup.

    (S): hadits ini pun sama dengan yg sebelumnya, yaitu termasuk sunnah taqririyyah, bukan bid’ah sama sekali. Adapun pendapat al Hafizh Ibn Hajar yg antum nukil, maka itu hasil istimbat (kesimpulan) beliau pribadi yang berangkat dari qona’ah musbaqah akan adanya bid’ah hasanah. Pendapat ini keliru dan tidak bisa menjadi dalil karena perkataan ulama itu sendiri bukanlah dalil, apalagi bila dhahir perkataannya menyelisihi dalil qoth’i.

    (A): Selanjutnya pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, juga dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, termasuk Khulafaur Rasyidin. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

    عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ إلى الْمَسْجِدِ فَإِذًا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ t: إِنِّيْ أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِيْ نَامُوْا عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ. رواه البخاري.

    “Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu anhu berkata: “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di akhir malam, lebih baik daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan tarawih di awal malam.” (HR. al-Bukhari [2010]).

    (S): Kisah ini tidak bisa anda jadikan dalil atas adanya bid’ah hasanah, alasannya:
    1-Yang dimaksud bid’ah oleh khalifah Umar adalah bid’ah lughawi (sesuatu yg baru) bagi orang-orang yg sebelumnya tidak pernah shalat tarawih berjama’ah bersama Rasulullah. Ini bukan bid’ah istilahi. Mengapa? Sebab Nabi pernah melakukannya di awal romadhon kemudian meninggalkannya karena takut diwajibkan. Jadi, adanya shalat tarawih di zaman Khalifah Umar merupakan bid’ah (hal baru) secara bahasa saja.
    2-Kalaupun itu kita anggap bid’ah istilahi, maka beliau adalah salah satu khulafa’urrasyidin yg ajarannya dianggap sebagai sunnah yang kita diperintahkan untuk mengikutinya, sebagaimana yg disebutkan dalam hadits Irbadh bin Sariyah yg sangat terkenal itu. Jadi, ini kekhususan bagi khulafa’ur Rasyidin, dan tidak bisa dikiaskan kepada selain mereka.
    3-Kalaupun kedua alasan ini belum memuaskan juga, maka ucapan Sayyidina Umar bahwa sebaik-baik bid’ah adalah ini sama sekali tidak berarti adanya bid’ah hasanah dlm agama. Karena manthuq ucapan tersebut tidak mengatakan adanya bid’ah hasanah, dan kalaupun ‘ada’ maka hanya masalah tarawih berjama’ah saja yg beliau anggap paling baik. Lantas dari mana Anda bisa menganggap baik adanya bid’ah-bid’ah yg lain?? Itu khan hanya qiyas, dan qiyas ma’al faariq, wa fii muqaabalatin nushush. Jadi sebenarnya dalil anda bukanlah riwayat ini, tapi Anda hendak mengqiyaskan bid’ah yg tidak dianggap baik oleh Rasulullah, maupun para sahabatnya, dengan berdalil dengan riwayat-riwayat tadi, ya jelas ini tidak bisa diterima lah…

    (A): Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan ini tergolong bid’ah. Tetapi bid’ah hasanah, karena itu beliau mengatakan: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

    وَعَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ t قَالَ: كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ r وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ t وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلىَ الزَّوْرَاءِ وَهِيَ دَارٌ فِيْ سُوْقِ الْمَدِيْنَةِ. رواه البخاري.

    “Al-Sa’ib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura’, yaitu nama tempat di Pasar Madinah.” (HR. al-Bukhari [916]).

    Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat, sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’, tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.

    (S): Anda telah rancu dalam membedakan antara mashlalah mursalah dengan bid’ah, penambahan adzan menjadi tiga termasuk mashalih mursalah, bukan bid’ah. silakan baca artikel saya yg berjudul: “Bid’ah tidak sama dengan mashalih mursalah dan istihsan”. Tambah lagi, Utsman bin Affan termasuk khulafa’ur Rasyidin yg perbuatannya menjadi sunnah, dan kita diperintahkan untuk mengikutinya.

    (A): Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, al-Hasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

    (S): Kalaupun riwayat-riwayat tsb shahih semua, maka ini -sekali lagi- bukanlah bid’ah, tapi termasuk sunnah taqririyyah karena Nabi menyetujuinya. Mohon dibedakan dan jangan dicampuradukkan.

    (A): Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha.

    (S): Kalaupun riwayat tsb shahih, maka itu ijtihad pribadi yang bila benar maka pelakunya mendapat dua pahala, dan bila keliru maka hanya mendapat satu pahala. Namun apakah mereka menganggap hal tsb sebagai bid’ah hasanah??

    (A): Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih di atas, serta perilaku para sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:

    اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ: مَا أُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا فَهُوَ بِدْعَةُ الضَّلالَةِ وَمَا أُحْدِثَ فِي الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، ١/٤٦٩).

    “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).
    Pernyataan al-Imam al-Syafi’i ini juga disetujui oleh Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (juz. 20, hal. 163).”

    (S): Rahimallaahu imaamana Asy Syaaf’iiy, beliau sama sekali tidak mengatakan adanya bid’ah hasanah dlm agama. Beliau hanya mengatakan bahwa al muhdatsaat (yg lantas anda terjemahkan dengan bid’ah, dan itu tidak tepat), yg artinya hal-hal yg diadakan, itu ada dua: Sesuatu yang diadakan dan ia menyelisihi Al Qur’an atau Sunnah, atau Ijma’; maka ia adalah Bid’ah Dholalah. Dan sesuatu yang diadakan dalam kebaikan tanpa menyelisihi salah satunya (Al Qur’an, Sunnah, atau Ijma’), maka ia adalah hal baru yang tidak tercela”. Jelas sekali bukan, bahwa beliau tidak menyebut adanya bid’ah hasanah dlm agama sama sekali, tapi beliau mengatakan ‘muhdatsah’, dan tetap menggunakan istilah ‘bid’ah dholalah’. Ini jelas menunjukkan bahwa muhdatsah yang beliau maksud di sini adalah muhdatsah bima’nal lughawi, hal yg baru dalam pengertian bahasa, bukan dalam pengertian agama. Oleh sebab itu, beliau menjadikan AL Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ sebagai tolok ukur untuk menilai apakah hal yg baru ini baik ataukah jelek. Seandainya beliau bermaksud menggunakan pengertian ‘muhdatsah’ secara istilah, maka tidak perlu lagi mengukurnya dengan AL Qur’an, Sunnah dan Ijma’, sebab sudah ada dalil qoth’i dlm masalah ini, yaitu hadits ‘wa kullu muhdatsatin bid’ah, wa kullu bid’atin dholaalah’.

    Baiklah, bila penjelasan ini belum bisa Anda terima juga, alias Anda bersikeras -misalnya- menganggap bahwa Imam Syafi’i meyakini adanya bid’ah hasanah dlm agama; maka marilah kita timbang perkataan Imam Syafi’i tadi dengan perkataan beliau lainnya yg juga cukup terkenal. Beliau mengatakan:
    إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت، وفي رواية: فاتبعوها، ولا تلتفتوا إلى قول أحد (رواه البيهقي في مناقب الشافعي 1/472-473، وفي معرفة السنن والآثار رقم 454، وأبو نعيم في الحلية 9/107 وغيرهما).
    “Bila kalian mendapati apa yang menyelisihi sunnah Rasulullah dalam kitabku, maka berpendapatlah sesuai sunnah Rasulullah dan tinggalkan pendapatku”, dlm riwayat lainnya: “…Maka ikutilah sunnah tsb dan jangan perhatikan ucapan siapa pun” (HR. Baihaqi dlm manaqib Asy Syafi’i 2/473-474, kemudian dlm Ma’rifatus Sunan wal Aatsaar no 454, dan Abu Nu’aim dlm Hilyatul Auliya’ 9/107, dll).

    Dlm riwayat lainnya Imam Syafi’i juga mengatakan:
    كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد مماتي (رواه أبو نعيم في الحلية 9/107
    “Masalah apapun yg padanya terdapat hadits yang dishahihkan oleh ahli hadits, dan hadits tersebut menyelisihi pendapatku, maka aku rujuk dalam masalah tersebut baik semasa hidupku maupun setelah matiku” (HR. Abu Nu’aim dlm Hilyatul Auliya’ 9/107).

    Beliau juga mengatakan:
    إذا رأيتموني أقول قولاً، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم خلافه؛ فاعلموا أن عقلي قد ذهب
    “BIla kalian mendapatiku mengatakan sesuatu, padahal ada hadits shahih yang menyelisihi ucapanku tadi, maka saksikanlah bahwa akalku telah hilang !! (HR. Abu Nu’aim dlm Hilyatul Auliya’ 9/106, dan Ibnu Abi Hatim dalam Aadaabusy SYafi’i hal 93).

    Dan masih banyak statemen hebat lainnya yg beliau ucapkan, silakan anda baca pada kitab-kitab yang menjadi rujukan saya di atas.

    Nah, kalaulah kita anggap bahwa beliau memang menganggap adanya bid’ah hasanah dlm Islam, maka beliau menyuruh kita agar mengukur pendapat beliau ini dengan Sunnah Rasulullah, dan tenyata sunnah Rasulullah menyelisihi pendapat beliau karena menganggap semua bid’ah itu dholalah. Berarti beliau telah melarang kita mengikuti pendapat beliau yg semula, dan menyatakan bahwa beliau telah rujuk darinya.
    Ini bila kita anggap bahwa yg beliau maksud dengan ucapan yg Anda nukil tadi adalah bid’ah dlm agama. Namun bila kita memahaminya secara lebih tepat dengan menafsirkannya sebagai bid’ah lughawiyah, maka kita tidak akan perlu mempertentangkan ucapan beliau satu sama lain, dan ini berarti kita lebih menghargai ilmu dan keshalihan beliau karena tidak menganggap beliau sengaja menyelisihi sunnah Rasulullah.

    (A): Demikian saudaraku seiman.

    saudara sedang menuntut ilmu di madinahkah? anggap saja saudara menyalurkan ilmu yang saudara dapat secara privat, sehingga saya tidak perlu jauh2 menuntut ilmu kesana.

    semoga kegiatan mulia saudara dalam berdakwah selalu dalam naungan keridoan Allah SWT.
    amin…
    Wa “alaikum salam WR.WB
    (S): Iya, saya sedang menuntut ilmu di Madinah, dan menyalurkannya kepada siapa saja. Jazakallaah khairan atas doanya, semoga kita semua selalu mendapat taufik dan hidayah Allah dalam mengamalkan dan mendakwahkan Islam.
    Wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

  • comment-avatar
    parhan 9 years ago

    amien…. nah seperti inilah yang seharusnya saudara sampaikan kepada siapapun yang berselisih paham dengan saudara. alangkah indah dan damainya islam, alangkah santun dan bersahajanya para pendakwah islam. seperti ini pula yang harus saudara sampaikan kepada ustadz salim alydrus (walaupun saya tidak mengenal beliau) dan yang lainnya. karena saya hanya khawatir dakwah mulia yang saudara lakukan ternodai oleh ucapan dan hati ketika kita bicara tentang orang lain yang fakta dan kebenarannya kita belum mengetahui yang sesungguhnya. dan jangan pula berpikir siapa yang memulainya. semoga Allah SWT memberikan hidayah agar kita dapat mengerti atas apa yang telah kita perdebatkan ini. dan semoga Allah SWT selalu melindungi dan meridoi para pendakwah-pendakwah islam dan para mujahid yang sedang berjuang di jalan Allah SWT. wasalamu alaikum WR.WB

    • comment-avatar

      Maksud Anda: Ustadz Novel Alaydrus? Alhamdulillah, meskipun saya tidak sempat bertemu dengannya, tapi pemikirannya demikian saya kenal lewat buku-bukunya, dan wallaahi tsumma wallaahi tsumma billaahi, tulisan inipun sebenarnya merupakan nasehat dan dalam rangka mengamalkan hadits Nabi: “Unsur akhaaka zhaaliman au mazhluuman… alhadits”. Dan saya pribadi sempat menitipkan surat berisi nasehat dlm bahasa Arab agar disampaikan kepada ybs dan beberapa tokoh ba’alawi yg sepemikiran dengannya, yaitu 2 tahun yg lalu, Namun Allahu a’lam apakah surat tsb sampai kepada mereka ataukah tidak.
      Namun ada satu hal yg perlu kita fahami, yaitu bahwa nasehat atau peringatan kepada seseorang hendaknya dilakukan sesuai dengan kadar dan jenis penyimpangan yg dilakukan orang tsb. Artinya, bila penyimpangan ybs skupnya hanya sebatas dirinya sendiri, maka kita hrs menasehatinya empat mata, namun bila penyimpangannya telah meluas -spt yg terjadi dgn kawan kita ini, dengan menulis buku yg dlm satu setengah tahun telah cetak ulang 17 kali, lalu masih ditambah pula dengan pengajian kesana-kemari menyebarkan pemikiran yg keliru tsb- maka sangat tidak adil jika ia tetap diperingatkan secara rahasia (4 mata). Apalagi jika penyimpangannya menyangkut ushuluddien, masalah tauhid/syirik, dan bukan sekedar khilaf fiqhiyyah. Kalaulah para ulama saja berbantah-bantahan ttg masalah fiqih dalam kitab-kitab yg mereka tulis (dan Anda tentu tahu akan hal ini, karena sering kali dimuat dlm kitab-kitab fiqih muqaran), maka bukankah masalah akidah, iman, tauhid, dan syirik lebih utama untuk dijelaskan? Itu saja akhi… sebagai penutup, saya ingin menukil atsar berikut yg menunjukkan bagaimana sikap salafunas shaalih dalam mengingkari penyimpangan seseorang, Al Hafizh Ibnu Hajar dlm kitab beliau Tahdzibut Tahdzieb, ketika menjelaskan biografi Al Hasan bin Shalih bin Shalih bin Huyai (atau bin Hayy), menukil sbb:
      قال ابو صالح الفراء ذكرت ليوسف بن اسباط عن وكيع شيئا من أمر الفتن فقال ذاك يشبه استاذه يعني الحسن ابن حي فقال فقلت ليوسف ما تخاف أن تكون هذه غيبة فقال لم يا احمق انا خير لهؤلاء من آبائهم وامهاتهم أنا انهى الناس أن يعملوا بما احدثوا فتتبعهم اوزارهم ومن اطراهم كان أضر عليهم.
      Abu Shalih Al Farra’ mengatakan: Aku pernah menceritakan kepada Yusuf bin Asbath (salah seorang imam Ahlussunnah) tentang Waki’ (ibnul Jarrah) terkait masalah fitnah (wallahu a’lam, barangkali maksudnya fitnah khurujnya Ibnul Asy’ats). Maka kata Yusuf: Dia itu (Waki’) mirip dengan ustadznya -yakni Hasan ibnu Hayy-. Maka kukatakan kepada Yusuf: “Apa engkau tidak takut jika ucapan ini termasuk ghibah?”. Jawabnya, “Dasar bodoh, memangnya kenapa? Justru aku lebih baik bagi mereka daripada ayah dan ibu mereka. Aku melarang orang-orang untuk mengamalkan bid’ah yg mereka ciptakan, sehingga dosa orang-orang tersebut tidak mengenai mereka, sedangkan yg memuji-muji mereka justru mendatangkan madharat atas mereka”.
      Catatan: Hasan bin Shalih bin Hayy adalah seorang alim, zuhud, ahli fiqih, dan qaari’ yg menganut faham khawarij qa’adiyyah, yakni khawarij yg memprovokasi orang lain agar memberontak, sedangkan dia sendiri tidak mau memberontak. Anda bisa baca bagaimana ‘ketusnya’ para ulama Ahlussunnah dalam menyikapi orang ini, yaitu dlm Tahdzibut Tahdzieb (2/248-250, cet. Daarul Kutubil ilmiyyah).
      Demikian akhi, semoga bermanfaat…

  • comment-avatar

    Menurut saya sih, dengan melaksanakan yang wajib, dan yang sunah saja menurut hadits yang shahih, tidak menyekutukan Allah dan meninggalkan semua larangannya itu saja kemungkinan masuk surga sudah besar, dan untuk melaksanakan itu dengan hati yang tulus juga sudah sangat berat bagi saya, tidak perlu mengada – ada yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang di khawatirkan bukan pahala yang dapat justru malah terjerumus kelembah dosa. memang menerima kebenaran dengan hati terbuka sangatlah berat, maka dari itu Allah SWT lebih menyukai orang2 yang cerdas, karena bisa berfikir dengan jelas. Dan saya yakin bahwa Agama Islam ini sudah sangat sempurna sehingga tidak perlu lagi di tambah – tambahi, seolah – olah Agama Allah ini banyak sekali kekurangan yang harus dilengkapi. Dan saya juga percaya pada saudara2 yang berpegang pada Kitabullah dan Asunnah, bahwa Anda bukan memecah belah umat tapi ingin menyatukan umat dengan pemahaman yang benar. Saya sudah baca kedua buku “Mana Dalilnya 1 dan 2” Penulis nya memang orang yang pintar ( karena kalau bodoh tidak mungkin jadi penulis) tapi menurut saya pribadi penjelasan di buku tersebut tidak mengena, misal dikatakan bid’ah ada 2 macam bid’ah yang terpuji ( yang sesuai dengan sunah) dan bid’ah yang sesat. bila dilihat bid’ah yang terpuji dikatakan bid’ah yang sesuai dengan sunah, nah bila itu sudah sesuai dengan sunah menurut hadits2 yang shahih tentu namanya bukan bid’ah lagi karena sesuai dengan sunah, artinya bid’ah terpuji itu tidak pernah ada. Dan menurut hadits jelas yang dikatakan bid’ah hanya terbatas pada urusan Agama. Jadi teknologi yang kita pakai sekarang bukan termasuk kategori bid’ah yang Nabi SAW maksud, karena tehnologi bukan urusan agama. Itu saja dari saya yang masih sangat dangkal mengenai Ilmu Agama, tapi yakinlah bahwa manusia tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang lain, karena itu adalah Hak Mutlak Allah SWT, kita hanya menyampaiakan pemahaman yang kita miliki, dan bila itu benar maka kebenaran itu datangnya dari Allah SWT.

  • comment-avatar
    Syukur 9 years ago

    Wah.. Jadi bingung nih.. banyak perdebatan di mana-mana.. Saya gak tahu mana yang harus saya ikuti.. Huft..

    • comment-avatar

      ikutilah yang paling kuat dalilnya, paling ilmiah pembahasannya, dan paling tidak tendensius (bebas dari kepentingan politik, ekonomi, dsb). Serta jangan lupa berdoa kepada Allah agar selalu membimbing kita kepada kebenaran dan memberi kita taufik untuk mengikutinya, dan menunjukkan mana yg batil serta memberi kita taufik untuk menghindarinya.

  • comment-avatar

    Berarti anda membantah semua ulama yang ada dibawah ini :
    1) Al Imam Syafi’i : Bid’ah (muhdasat) ada dua macam : pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al Qur’an atau Sunnah atau ijma’, dan itu disebut bd’ah dlolalah ( tersesat ). Kedua sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al Qur’an, Sunnah dan ijma’ dan itu disebut bid’ah madzmumah ( tidak tercela ). ( Al Baihaqi, Manaqib al Syafi;i, 1/469 ).
    Imam Qurtubi juz. 2 halaman 86-87 mengatakan: “ Imam Syafi’i berkata, bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih: ‘inilah sebaik-baik bid’ah’ “.Selanjutnya Al-Hafidh Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubi rahimahullah berkata: “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafi’i), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi: ‘seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah’ (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw., atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yg mengikutinya’ (Shahih Muslim hadits no.1017–red) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubi juz 2 hal. 87)
    2) Al – Imam Ibn Abdilbarr :Adapun perkataan Umar, sebaik-baiknya bid’ah, maka bid’ah dalam bahasa Arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid;ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah yang telah berlaku, maka bid’ah itu tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila telah jelas alirannya. Sedangkan bidah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah, maka itu sebaik-baiknya bid’ah ( Al-Istidzkar, 5/152 )
    3) Al-Imam Nawawi : Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah ( baik ) dan bid’ah qobihah (buruk) ( Tahdib al-Asma wa al-Lughat 3/22 )
    4) Al-Hafidz Ibn al-Atsir al-Jazari : Bid’ah ada dua macam : bidah huda ( sesuai petunjuk agama ) dan bid’ah dhalal (sesat). Maka bid’ah yang menyalahi perintah Allah dan Rasulullah tergolong bid’ah tercela dan ditolak. Bid’ah yang berada dibawah naungan kumuman perintah Allah dan dorongan Allah dan RasulNya maka tergolong bid’ah terpuji. (al-Nihayah fi Gharib al-Hadist wa al-Atsar )
    5) Al-Hafidz Ibn al-‘Arabi al-Maliki : Umar berkata : “ini sebaik-baiknya bid’ah”. Bid’ah yang dicela hanyalh bid’ah yang menyalahi Sunnah. Perkara baru (muhdast) yang dicela adalah mengajak pada kesesatan. (Arodhat al-Ahwadzi Syarh Jami’ alTirmidzi )
    6)Al-Imam Izzudin bin Abdissalam : Bid’ah adalah mengerjakan ssuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi pada jaman Rasulullah), bidah terbagi lima yakni bidah wajibah, bid;ah mandubah (sunnah), bidah mubahah, bid’ah mahkurkah,bidah muharromah. Jalan untuk membandingkan hal tersebut dengan kaedah-kaedah syariat. (Qawaid al Ahkam fi Mashalih al-Anam)
    7) Ibn Hajar AL Asqolani : Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”. (Fathul Baari 4/318 )
    Dan masih banyak lainnnya… Memang orang wahabiyyun, merasa ilmu sudah tinggi sehingga punya kemampuan dalam memahami nash yang sudah ada.. bahkan melakukan tahrij sertamembandingkan antara satu dengan yang lain… Wahabi. Wallahu a’lam bis shawab.

    • comment-avatar

      Wahhabiyun lebih mengedepankan hadits Nabi dari perkataan para ulama, sebab itulah mereka banyak dibenci oleh Ahlul Bid’ah yg mendahulukan perkataan ulama (yg sesuai selera mereka) di atas hadits Nabi. Allaahumma lakal hamdu ‘ala an hadaitana lisunnati nabiyyika.

  • comment-avatar
    al hawadaa 9 years ago

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Ustad Abu Hudzaifah Al Atsary..

    Semoga Allah merahmati dan memberi Pak Ustad kesehatan yang baik, agar ilmu yang bermanfaat mengikuti pemahaman para shalafus sholih yang Pak Ustad sampaikan berkesinambungan dan bid’ah² terkikis habis dari permukaan bumi, yang haq (sunnah) berjaya dan yang bhatil (bid’ah, syubhat, kurafat, fitnah) tenggelam..Aamiin ya Robb..

    Ana sangat menyukai artikel² Pak Ustad dan komen²nya.., sangat ilmiah dan bernas.., Subhanallah..Alhamdulillah..

    “Al Qodhi mengatakan: Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya
    tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/376)

    Rasulullah bersabda:

    “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

    sabda Rasulullah:

    “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang
    membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

    Barokallahu fiik..

    • comment-avatar

      Allaahumma aamien wa iyyaakum, wa jazaakumullaahu khairan atas support yang ibarat air dingin di hari yang sangat panas … memberi kesegaran baru untuk tetap bekerja. Blog ini tidak akan bertahan tanpa taufik dari Allah, kemudian tanpa dukungan orang-orang seperti antum. Wa fiikum baarakallaah.

  • comment-avatar
    utsaimin ma'shum 9 years ago

    penyebab dari perdebatan, diskusi, caci maki disini adl perbedaan takhrij hadits dari ulama itu sendiri.tanpa stempel shohih dari syekh albani maka dg sendirinya pengamalan dari hadits tsb sbg sesat, bid’ah

    • comment-avatar

      Kalau ingin diskusi yg ilmiah, sesuai kaidah-kaidah takhrij hadits tanpa mengikuti pendapat syaikh Al Albani (dan konsekuensinya saya juga tidak akan menerima pendapat ulama Anda spt Alawi Al Maliki dan Al Ghumari), saya siap. Agar orang-orang tahu siapa yang benar dan siapa yang salah… bagaimana dengan Anda?

  • comment-avatar
    Abd Al Azizy 9 years ago

    Islam itu ibarat jalan pulang, bahaya jika salah peahaman sehingga salah mengambil jalan.

    Jadi harus betul betul diteliti dengan sangat hati-hati kebenaran dalil dan pemahamannya, bagi yang mengkhawatirkan keselamatannya sendiri

    Penelitian tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kecerdasan, kejujuran, kesabaran, pengetahuan dan kemampuan, terhadap sumber yang asli.

    Pemahaman yang benar tidak akan diperoleh kecuali oleh yang belajar dari orang yang berguru langsung kepada yang maksum. Atau dari orang-orang yang sudah disaksikan kebaikannya oleh yang maksum tersebut.

    Yang Maksum adalah Rasulullah. yang berguru langsung adalah para Sahabat, dan yang disaksikan adalah 3 generasi awal Islam. Begitulah dari hadits2 shahih yang sudah mahsyur.

    Sedemikian sederhananya Islam. Mudah sekali, jika itu tidak dilakukan oleh 3 generasi awal yang disaksikan kebaikan islamnya, maka jauhi saja.

    Jika memandangnya seperti ini, akan menjadi kehati-hatian bagi para ulama. Dan insya Allah, lebih dekat kepada keselamatan bagi yang awam.

    semoga Allah merahmati para mukmin pembela sunnah yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Mengampuni kekhilafan para ulama. Dan memberi kemurahan pada segenap kaum mukminin yang terbatas keadaannya. Barakalloh ya Ustadz.

  • comment-avatar
    Abu Nabila 9 years ago

    Baarakallahu fiik Ustad, semoga Allah selalu menjaga Antum beserta seluruh ummat yang berjalan di atas manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah. Mungin rumus untuk bangsa Indonesia jika ingin menjadi negara yang benar2 diberkati oleh Allah SWT adalah : 1. Tegakkan tauhid dan berantas syirik 2. Tegakkan Sunnah dan berantas bid’ah 3. Tegakkan amal baik dan berantas kemaksiatan.

    Wallahu a’lam bis shawab.

  • comment-avatar
  • comment-avatar

    Bismillah
    saya heran dengan orang indonesia sekarang.
    sebenarnya al qur’an dan hadits nabi shalallahu alaihi wasallam ini di dalam berbahasa indonesia, sunda, kaili, ato arab ?

    kok tidak mau membuka hati dengan membaca secara seksama dlu.

    Coba baca dlu perlindungan diri dari syaithan, trus baca bismillah.

    baca baik baik ….

    InsyALLAH Hidayah taufiq itu akan Allah berikan kepada org org yg sungguh sungguh, (sungguh sungguh dalam mencari kebenaran tanpa memperhitungkan pendapat orang bahasa kasarnya)

    akhirnya ana ucapkan Afwan akh.. Nabi Ane Muhammad,Qudwah ane beliau dan para salafusshholeh..
    min awaa ilil ummah..
    bukan meremehkan para wali (atau habaib dan ulama lainnya yg membolehkan bid’ah hasanah).. , tpi mereka adalah manusia juga khafiya alaihim asy yaa mitsla ma yakhfa alaina..

    Imam Syafi’iy bahkan pernah mengatakan “Idza shahhal hadiits fahua madzhabiy”..

    Siapapun dia perkataannya di ambil atw diterima kcuali Rasulullah Shallahu alaihi wasallam begitulah perkataan Imam Malik rahimahullah…

    Pada kesempatan lain Imam Syafi’iy bahkan pernah mengatakan; “Tidak halal bagi seseorang yang telah jelas baginya petunjuk Rasulullah, kemudian meninggalkannya karna perkataan seseorang siapapun orang itu”

    Jadi Maaf, tolak ukur kita adalah dalil dan qaidah dalam memahaminya… bukan Hawa dan athifah..
    sekali lagi afwan….
    Baarakallahu fiikum..

  • comment-avatar
    Anton Subarkat 9 years ago

    Alhamdulillah Ustadz atas faedah2 yang diberikan, semoga kebaikan selalu tercurah atsa ustadz dan seluruh keluarga. Amin.
    jazakallahu khair…

  • comment-avatar
    abu vulkanik 9 years ago

    mana bantahan untuk buku ini
    kok tulisannya jadi ngalor ngidul + fitnah yah….

    • comment-avatar

      nt baca aja yg di: http://www.muslim.or.id
      Fitnah apa maksudnya? Fitnah karena membongkar kedok orang-orang yg menyesatkan umat atas nama ‘keturunan Rasulullah’?? Wa ni’matil fitnatu idzan…

      • comment-avatar
        abu vulkanik 9 years ago

        pegang ucapan anda ini. sungguh ucapan anda ini akan diminta pertanggungjawaban di hari akhir kelak…
        “Menjaga pamor dan kehormatan adalah kunci utama para penjaja bid’ah. Pamor dan kehormatan tadi mereka lestarikan secara turun temurun agar anak cucu mereka kelak menjadi orang kaya dan terpandang. Kalau ada diantara mereka yang binasa, segeralah mereka menjadikan kuburnya sebagai pusara besar yang menjadi tambatan hati para pengikutnya. Dengan demikian, generasi penerusnya akan semakin kaya, terkenal dan disegani.”

  • comment-avatar
    Tommi 9 years ago

    Orang2 yg aneh. Artikel ustadz Firanda yg membantah habib Munzir jg dibilang artikel fitnah pdhl ustadz jg membuat bantahan berdasarkan fakta di buku dan webnya habib Munzir. Kalian emang aneh.

    Baca disini : http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/207-habib-munzir-mencela-imam-masjidil-haram-syaikh-dr-abdurrahman-as-sudais-

    Siapakah yg lebih dulu memfitnah syaikh sudais hafizhohulloh dengan tanpa bukti dan asal2an begitu??? Bukalah matamu wahai saudaraku abu vulkanik.

    • comment-avatar
      abu vulkanik 9 years ago

      tidak ada asap kalau tidak ada api, ya kan gan?
      yang batil memang harus di ungkap supaya publik tahu, bukan maksud untuk menghina / merendahkan seseorang tapi pemikirannya.
      anda sendiri membela ulama2 yg ditunjuk pemerintah arab yang notabene “sekutu negeri barat”
      masya Allah
      jalani saja yang menurut anda benar, dan kami jalani yang kami yakini. dan tidak perlu mengkafirkan / memusryikan seseorang atau kelompok.

      Sabda Rasulullah saw : “Orang muslim yang baik adalah yang muslim lainnya aman dari ganguan ucapannya dan tangannya, dan orang yang Hijrah (tergolong kelompok Muhajirin) adalah yang meninggalkan apa apa yang dilarang Allah” ((Shahih Bukhari)

      Sabda Rasulullah saw :
      “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

      • comment-avatar

        Siap gan, dan salah satu yang kami yakini sebagai kebenaran ialah membongkar kedok para penjaja bid’ah khurafat macam Mundzir dan Novel Alaydrus… nt ga’ usah berdalih dengan satu hadits yg nt fahami secara parsial, lalu melupakan segudang hadits lainnya dan melupakan bahwa para ulama sejak zaman sahabat sampai hari ini selalu menjelaskan penyimpangan yg dilakukan oleh oknum kaum muslimin. Hadits itu nt letakkan tidak pada tempatnya… untuk apa para ulama menulis buku-buku bantahan terhadap ahli bid’ah kalau memang hal itu terlarang… nt ngaji dulu yg bener gan… ngaji sama ustadz ahlussunnah yg sungguhan, bukan yg gadungan… yg kerjaannya ngajarin ngalap berkah dan ziarah ke makam para wali doang.

      • comment-avatar
        Tommi 9 years ago

        Kalau mas abu vulkanik terbiasa membaca buku2 bantahan/rudud yg ditulis para ulama ahlusunnah untuk membantah ahlul bid’ah dari jaman ke jaman niscaya antum akan tahu mana yg benar2 berada di jalan sunnah, mana yg menyimpang, dan alhamdulillah hal ini benar2 terang jika hati kita terbuka menerima kebenaran, tidak dilingkupi oleh kabut fanatik buta.

        Antum membawakan hadits tapi tidak pada tempatnya. Afwan mas abu vulkanik, coba antum renungkan yg ini, apakah keturunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itu ma’shum spt datuknya sehingga apa yg dikatakannya selalu benar dan patut diikuti?

        Ana menghormati ahlul bait dan siapapun umat muslim pd umumnya yg berperilaku sholih, bukan tholih. Andaikan habaib yg ada di indonesia berada pd jalur sunnah dan bukan jalan bid’ah spt itu, niscaya ana ga akan ragu memberikan loyalitas ana pd mereka.

        Tp walaupun begitu ana tetap mendoakan semoga habib Novel, habib Munzir dan habaib lainnya yg masih berkubang didalam kebid’ahan, mendapat hidayah dari Allah Ta’ala untuk kembali pada jalan sunnah yg telah dirintis datuk mereka -Shallallahu alaihi wasallam-

  • comment-avatar
    abu vulkanik 9 years ago

    bukankan anda yg memahami hadist tentang bid’ah secara parsial :).
    ngaji sama ustadz nt yah gan?
    bisa nt jabari sanad keguruannya….

    • comment-avatar
      openMind 8 years ago

      [quote]
      “bisa nt jabari sanad keguruannya….”
      ==============
      fyi, Habib Mundzir saja banyak menukil hadits dari asy-Syaikhain di kitab-nya,
      ex : HR. Bukhari,HR. Muslim
      ..
      i wonder, kalau emang sanad beliau betul-betul sampai/manqul sampai Imam Bukhari,
      kemudian perowi di atas Habib Mundzir selamat dari Jarh wa Ta’dl (kalo emang ada yang menimbang)
      kenapa gak sekalian HR. Ibnu Mundzir saja ya ..?
      ..
      @ crossroad

      • comment-avatar
        Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

        He he he… antum pandai juga bercanda. Koreksi dikit: Bukan HR. Ibnu Mundzir, sebab Ibnu Mundzir punya kitab hadits juga yg namanya Al Ausath, dan terkadang ada ulama yg mentakhrij sebagian hadits ke kitab tsb, dengan mengatakan Rowaahu Ibnul Mundzir..

        Mungkin Maksud Antum: “HR. Habib Mundzir”…

        • comment-avatar
          openMind 8 years ago

          na’am … antum benar, ana yang keliru 🙂
          ..
          btewe ..ana baru tahu kalo al-Ausath milik Ibnu Mundzir,
          ana pikir milik Imam ath-Thabrani,
          ..
          Syukron koreksinya,
          ..
          Barakallaahu fiik

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            Imam At Thabrani nama kitabnya: “Al Mu’jamul Ausath” kadang disingkat Al Ausath saja untuk membedakannya dari Al Mu’jamul Kabir dan Shaghir.
            Sedangkan nama kitab Ibnul Mundzir (wafat th 319 H) adalah “Al Ausath Fis Sunan wal Ijma’ wal Ikhtilaf”.
            Imam Bukhari juga punya kitab yang disingkat “Al Ausath”, namun nama sesungguhnya “At Taariekh Al Ausath”. Semuanya adalah kitab2 hadits,walaupun topik masing-masing tidak sama.

  • comment-avatar
    abu vulkanik 9 years ago

    oiya, kenapa komentar saya untuk agan tommy tidak ada yah. dihapuskah

  • comment-avatar
    abu vulkanik 9 years ago

    no offence ya gan
    =================
    Ada yang menganalogikan, bid’ah itu di qiyaskan dengan naik unta vs naik motor, surat vs facebook. komputer, baju, dan lain lain.

    ITU ADALAH QIYAS MA’AL FARIQ

    qiyas mengenai perihal perkara bid’ah spt fb, komputer, mobil, dll, itu tidak lah tepat, karena itu adalah perkara BASYARIYAH yang merupakan suatu hal yang wajar

    Dalam perjalanan kehidupan rasul,

    Ada dua sisi kehidupan,

    Pertama :

    kehidupan BASYARIYAH, yg tidak masuk dalam kategori hadist qouliyah, fi’liyah, dan taqririyah

    Kedua :
    Kehidupan nubuwwah, ini lah yang masuk kategori hadist
    Perbedaan antara nubuwah dan basyariyah memang tipis sekali..

    Contoh :

    NABI MAKAN ROTI

    Ini dalam sisi basyariyah, mengandung makna bahwa, makan roti hukumnya adalah dinamis, andai nabi hidup di indonesia, maka nabi akan makan nasi, jadi sifatnya umum dinamis, bisa berubah sesuai kondisi masyarakat.

    Namun di atas TENTANG MAKAN ROTI yang dilakukan nabi juga mengandung nubuwah, yg sifatnya STATIS,

    Contoh

    Sbelum makan nabi berdo’a

    Nabi makan memakai tangan kanan

    Nabi makan memakai tiga ruas jari

    Nabi makan barang halal

    Nabi makan dg DUDUK,

    Nabi makan dg PELAN

    Dan sebagainya..

    Perkara nubuwah itu sifatnya khusus, yg statis,

    Menilik tentang makanan, tidak semua makanan itu bersifat basyariyah, tergantung apakah di perkuat dg qouli dll..

    Contoh

    Makan cukak adalah nubuwah, krn di perkuat dg hadist qouliyah, fi’liyah, dan taqririyah
    ,

    Minum madu, adalah nubuwah

    Minyak zaitun, jinten hitam, dll.

    Ini bernilai nubuwah, krn ada khabar khususiyah tentang keutamaannya..

    Dalam perkara makan tiga ruas jari, makan pelan, nabi mengunyah sampai 21 kali, nabi makan dengan duduk..

    Khabar nubuwah ini jangan hanya di fahami secara leterleg, karena dalah hal itu ada isyarah maknawi, yang maksudnya supaya dalam makan, kita harus sabar pelan-pelan jangan terburu nafsu,

    Contoh tentang makan tiga ruas jari, kebiasaan umum masyarakat, saat itu makan dg lima jari, ini mencerminkan sifat yg serakah..

    Namun point dari nubuwah, itu bukan perkara makan pakai tangan, tapi khusus tentang tiga jari,
    Coba bedakan antara makan dg tangan, dan makan dg tiga jari..

    Dan ini pun sifatnya statis, dan dapat di korelasikan dg washilah lain, contoh makan pakai washilah sendok, BUKANKAH SAAT KITA MEMEGANG SENDOK JUGA DENGAN TIGA JARI??
    Apakah ada teman-teman yg memegang sendok dg lima jari? Kalo anak balita memang iya..

    Dan andaipun nabi hidup di china, niscaya nabi pakai supit, dan saat pegang supit juga TETAP PAKAI TIGA JARI,

    Jadi point nya bkn masalah pada tangan, sendok, atau supit, Tapi tiga jari,

    Krn jika kita makan pakai lima jari, itu bkn dg sendok, TAPI DENGAN ENTONG, dan itu adalah TANDA SERAKAH

    Jadi makna isyarat yg di ajarkan nabi, itu tentang KETAWADHUAN, tidak boleh SERAKAH.

    Sehingga kita dapat mengambil point pertama bahwa pengertian bid’ah adalah, Sdangkan makan dg sendok, supit, atau garpu, itu bukan bid’ah, krn ini perkara basyariyah
    Batasan Antara basyariyah dan nubuwah, adalah, basyariyah itu bersifat umumnya tindakan manusia, sdgkn nubuwah itu bersifat khusus yang ada pada nabi berbeda dengan manusia umum nya,

    Dalam kaedah USHUL I’TIQOD ATAU ILMU KALAM, nabi memiliki sifat wajib, mustahil. dan ja’iz, sifat nabi yang merupakan sifat wajib disebut nubuwah, dan sifat ja’iz nabi disebut basyariyah.

    Dalam basyariyah itu mengandung nubuwah, begitu juga sebaliknya, ibarat satu mutiara memendarkan dua warna, warna kemanusiaan dan warna kenabian, jdi bedanya hanya objek perspektif, sdangkan esensinya adalah 100 % sunnah.., sehingga seluruh kehidupan nabi dari lahir sampai wafat disebut sunnah,, namun tidak semua di masukkan dalam kategori hadist yang berisi risalah,

    seluruh kehidupan nabi dari lahir sampai wafat, dari bangun dan tidur itu 100 % BERNILAI IBADAH, krn beliau tiap detik tdk pernah putus dalam dzikrullah, jadi seluruh kehidupan nya merupakan sunnah (jalan) kenabian, namun nabi tetaplah manusia yang mempunyai sisi basyariyah, dimana tiap orang berbeda beda ukuran nya, contoh nabi makan berapa kali sehari? Apakah sama takaran nya dg manusia lainnya sdangkan kebutuhan kalori manusia itu berbeda, nabi tidur berapa jam tiap hari, apakah bisa di samakan? Tentu tidak, tergantung, krn itu tiap shahabat yg satu dg yang lain skalipun memiliki kapasitan dan kualitas yang berbeda,

    tidak sepenuhnya jalan kenabian itu dapat kita tiru seluruhnya, karena bagi nabi, ada yang tidak boleh di lakukan oleh selain beliau, kita ambil contoh menikah poligami lebih dari empat istri, juga tentang status istri yang telah di tinggal nabi wafat, haram untuk di nikahi, krn merupakan ummul mu’minin, nabi dan keturunan nya tidak boleh menerima zakat, dll, jadi ada sunnah nabi, yang tidak bisa di ikuti, krn berbeda status

    point yang pertama diatas adalah, menerangkan bahwa BID’AH adalah suatu hal yang tidak di lakukan dalam sunnah nubuwah

    Di sini akan di jabarkan lagi, bahwa

    esensi sunnah nabi tidak sekedar suatu hal yang sharih, qoth’i, atau khusus, namun juga berbagai tingkah laku yang bermuara pada dirinya, namun dalam segala prilaku beliau yang bersifat sunnah nubuwah,

    Dalam sisi pengertian ushuly, Suatu hal di sebut bid’ah itu adalah lawan dari sunnah, dimana keduanya lepas dari perkara basyariyah.. Dimana hanya bertumpu pada hal yang berlawanan dengan sunnah nubuwah..

    ini dalam perspektif ushuli atau i’tiqod yg baku, yang tidak ada ikhtilaf

    Sedangkan dalam furu’ fiqhiyah, inti yang kita bahas ini, saya ambil dari pendapat jumhur madzhab imam syafi’i, yaitu bid’ah masuk lima hukum fiqih, ada bid’ah hasanah dan madzmumah..

    Di sini nanti kita akan menemukan ungkapan imam ibnu katsir yang berbunyi “lau kana khairan lasabaquna ilaihh”, ini adalah ungkapan yang sering di salah fahami kaum wahabi, padahal ungkapan di atas bukanlah qo’idah ushul fiqih, sebab ungkapan di atas itu adalah penerang atau penjelas dari definisi bid’ah itu sendiri

    saya akan paparkan, PERIHAL OBJEK dari bid’ah, supaya tidak terjadi salah kaprah dalam istinbath qiyasi maupun majazi, sehingga akan ada korelasi dalam memahami suatu hal mendasar tetang objek bid’ah.

    Kenapa di atas saya bilang bnyak yang salah kaprah dalam menganalogikan bid’ah sehingga Banyak teman2 aswaja yang menganalogikan, bid’ah itu di qiyaskan dengan naik unta vs naik motor, surat vs facebook.. Speaker, komputer, dll

    DI MANA SAYA BERPENDAPAT BAHWA HAL ITU ADALAH QIYAS MA’AL FARIQ

    Sebab istilah bid’ah itu sendiri sama sekali tidak berhubungan dg perkara basyariyah, karena yang di sebut bid’ah itu adalah suatu hal yang tidak di lakukan nabi (karena sebab-sebab tertentu), NAMUN SAAT ITU SEBENARNYA SANGAT MEMUNGKINKAN UNTUK DI LAKUKAN NABI, contohnya, kenapa nabi tidak shalat tharawih berjama’ah, sedangkan saat itu beliau memungkinkan untuk melakukannya.. Namun beliau tidak melakukannya, sehingga amirul mu’minin umar bin khatab mengatakan ni’mati bid’ati hadzihi, (INI ADALAH PERNYATAAN YANG TEPAT DAN AKURAT,) karena memang shalawat tharawih berjama’ah memang merupakan bid’ah, di mana saat itu nabi memungkinkan untuk melakukannya, namun nabi tidak melakukannya..]]

    Begitu juga dalam perkara pengumpulan mushaf, ini juga sangat memungkinkan untuk di lakukan nabi, namun nabi tdk melakukannya.. Sehingga awalnya sampai terjadi perdebatan antara, umar, abu bakar, dan zaid ra,,

    Sehingga tidak benar jika di qiyaskan dg naik mobil, fb-an, internet-an, karena saat itu nabi sama sekali TIDAK MUNGKIN untuk melakukan hal itu.

    sehingga akan kita kenal istilah TARKUL AMAL,, yaitu semua perkara amaliyah yang tidak di lakukan nabi.

    Akan saya kasih contoh perbandingan..

    Dalam hukum sholat

    Ada dua sisi..

    hukum syariah fiqhiyah saya sebut sisi SYARIAH

    Dan

    hukum kifayatus sholah saya sebut sisi KIFAYAH

    Nabi shalat fardhu lima waktu berjamaah

    hukum jama’ah lima waktu

    Sisi Syari’ah adalah SUNNAH

    Sisi kifayah adalah SUNAH MUAKAD atau mandub

    Nabi melakukan sholat jum’at berjama’ah

    hukum jama’ah jum’ah

    Sisi syari’ah wajib a’in

    Sisi kifayah rukun wajib

    Nabi melakukan sholat id’ain berjamaah

    hukum jama’ah id’ain

    Sisi syari’ah sunah muakad

    Sisi kifayah rukun wajib

    Nabi melakukan shalat jenazah berjama’ah

    hukum jama’ah shalat jenazah

    Sisi syariah sunah

    Sisi kifayah sunah muakad

    Nabi shalat tharawih tapi tidak jama’ah

    hukum jama’ah tharawih

    Sisi syari’ah bid’ah hasanah

    Sisi kifayah mubah

    Nabi shalat qabliyah ba’diyah, tidak berjama’ah

    hukum jama’ah qobliyah ba’diyah

    Sisi syari’ah bid’ah mungkarah

    Sisi kifayah bathil

    Nabi melakukan shalat tahajud tapi tidak berjama’ah

    hukum jama’ah tahajud

    Sisi syari’ah bid’ah hasanah

    Sisi kifayah mubah

    Dan lain-lain

    Coba perhatikan, beberapa korelasi di atas, itu adalah ijtihad ulama’.

    SEHINGGA KESIMPULANNYA

    @[0:0;bid’ah adalah, suatu perkara yang tidak di lakukan nabi, yang dimana sebenarnya saat itu memungkinkan bagi nabi untuk melakukannya, namun nabi tidak melakukannya DIMANA suatu perkara yang TIDAK DI LAKUKAN NABI itu berada dalam koridor nubuwah, bukan dalam perkara basyariyah,]

    • comment-avatar

      Penjabaran yang menarik… tapi di akhirnya antum membikin kesimpulan yg aneh, yaitu ketika mengatakan:
      Nabi shalat tharawih tapi tidak jama’ah

      hukum jama’ah tharawih

      Sisi syari’ah bid’ah hasanah

      Sisi kifayah mubah

      Nabi shalat qabliyah ba’diyah, tidak berjama’ah

      hukum jama’ah qobliyah ba’diyah

      Sisi syari’ah bid’ah mungkarah

      Sisi kifayah bathil

      Nabi melakukan shalat tahajud tapi tidak berjama’ah

      hukum jama’ah tahajud

      Sisi syari’ah bid’ah hasanah

      Sisi kifayah mubah

      Sesekali antum bilang itu bid’ah hasanah, lalu bid’ah mungkarah, lalu bid’ah hasanah… apa standarnya? Adakah antum mengatakan spt itu berdasarkan dalil khusus ataukah berdasarkan analogi (alias, sekedar ro’yu saja)?
      BTW, bagaimana batasan antara bid’ah yg hasanah dengan yg tidak hasanah? kalau memang ada bid’ah hasanah DALAM SYARIAT ISLAM, maka harus ada batasan yg jelas (dhawabit) agar umat ini tidak bingung… sebab kelompok A mengklaim bhw merayakan maulid nabi itu bid’ah hasanah, sedang kelompok B mengklaim sebagai bid’ah dholalah…

      Lagipula, contoh-contoh yg antum sebutkan itu ghairu musallam (tidak bisa diterima begitu saja). Misalnya ketika antum mengatakan: Nabi melakukan shalat tahajud tapi tidak jama’ah. Siapa bilang begitu? Justru disebutkan bahwa Nabi pernah shalat malam sendirian lalu ada sahabat yang bermakmum dengan beliau, spt Hudzaifah, Ibn Abbas, dan Ibn Mas’ud (masing-masing shalat dalam kesempatan yg terpisah dan tanpa kesepakatan terlebih dahulu). dan semuanya disebutkan dlm hadits shahih. Dari sini bisa disimpulkan bahwa jika suatu ketika diadakan shalat malam berjama’ah namun tidak dijadikan rutinitas, maka tidak mengapa. Yang terlarang ialah bila terjadi suatu kesepakatan untuk shalat malam (tahajjud) berjama’ah tiap bulan sekali, atau tiap minggu, atau tiap tahun dan semisalnya… sehingga apa yg mulanya dilakukan secara ‘kebetulan’ oleh Rasulullah dan para sahabatnya, berubah menjadi ‘adat’ atau ‘tradisi’. Inilah yg namanya bid’ah. Adapun perkataan Umar ttg terawih berjama’ah sbg bid’ah yg paling baik, maka tentu dan pasti 100% bahwa yg beliau maksudkan adalah bid’ah lughawiyyah, bukan bid’ah syar’iyyah… sebab ternyata Nabi sendiri melakukannya beberapa kali lalu meninggalkannya dengan alasan bhw beliau takut jika Allah mewajibkan tarawih atas umatnya, dan hal ini tidak menjadi kekhawatiran lagi setelah beliau wafat, sehingga hukumnya kembali ke status awal yaitu sunnah… apalagi yg menghidupkan sunnah ini adalah Umar bin Khatthab yg notabene salah satu khulafa’urrasyidin yg kita disuruh mengikuti sunnah-sunnah mereka, dan inilah salah satunya… faham ya akhi?

      • comment-avatar

        kalo ada bid’ah hasanah. kenapa nggak dinamakan SUNNAH aja sekalian?? hehe..
        dan juga menurut an, nggak jelas batasan bid’ah hasanah itu..

  • comment-avatar
    qqudwatunnissa 9 years ago

    Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz, salam kenal.. ana s org br blajar ttg islam srg b ty2 knp bgt byk umat islam terpecah belah, alhamdullillah t jwb stlah mbc dan mbuka blog ini, krn sblmny ana mbuka2 blog2 lain yg tnyata mrk mhujat jamaah yg mnegakkan tauhid dan mhidupkan sunnah dgn emosi dan tdk ilmiah, tp mdukung gol yg byk mlakukan kemusyrikan dan kebidahan, bahkan ada blog yg mngatasnamakn SALAFY INDONESIA, tp ana ykn mrk bkn SALAFY yg sbenarnya krn mrk byk mhujat dgn emosi, kata2nya kasar tdk mcerminkn s org ustadz, tidak ilmiah alias tidak mmakai dalil, ana memang org awam dlm hal agama..tp stlah mbuka blog ini ana mdpt pencerahan, paparan ustadz yg sgt ilmiah dan ustadz tdk btindak emosi ktk ada yg tdk spahaman dgn ustadz, serta ustadz bgtu mnguasai tarikh, hadist, dll, mbuat ana ingin blajar trs..krn smkin th ttg islam ana smkin mrsa btp bodohny diri ini btp islam bgtu luas dan bs mbuat hati mrasakan kbahagiaan, trus bjuang ustadz utk menegakkan tauhid, mberantas kemusyrikan, kebidahan, kemaksiatan dan mhidupkan sunnah Rassullullah shallahu `alaihi wassalam.

    Ustadz bgm cr mjwb kpd org2 yg byk mhujat para ulama salaf, bhkn mrk mhina Ibnu taimiyah, Muhammad bin abdul wahhab, konon ktny mrk antek inggris, org2 ini tlh mbc buku2 yg tnyata bhw Ibnu Taimiyah mbenci Ali bin Abu Thalib kmdn Muhammad bin Abdul Wahhab antek inggris dan yahudi, org2 ini bgtu ngototny mhina beliau, sdgkn ana adlh org awam..tlg ustadz!!! Insya Allah ykn ustadz bs mngetahui ttg ini..

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 9 years ago

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh…

      Syukron ukhti atas komentarnya yg menggugah ! Membaca pertanyaan anti, ana jadi teringat dengan kata-kata Imam Syafi’i bahwa mencari keridhaan orang-orang, adalah tujuan yang tak mungkin tercapai. Hal senada juga pernah dikatakan oleh Imam Hasan Al Bashri, rahimahumullaah. Maksudnya, jangan berkecil hati jika mendengar orang-orang yg menghujat Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll; sebab hujatan tsb sedikitpun tidak merugikan pihak yg dihujat. Justru hujatan tsb menambah pahala bagi orang-orang yg dihujat, atau mengurangi dosa mereka.
      Melontarkan tuduhan adalah kebiasaan ahlul batil sejak dahulu sampai akhir zaman. Bukankah Nabi Musa & Harun ‘alaihimassalaam dituduh tukang sihir oleh Fir’aun & pengikutnya? (Thoha: 63). Bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dituduh majnun (gila), penyihir, penyair, dll? Bukankah Abu Bakar, Umar, Utsman dan mayoritas sahabat juga mendapat tuduhan keji dari musuh2 Islam? Bahkan bukankah Allah ‘azza wa jalla sendiri juga ‘dituduh’ memiliki anak, bakhil, dll??
      Namun, apakah semua tuduhan tadi merugikan pihak-pihak yang dituduh? SAMA SEKALI TIDAK. Justru yang menuduhlah yg celaka.
      Oleh karena itu, kita tidak usah kecil hati kalau ulama-ulama kita dituduh, cukuplah kita katakan kepada mereka: Haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqien (Mana buktinya kalau kalian memang benar !).
      Ibnu Taimiyyah membenci Ali?? Hanya orang bodoh yg tidak mengenal Ibnu Taimiyyah saja yg berkata spt itu. Dia pasti tidak bisa bahasa Arab, atau kalaupun bisa, pasti belum pernah membaca buku2 Ibnu Taimiyyah yg sarat dengan pujian terhadap para sahabat, termasuk sayyidina Ali bin Abi Thalib. Paling yg dibaca adalah buku2 tulisan ahli bid’ah yg memusuhi ibnu Taimiyyah, yg pasti sarat dengan hujatan murni tanpa bukti. Nah, orang spt ini sangat banyak jumlahnya, dan tidak perlu kita gubris… karena mereka tdk mengerti bagaimana cara diskusi ilmiah. Diskusi ilmiah itu ialah membahas seseorang secara obyektif, dari sumber-sumber yg terpercaya, spt dari buku-buku yg terkenal sbg tulisan orang tersebut, atau dari pernyataan murid-murid dekatnya. Ibnu Taimiyyah memiliki puluhan kitab yg telah dicetak dan beredar di seluruh dunia… coba buktikan, mana statemen beliau dari sekian banyak kitab tadi yg menunjukkan bhw beliau membenci Ali? Saya beri tangguh 100 tahun bagi mereka untuk membuktikan hal tersebut. Kalau diskusi dengan saling menuduh dan otot-ototan, maka tdk usah kita ladeni… buang-buang waktu dan tenaga. Ingatlah kata pepatah: “Anjing menggonggong, kafilah berlalu”.
      Demikian pula yg dituduhkan kepada Muhammad bin Abdul wahhab. sama persis.

  • comment-avatar
    Abu Ridho 9 years ago

    Assalammu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

    UMAT COPY PASTE

    Saudara-saudaraku pecinta Maulid mudah-mudahan Allah memberikan hidayah-Nya kepada antum sekalian, amin.

    Saudara sekalian dalam urusan maulid kita telah didahului umat lain sebagai berikut :

    1. Hari Waisak adalah Maulid Sidharta Gautama dirayakan oleh Umat Buda sejak sebelum Masehi.
    2. Natal adalah Maulid Yesus dirayakan oleh Umat Kristen sejak abad-abad awal Masehi.
    3. Maulid Nabi Muhammad pertama dirayakan oleh Umat Syi’ah dimulai beberapa abad setelah Nabi Wafat.

    Ternyata Umat Islam yang merayakan Maulid sekarang ini adalah hasil Copy & Paste (tasyabuh) dari perayaan semodel dari umat-umat terdahulu.

    Apa kata Nabi soal tasyabuh, renungkanlah 2 hadits berikut :

    “Dan pasti kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak dan sejengkal demi sejengkal, hingga kalaupun mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.”, Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab , “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim no. 2669)

    Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dalam musnadnya juz II hal. 50)

    Jika demikian dilarang Nabi, maka tidak akan mungkin untuk menemukan dalil shahih dan sharih tentang “Peringatan Maulid”, paling-paling sebatas pembenaran saja.

    Saudaraku seandainya Maulid itu bagian dari syariat sudah pastilah Allah “tidak lupa” memerintahkan kita untuk merayakan maulid Manusia Paling Mulia ini.

    Semoga menjadi renungan bagi antum sekalian.

    Wa Salammu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh.

  • comment-avatar
    Abu Keblinger 8 years ago

    Assalamu’alaykum …

    mau melakukan ini bid’ah, mau melakukan itu bid’ah, si anu ahl bid’ah, si ini ahl bid’ah, si itu ahl bid’ah ..

    afwan … sepertinya yang masuk jannah cuma antum dan pengikut antum ya .. ? 🙂

    Saudaraku Abu Hudzaifah Al Atsary, coba baca, pikir, dan renungkan perkara di bawah ini …

    [PERTAMA]
    Bagaimana dengan redaksi shalawat yang disusun oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i dan lain-lain, yang jelas-jelas tidak ada contohnya dalam hadits Rasulullah saw.

    Beranikah Anda mengatakan bahwa dengan sholawat yang mereka susun, berarti Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, Imam al-Syafi’i itu termasuk ahli bid’ah?

    [KEDUA]
    kalau Anda menganggap doa-doa yang disusun oleh para ulama termasuk bid’ah, bagaimana Anda menanggapi doa yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang dibaca oleh beliau selama 40 tahun dalam sujud ketika shalat.

    Beliau membaca doa berikut:

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ

    “Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i“.

    Doa ini dibaca oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam setiap sujud dalam shalatnya selama empat puluh tahun.

    Beranikah Anda menganggap Imam Ahmad bin Hanbal termasuk ahli bid’ah yang akan masuk neraka?

    [KETIGA]
    Kalau Anda menganggap berdzikir secara berjama’ah itu bid’ah, bagaimana Anda menanggapi Ibnu Taimiyah yang melakukan dzikir jama’ah setiap habis sholat shubuh, lalu dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah sampai Matahari naik ke atas, dan ia selalu menatapkan matanya ke langit.
    Padahal apa yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw.

    Beranikah Anda menganggap Ibnu Taimiyah termasuk ahli bid’ah dan ahli neraka?”

    salah seorang Ustadz Wahabbiy, Abu Hamzah, yang jam terbangnya sangat tinggi saja tidak bisa menjawab pertanyaan di atas …

    apalagi antum .. 😉

    Karena kalau antum mengatakan perkara yang di lakukan mereka adalah bid’ah, berarti konsekuensinya mereka melakukan sebuah amalan sessat, yang akan berakhir di neraka !!

    Semoga Allahu ta’alaa memberikan cahaya kebenaran kepada antum, dan yang di sini -aamin-

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh…
      Saudaraku Abu (Tidak) keblinger, hafizhakallah… sama sekali ana tidak pernah menganggap bhw yg masuk Jannah hanya ana maupun pengikut ana. Jannah itu luasnya seluas langit-langit dan bumi… ana justru berharap agar seluruh kaum muslimin diampuni Allah dan dimasukkan dalam Jannah berkat rahmatNya. Tapi akhi, bedakan antara menghukumi suatu amal perbuatan dengan menghukumi orang yg mengamalkannya. Suatu perbuatan bisa saja dihukumi sebagai bid’ah dholalah, namun tidak berarti pelakunya harus dianggap mubtadi’. Kalau antum punya asumsi demikian, maka itu keliru. Ana juga tidak menyamakan antara kelakuan dengan pelakunya. Ini kaidah penting yg harus kita fahami. Semua yg dinyatakan kufur, syirik, dan bid’ah berdasarkan dalil-dalil syar’i, maka kita wajib menyatakannya seperti itu. Namun tidak berarti setiap orang yg terjerumus dlm kekufuran/kemusyrikan/bid’ah, harus dihukumi sebagai kafir/musyrik/mubtadi’.

      Bedakan pula antara menghukumi pelaku secara umum (tanpa menjelaskan nama orang/menunjuk hidungnya) dengan menghukumi orang-orang tertentu secara khusus. Misalnya, ketika ada seorang ulama mengatakan bahwa barangsiapa beristighatsah kepada orang yg sudah mati berarti dia musyrik, ini namanya hukum umum. Nah, ketika si Parno -umpamanya- beristighatsah kpd orang mati, maka tidak bisa kita katakan bahwa Parno telah musyrik, berdasarkan fatwa ulama tadi. Sebab sesuatu yg sifatnya umum tidak sama dengan yg sifatnya mu’ayyan. Ketika vonis musyrik/kafir/bid’ah tadi hendak dijatuhkan pada orang tertentu, maka harus diperhatikan syarat-syaratnya apakah sudah terpenuhi semua? dan penghalang-penghalangnya apakah sudah dihilangkan semua? Dan itu bukan tugas ana, maupun ‘pengikut ana’ (kalau memang ada yg mengikuti ana)… itu adalah tugas para qadhi alias hakim di pengadilan syariat, bila orang-orang yg tersangka sebagai musyrik/kafir tadi hendak diadili dan dihukum…

      Tentang shalawat yg direkayasa oleh Sayyidina Ali, Ibnu Mas’ud, dan Imam Syafi’i; pertama-tama sebelum ana jawab: Bisakah antum memastikan keshahihan riwayat2 ini? Tentunya secara ilmiah sesuai dengan kaidah ahli hadits…
      kalaupun riwayat-riwayat tsb ternyata shahih, maka apa yg dilakukan oleh Ali dan Ibnu Mas’ud tadi tak lepas dari dua kondisi:
      Pertama, keduanya melakukan hal tsb saat Rasulullah masih hidup, dan hal tsb diketahui oleh Rasulullah; maka tidak lepas dari dua kondisi pula: A. Rasulullah membiarkannya, shg jadilah ia sunnah taqririyyah. B. Rasulullah melarangnya, maka jelaslah ia bukan sunnah dan mereka pasti akan meninggalkannya.
      Kedua, keduanya melakukan hal tsb sepeninggal Rasulullah, dan ini berarti masuk dlm kategori qoul sohabi. Bila perbuatan mereka berdua ini telah dikenal luas oleh sahabat2 lainnya dan tidak ada yg mengingkari, maka jadilah ia ijma’ sukuti. namun bila ia tidak dikenal luas dan tidak ada yg mengingkari juga, maka inilah hakikat qoul sohabi yg statusnya menurut ulama empat madzhab adalah hujjah. namun bila ada sahabat lain yg mengingkarinya, maka hal tsb tidak lagi menjadi hujjah, namun tak ubahnya seperti khilaf antara para sahabat, dan masing-masing adalah mujtahid yg bila benar akan mendapat dua pahala, dan bila salah hanya satu pahala. Dan semua kemungkinan ini tidak ada yg masuk dlm kategori bid’ah.

      Adapun redaksi shalawat yg disusun oleh Imam Syafi’i, maka tolong antum sebutkan bunyinya, dan siapa yg mengatakan bahwa Imam Syafi’i membikin redaksi tsb? Tentunya kita harus pastikan dulu keabsahan riwayat ini sebelum mendiskusikannya… ini kalau kita mau diskusi ilmiah ya akhi, tapi kalau sekedar menang-menangan dan otot-ototan, maka ana tidak perlu menjawab.

      Antum mengatakan bahwa Ana menganggap bid’ah doa-doa yg disusun oleh para ulama… Hmm, bisakah antum membuktikan ‘tuduhan’ tsb secara ilmiah? Di mana ana mengatakan hal tsb?
      Ana tidak pernah berfikir untuk mengatakan demikian, apalagi sampai mengatakannya… Jadi, ana tidak perlu menjawab sanggahan antum, sebab itu hanya ‘tuduhan’ yg tidak berdasar.
      Apa yg dilakukan oleh Imam Ahmad adalah ijtihad beliau, dan beliau tidak pernah mengklaimnya sebagai sunnah Rasulullah, maupun bid’ah hasanah… beliau hanya mengatakan bahwa dirinya selalu mendoakan gurunya yg bernama Imam Syafi’i, sebagai bentuk balas budi beliau terhadap sang guru… Apakah Imam Ahmad keliru dlm hal ini? Tidak… karena beliau tidak pernah menganggap bahwa bacaan tsb adalah bacaan yg disunnahkan/dianjurkan untuk dibaca dlm sujud, apalagi sampai mengajarkannya kepada orang-orang… beliau hanya melakukannya secara pribadi.
      Demikian pula apa yg dilakukan oleh Ibnu Taimiyyah, itu adalah ijtihad beliau dan amalan pribadi beliau… (kalau memang benar beliau melakukannya), tapi setahu ana, Ibnu Taimiyyah tidak melakukannya secara berjama’ah, namun seorang diri… kalau anda memiliki riwayat yg shahih ttg hal itu, maka harap beritahu saya.

      Terakhir, saya meyakini bahwa Ibnu Taimiyyah bukanlah ulama yg ma’shum. Beliau bisa saja melakukan bid’ah, namun tidak harus dihukumi sebagai ahli bid’ah. Karena boleh jadi bid’ah yg dilakukannya tadi adalah hasil ijtihad yg keliru -selama yg melakukan memang ahli ijtihad, spt beliau-. Kalau menghukumi seorang sebagai ahli bid’ah saja tidak semudah itu, maka apalagi menghukuminya sebagai ahli neraka… itu sangat berbahaya.
      Bid’ah itu sesat semua, dan semua yg sesat itu di Neraka, sebagaimana sabda Nabi tercinta… dan inilah yg keyakinan yg saya pegang sampai mati.
      TAPI, beliau tidak mengatakan bahwa semua pelaku bid’ah itu sesat, dan pasti masuk Neraka… dan ini pula yg saya yakini dan saya pegang sampai mati.
      Demikian, semoga bisa difahami secara obyektif dan jazakallahu khairan atas komentarnya… uhibbukum fillaah ya akhi

      • comment-avatar
        Abu -InsyaAlloh- Tidak Keblinger 8 years ago

        Bismillah …

        Assalamu’alaykum yaa akhi fillah

        sebelumnya ana ucapkan terima kasih banyak atas koreksi namanya, semoga ana, antum, dan yang ada di sini ndak termasuk orang yang keblinger .. 🙂
        ..
        afwan ya akhi, ana benar-benar tidak mengerti dengan logika berpikir antum
        Kalimat antum,
        ===========================================
        [Quote Pertama]
        “Semua yg dinyatakan kufur, syirik, dan bid’ah berdasarkan dalil-dalil syar’i, maka kita wajib menyatakannya seperti itu. Namun tidak berarti setiap orang yg terjerumus dlm kekufuran/kemusyrikan/bid’ah, harus dihukumi sebagai kafir/musyrik/mubtadi’.”
        ..
        lalu bagaimana dengan pelaku kesyirikan yang sudah jelas seperti Yahudi dan Nashara .. ?
        apakah kita akan mengatakan bahwa mereka tidak kafir .. ?
        apakah kita akan berapologi bahwa yang mereka lakukan semata-mata karena ketidak tahuan mereka .. ?
        ===========================================
        [Quote Kedua]
        “Bedakan pula antara menghukumi pelaku secara umum (tanpa menjelaskan nama orang/menunjuk hidungnya) dengan menghukumi orang-orang tertentu secara khusus. Misalnya, ketika ada seorang ulama mengatakan bahwa barangsiapa beristighatsah kepada orang yg sudah mati berarti dia musyrik, ini namanya hukum umum”
        ..
        Kalau misalkan si Parno datang ke gereja, berdoa di hadapan salib, ber-istighosah, meminta-minta,
        ..
        Berdasarkan dalil syar’i maka si Parno di hukumi kafir !
        antum sepakat akan hal ini kan .. ?
        ..
        sekarang kalau adiknya si Parno misalnya, si Pardi, kalau dia berdoa di depan kuburan, ber-istighosah, meminta-minta pada penghuni kubur,
        bukankah hukum yang di jatuhkan pada Pardi sama dengan yang di jatuhkan pada kakaknya .. ?
        ..
        Begitu juga ketika ada yang mengatakan bahwa perbuatan pelaku tawassul kufur, ahli bid’ah, sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka,
        maka mengandung konsekuensi logis, bahwa para pelaku tawassul bertempat tinggal di neraka !
        ..
        Ana harap antum bisa membawakan dalil yang sharih perihal perbedaan penghukuman, antara yang sifatnya umum, dan sifatnya khusus,
        ..
        karena (meminjam kaidah seseorang) kalau tidak ada dalil syar’i-nya berarti bid’ah donk .. 🙂
        ===========================================
        [Quote Ketiga]
        “Antum mengatakan bahwa Ana menganggap bid’ah doa-doa yg disusun oleh para ulama… Hmm, bisakah antum membuktikan ‘tuduhan’ tsb secara ilmiah? Di mana ana mengatakan hal tsb?
        Ana tidak pernah berfikir untuk mengatakan demikian, apalagi sampai mengatakannya… Jadi, ana tidak perlu menjawab sanggahan antum, sebab itu hanya ‘tuduhan’ yg tidak berdasar.”
        ..
        Sekali lagi afwan ya akhi, ana hanya memakai “kaidah” yang sepertinya sudah umum, dan tersebar luas 🙂
        ..
        Bahwa tanpa dalil yang syar’i, maka amalan-amalan yang di lakukan otomatis tertolak, karena termasuk amalan bid’ah.
        ..
        Nah sekarang, kalau ada yang berdoa terus-terusan selama 40 tahun,
        dengan lafadz itu-itu saja,
        tanpa ada dasarnya dari as-Sunnah,
        tanpa ada taqrir dari Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
        tanpa ada qoul shahabiy,
        termasuk apa kalau bukan bid’ah yaa akhi .. ?
        ..
        kalau antum mengatakan bahwa itu bukan bid’ah, bahwa itu adalah ijtihad,
        bahwa itu hanya untuk pribadi,
        tidak untuk di ajarkan kepada khalayak umum,
        Lantas, apakah kalau tidak untuk di ajarkan kepada khalayak ramai maka tidak apa-apa melakukan amalan muhdats di dalam agama .. ?
        ..
        padahal lafadz haditsnya “kullu”,
        setiap bid’ah adalah sesat, artinya semuanya, baik yang di lakukan untuk pribadi maupun di lakukan/diajarkan secara umum
        ..
        atau ada pemahaman lain ..
        “(tidak) semua bid’ah itu sesat, (tidak) semua kesesatan tempatnya di neraka” 😉

        ===========================================
        Shalawat Ibnu Mas’ud -radliyallahu ‘anhu- yang ana maksud
        ..

        حديث موقوف
        حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ
        قَالَ : ثنا الْمَسْعُودِيُّ
        عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
        عَنْ أَبِي فَاخِتَةَ ، عَنِ الأَسْوَدِ
        حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ
        قَالَ : ثنا الْمَسْعُودِيُّ
        عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ ال
        عَنْ أَبِي فَاخِتَةَ
        عَنِ الأَسْوَدِ
        عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ
        إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلاةَ عَلَيْهِ
        فَإِنَّكُمْ لا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ
        قَالُوا : فَعَلِّمْنَا ، قَالَ
        قُولُوا : اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ
        وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ ، وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ ، مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ
        إِمَامِ الْخَيْرِ ، وَقَائِدِ الْخَيْرِ ، وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ
        اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا ، يَغْبِطُهُ بِهِ الأَوَّلُونَ وَالآخِرُونَ
        اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
        كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَإِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
        وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
        ..
        situs ulama ahl as-Sunnah al-Wahabiyyah juga memuatnya
        http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?hflag=1&bk_no=270&pid=310667
        ..
        afwan sebelumnya kalo ada kalimat ana yang terlihat “aneh” (ahl as-Sunnah al-Wahabiyyah), 🙂
        karena terkadang ana juga mendengar atau membaca istilah “aneh”
        >>ahl as-Sunnah asy-Syafi’iyyah<< (??)
        ..
        Untuk shalawat Muhammad bin Idris -rahimahullah-, ana tunggu tanggapan antum dahulu
        ..
        Ana mohon maaf kepada antum, admin, dan pengunjung situs ini, apabila ada kalimat yang kurang berkenan
        ..
        Semoga Allah 'Azza wa Jalla menunjukkan kepada kita cahaya kebenaran,
        ..
        Barakallahu fiik,

        • comment-avatar
          Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

          Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh…
          Tentu yg ana maksud adalah orang yg asalnya muslim lalu melakukan perbuatan yg hukumnya secara syar’i adalah kufur/syirik/bid’ah… kalau yg asalnya udah kafir kaya ahli kitab, ya otomatis tidak masuk dlm pembahasan… Si Parno yg ana misalkan juga Parno Muslim, bukan Parno Kafir.
          Kemudian ttg hukum suatu perbuatan, para ulama membedakan antara perbuatan yg muhtamil lil kufri wa ghairil kufri, dengan yang laa yahtamil illal kufr. Misal yg muhtamil adalah thawaf mengelilingi kuburan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri mengatakan bahwa beliau tidak mengkafirkan orang yg thawaf mengelilingi kuburan Sayyid Al Badawi, karena tidak adanya orang yg mengajarkan bahwa hal tsb terlarang. Nah, perbuatan thawaf mengelilingi kuburan bisa menyebabkan pelakunya kafir/musyrik pabila ia bertaqarrub kepada yg dikubur. Namun bila ia meniatkan thawafnya demi mencari ridha Allah, namun thawafnya tidak mengelilingi ka’bah, maka jadilah ia Bid’ah atau syirik asghar. Ini bedanya…
          Tapi ada beberapa perbuatan yg tidak memiliki kemungkinan lain selain kufur akbar, spt Sujud kepada berhala/arca, atau mencaci Allah dan RasulNya, atau menisbatkan sifat-sifat yg tidak layak kepada Allah, spt sifat bakhil, lupa, lemah, dll. Atau menghinakan Al Qur’an dengan sengaja, maka ini semua perbuatan yg tidak memiliki kemungkinan lain selain kufur. Nah, ketika itu dilakukan, otomatis pelakunya dikafirkan selama tidak memiliki udzur… namun jika memiliki udzur, spt terpaksa, maka tidak dikafirkan. Udzur lainnya ialah: rasa takut yg luar biasa, atau gembira yg luar biasa, sehingga apa yg terucap/dilakukan tidak lagi disadari konsekuensinya… demikian pula dengan ketidaktahuan dan ta’wil. Semuanya adalah udzur yg mu’tabar bila memenuhi syarat.
          Dalilnya cukup banyak ya akhi… contohnya hadits muttafaq ‘alaih yg menceritakan ttg seorang ahli maksiat yg berwasiat kpd anak-anaknya agar bila ia mati, maka hendaklah dirinya dibakar, lalu abunya dikumpulkan, kemudian ditabur di tepi laut saat ada angin kencang. lalu orang itu berkata, “Demi Allah, jika Allah mampu menghidupkanku kembali, niscaya dia akan mengazabku dengan azab yg pedih”. Maka Allah pun menghidupkan kembali orang tsb setelah ia diperlakukan sesuai wasiatnya, lalu Allah bertanya kepadanya: “Apa yg mendorongmu untuk melakukan hal tsb wahai hambaKu -padahal Allah maha tahu-?”, “Itu karena aku takut kepadaMu, Ya Rabbi” jawabnya. Maka Allah pun mengampuninya. (HR. Bukhari no 3294 dan Muslim no 2756).
          Bukankah meragukan kemampuan Allah untuk menghidupkan orang mati adalah kekafiran? Jelas… namun mengapa Allah mengampuninya? kalau dia kafir maka tidak mungkin diampuni oleh Allah, namun karena hal tsb terdorong oleh rasa takut yg luar biasa sehingga akal sehat tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, maka dia tidak dikafirkan.
          Dalil lainnya ialah kisah orang yg terakhir masuk Surga… kisahnya cukup panjang, namun bagian yg menjadi syahid dlm kisah tsb ialah ketika Allah berkata kpd orang tsb:
          صحيح مسلم – عبد الباقي (1/ 174)
          أيرضيك أن أعطيك الدنيا ومثلها معها قال يا رب أتستهزئ مني وأنت رب العالمين فضحك بن مسعود فقال ألا تسألوني مم أضحك فقالوا مم تضحك قال هكذا ضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا مم تضحك يا رسول الله قال من ضحك رب العالمين حين قال أتستهزئ مني وأنت رب العالمين فيقول إني لا أستهزئ منك ولكني على ما أشاء قادر
          “Apakah engkau rela bila kuberi (tempat di surga) seluas dunia dua kali lipat?”
          “Adakah Engkau memperolokku, padahal Engkau adalah Rabbul Alamien?” tanya si hamba.
          Maka Ibnu Mas’ud pun tertawa, dan berkata: “Tidakkah kalian bertanya mengapa aku tertawa?”
          “mengapa engkau tertawa?” tanya mereka.
          “Sebab demikianlah respon Rasulullah. Beliau tertawa. Maka para sahabat bertanya: “mengapa engkau tertawa ya Rasulullah?”
          “Aku tertawa karena Allah tertawa mendengar ucapan si hamba: “Adakah Engkau memperolokku, padahal Engkau adalah Rabbul Alamien?” jawab Rasulullah.
          “Aku tidak memperolokmu, akan tetapi aku mampu melakukan semauKu” jawab Allah. (HR. Muslim no 187).

          Perhatikan, si hamba menyifati Allah dengan sifat istihza’, padahal ini merupakan penghinaan thd Allah yg konsekuensinya adalah kufur… namun karena hal itu terdorong oleh luapan rasa bahagia yg luar biasa, sehingga terucaplah apa yg tidak disadari; maka si hamba tidak menjadi kafir.

          Dalil lainnya ialah hadits Abu Waqid Al Laitsi yg mengatakan:
          سنن الترمذي (4/ 475)
          أن رسول الله صلى الله عليه و سلم لما خرج إلى خيبر مر بشجرة للمشركين يقال لها ذات أنواط يعلقون عليها أسلحتهم فقالوا يا رسول الله أجعل لنا ذات أنوط كما لهم ذات أنواط فقال النبي صلى الله عليه و سلم سبحان الله هذا كما قال قوم موسى اجعل لنا إلها كما لهم آلهة والذي نفسي بيده لتركبن سنة من كان قبلكم
          قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح
          Bahwa ketika Rasulullah berangkat ke Khaibar, beliau melewati sebuah pohon kaum musyrikin yg dijuluki Dzatu Anwath. Kaum musyrikin sengaja menggantungkan senjata mereka di pohon tsb. maka mereka (sebagian sahabat yg menyertai Rasulullah) berkata: “Ya Rasulullah, berikan kami pohon seperti Dzatu Anwath milik mereka”. Maka Nabi pun berkata: “Subhaanallaah, kalian berkata seperti perkataan kaum Nabi Musa yg mengatakan, “Buatkan bagi kami sesembahan (ilah), sebagaimana sesembahan mereka. Demi Dzat yg jiwaku berada di tanganNya, kalian benar-benar akan mengikuti ajaran umat sebelum kalian”. HR. Tirmidzi, dan beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

          Nah, nabi menganggap permintaan sebagian sahabatnya agar mereka diberi pohon Dzatu Anwath sebagaimana milik kaum musyrikin tadi, sebagai permintaan yg bernada syirik, karena diserupakan dengan permintaan Bani Israel kepada Musa agar dibuatkan sesembahan spt patung yg disembah oleh kaum yg mereka lihat. Namun, nabi tidak mengkafirkan sahabat yg berkata demikian, karena mereka baru saja masuk Islam sehingga belum terlepas 100% dari khurafat jahiliyah, yg salah satunya ialah meyakini keberkahan pohon tertentu spt Dzatu Anwath, yg bila senjata mereka digantungkan padanya, maka akan lebih ampuh…

          Jadi, dari dalil-dalil tadi dan masih banyak lagi dalil lainnya, dirumuskanlah sebuah kaidah bahwa perbuatan kufur tidak harus menjadikan pelakunya kafir. Demikian pula dengan syirik dan bid’ah. Ada hal-hal yg harus diperhatikan sebelum menjatuhkan vonis kufur dan bid’ah kepada orang tertentu.
          Dalil ini juga menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hukum yg sifatnya umum, dengan hukum yg sifatnya khusus. Ketika dikatakan bahwa “Barangsiapa menghina Allah berarti dia kafir”, tidak berarti bahwa ketika ada seorang muslim yg bernama Joni mengatakan bahwa Allah memperolok dirinya, berarti Joni harus dikafirkan saat itu… Tidak ya akhi, tetap kita harus memperhatikan sudahkah syarat2 takfir terpenuhi, dan sudahkan penghalang2 takfir disingkirkan?

          [Antum mengatakan]:
          Sekali lagi afwan ya akhi, ana hanya memakai “kaidah” yang sepertinya sudah umum, dan tersebar luas
          ..
          Bahwa tanpa dalil yang syar’i, maka amalan-amalan yang di lakukan otomatis tertolak, karena termasuk amalan bid’ah.
          ..
          JAWAB: Pernyataan ini tidak sesuai dengan definisi bid’ah yg ana bahas, dan antum tidak bisa mengharuskan ana untuk menerimanya. Kalau hanya seperti itu definisi bid’ah yg antum pahami, maka semua yg tergolong mashalih mursalah harus masuk ke dalam bid’ah. Tidak semua yg dianggap sebagai ‘kaidah yg sudah umum’ berarti benar dan sesuai kenyataan. Contoh realnya adalah masalah bid’ah yg sering disalahfahami, lantas dicampuradukkan dgn yg tidak ada sangkut-pautnya dgn bid’ah, spt hal-hal muamalah dan mashalih mursalah.

          [Antum mengatakan]:
          Nah sekarang, kalau ada yang berdoa terus-terusan selama 40 tahun,
          dengan lafadz itu-itu saja,
          tanpa ada dasarnya dari as-Sunnah,
          tanpa ada taqrir dari Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
          tanpa ada qoul shahabiy,
          termasuk apa kalau bukan bid’ah yaa akhi .. ?

          JAWAB: Harus dibedakan antara amalan yg diperintahkan secara umum dengan yg diperintahkan secara khusus. Demikian pula i’tikad seseorang ketika mengamalkan juga berpengaruh. Dalam masalah doa, jangan diperluas pembahasannya, karena tiap kasus punya hukum tersendiri. Jadi, tanggapan antum ini ana kembalikan ke masalah semula yaitu doa Imam Ahmad untuk Imam Syafi’i selama 30 tahun dlm shalatnya. Apa hukum perbuatan ini? Ana sendiri menganggapnya mubah, bukan sunnah bukan pula bid’ah. Mengapa? Sebab ada dalil yg menyuruh kita untuk berdoa -secara umum- dlm sujud, dan antum pasti tahu haditsnya (أما السجود فأكثروا فيه الدعاء فقمن أن يستجاب لكم)… Ana juga tidak mendapatkan dalil yg membatasi jenis/bunyi doa yg boleh diucapkan, namun sekali lagiو dalilnya bersifat umum… nah, bila seseorang merutinkan doa tertentu dlm sujudnya, berarti dia mengamalkan sesuatu yg masuk dalam keumuman dalil ini. Dengan demikian, ia tidak berbuat bid’ah.

          [Antum mengatakan]:
          kalau antum mengatakan bahwa itu bukan bid’ah, bahwa itu adalah ijtihad,
          bahwa itu hanya untuk pribadi,
          tidak untuk di ajarkan kepada khalayak umum,
          Lantas, apakah kalau tidak untuk di ajarkan kepada khalayak ramai maka tidak apa-apa melakukan amalan muhdats di dalam agama .. ?

          JAWAB: Bila suatu amalan memiliki dalil yg mu’tabar (shahih/hasan), lalu ia difahami secara keliru oleh seorang mujtahid, maka apa yg dilakukannya tidak bisa dikatakan bid’ah. Sebab konsekuensinya kalau begitu, maka semua kekeliruan ijtihad harus dianggap bid’ah. Padahal seorang mujtahid tidak lepas dari dua kemungkinan: benar atau salah. Kalau benar dpt dua pahala, namun kalau salah hanya dapat satu dan kesalahannya diampuni. Sedangkan bid’ah tidak mungkin mendapat pahala karena tertolak dlm agama.
          Jadi, Ketika terjadi perbedaan pendapat di antara ulama, misalnya dlm qunut subuh, Imam Syafi’i menganggapnya sunnah untuk dirutinkan setiap hari, sedangkan Imam Ahmad hanya menyunahkannya saat ada bencana besar (nazilah). Maka yg benar dlm masalah ini hanya satu, dan masing2 memiliki dalil yg mu’tabar, akan tetapi kita mengenal bahwa dalil itu berbeda dengan istidlal. Dalilnya mungkin sahih, tapi belum tentu istidlalnya benar… misal, ketika seseorang membaca ayat: Wailun lil mushalliin. Ayat ini jelas shahih. namun bila difahami bahwa orang yg shalat itu celaka semua, maka ini istidlal yg batil.
          Apa yg ana sebut sebagai ijtihad, amalan pribadi, dan tidak diajarkan kepada khalayak umum; jangan difahami secara mutlak… sebab ana mengatakannya khusus terkait doa Imam Ahmad. Sebab yg melakukan adalah seorang imam mujtahid, dan yg dia melakukannya secara pribadi, dan ada dalil umum yg mengizinkan hal tsb. Jadi jangan diterapkan pada semua amalan yg antuk klaim sebagai ‘muhdats’…

          Intinya, ketika ana -atau orang lain yg sepemahaman dengan ana- mengatakan bahwa amalan A adalah bid’ah, maka tidak berarti bahwa semua pelakunya berarti ahli bid’ah. Dan otomatis tidak berarti bahwa semua pelakunya berarti harus masuk Neraka karena amalan tsb. Sebab boleh jadi dia dimaafkan oleh Allah karena satu dan lain hal… Faham ya akhi?

          [Antum mengatakan]:
          padahal lafadz haditsnya “kullu”,
          setiap bid’ah adalah sesat, artinya semuanya, baik yang di lakukan untuk pribadi maupun di lakukan/diajarkan secara umum
          ..
          atau ada pemahaman lain ..
          “(tidak) semua bid’ah itu sesat, (tidak) semua kesesatan tempatnya di neraka”

          JAWAB: Benar ya akhi, semua bid’ah itu sesat kalau ia memang bid’ah menurut syari’at. Bukan menurut pemahaman A atau B yg bisa benar dan bisa pula salah…
          Tapi walaupun bid’ahnya sesat, tetap saja pelakunya belum tentu dihukumi sebagai ahli bid’ah. Apalagi bila ia melakukannya karena salah dalam memahami dalil, atau karena taklid buta… maka ana pribadi tidak akan membid’ahkan orang tsb, yg pantas dibid’ahkan adalah guru-gurunya yg sudah tahu bahwa itu bid’ah namun tetap diajarkan dan dipertahankan juga…

          Tidak ada pemahaman lain. Semua bid’ah adalah sesat dan itulah yg diucapkan oleh Nabi yg paling fasih dlm berbicara dan menjelaskan sesuatu… dan semua kesesatan itu di Neraka tanpa kecuali. Tapi ini sifatnya umum… bukan berarti Si Parno dan Si Joni pasti masuk neraka karena bid’ah yg dilakukannya.
          Ana rasa masalahnya jelas kok…
          Kalaulah setiap perbuatan kufur/syirik/bid’ah mengharuskan pelakunya dihukumi sebagai kafir/musyrik/mubtadi’, niscaya Rasulullah tidak akan ‘mengadili’ sahabat Hathib bin Abi Balta’ah yg sengaja membocorkan rahasia Rasulullah kepada kaum muslimin menjelang fathu makkah. Dan niscaya beliau langsung mengizinkan Umar untuk memenggal kepala Hathib yg dianggap munafik… tapi, beliau menanyakan terlebih dahulu apa alasannya? Dan setelah mengetahui bahwa alasannya bisa diterima, beliau memaafkannya…
          Beliau juga tidak membid’ahkan perbuatan seorang komandan pasukan yg setiap kali mengimami selalu menutup bacaan suratnya dengan surat Al Ikhlas, walaupun hal ini tidak pernah beliau ajarkan…
          Mungkin ini dulu.

        • comment-avatar
          Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

          TTG shalawat Ibnu Mas’ud yg menurut antum dimuat oleh situs ahlussunnah al wahhabiyah… ana sudah buka situsnya, dan situs itu menyediakan layanan pencarian hadits, dan tentunya ini tidak bisa difahami bahwa semua hadits yg ditampilkan berarti shahih. Ana yakin, bila antum mencari hadits maudhu’ yg kebetulan dimuat di salah satu kitab hadits, maka situs tsb akan menampilkannya juga… dan apakah antum akan mengatakan bahwa wahhabiyah mengamalkan hadits maudhu’??!!

          Kemudian, dalam sanad riwayat tsb terdapat perawi yg dijuluki Al Mas’udi, namanya ialah Abdurrahman bin Abdillah bin utbah bin mas’ud. Ia adalah perawi yg mukhtalith (kacau hafalannya), dan menurut kaidah ahli hadits, orang spt ini harus dibedakan antara hadits-hadits yg diriwayatkannya sebelum hafalannya kacau, dengan yg setelah hafalannnya kacau. nah, salah satu caranya ialah dengan melihat siapa perawi dari orang tsb. kalau antum merujuk ke kitab Nihayatul Ightibath fiiman rumiya bil ikhtilaath, maka di sana Imam Ibnus Shalah men-naskan bahwa salah satu perawi yg meriwayatkan dari Al Mas’udi setelah hafalannya kacau, adalah ‘Ashim bin Ali.
          Dengan demikian, maka derajat hadits ini adalah dha’if. Apalagi hadits ini hanya dimuat oleh Abu Nu’aim Al Asbahani dlm kitab Hilyatul Auliya’, dan tidak dlm kitab-kitab hadits yg menjadi rujukan utama spt al Kutubut tis’ah misalnya. Nah, kalau haditsnya tidak shahih, buat apa kita bahas panjang lebar.. toh ia bukanlah dalil yg mu’tabar.

          • comment-avatar
            openMind 8 years ago

            Bimillah ..

            Sebelumnya ana mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah mengganggu waktu dan kesibukan antum,
            ..
            Semoga Alah ‘Azza wa Jalla memberikan balasan kebaikan yang banyak atas penjelasan antum,
            ..
            [Quote]
            “Tentu yg ana maksud adalah orang yg asalnya muslim lalu melakukan perbuatan yg hukumnya secara syar’i adalah kufur/syirik/bid’ah… kalau yg asalnya udah kafir kaya ahli kitab, ya otomatis tidak masuk dlm pembahasan… Si Parno yg ana misalkan juga Parno Muslim, bukan Parno Kafir.”
            ..
            [Quote]
            “Kemudian ttg hukum suatu perbuatan, para ulama membedakan antara perbuatan yg muhtamil lil kufri wa ghairil kufri, dengan yang laa yahtamil illal kufr. Misal yg muhtamil adalah thawaf mengelilingi kuburan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri mengatakan bahwa beliau tidak mengkafirkan orang yg thawaf mengelilingi kuburan Sayyid Al Badawi, karena tidak adanya orang yg mengajarkan bahwa hal tsb terlarang.”
            ..
            [Quote]
            “Semua bid’ah adalah sesat dan itulah yg diucapkan oleh Nabi yg paling fasih dlm berbicara dan menjelaskan sesuatu… dan semua kesesatan itu di Neraka tanpa kecuali. Tapi ini sifatnya umum… bukan berarti Si Parno dan Si Joni pasti masuk neraka karena bid’ah yg dilakukannya.”
            =================================
            mungkin ini inti permasalahannya yaa akhi,
            sebagian besar kawan-kawan ana, dan mungkin ustadz-ustadz-nya tidak mengetahui pembagian penghukuman antara yang umum dengan yang khusus,
            ..
            konsekuensinya, ketika ada yang menghukumi perbuatan tawassul, meminta-minta di kuburan, dsb, dengan perbuatan kufur,
            ..
            maka, orang yang melakukan perbuatan-perbuatan itu otomatis akan merasa dikafirkan,
            padahal kebanyakan manusia melakukan hal tersebut,
            ..
            lalu, muncullah stigma negatif terhadap dakwah,
            – Wahhabiy tukang mengkafirkan,
            – Wahhabiy paling benar sendiri,
            – Cuma Wahhabiy yang masuk Jannah,
            – Di saat yang lain me-muslim-kan orang kafir, Wahhabiy malah meng-Kafir-kan orang muslim,
            – dsb.
            ..
            ‘Allohul Musta’an
            ..
            Kalau ana sendiri tidak pernah tawassul pada penghuni kubur, meminta berkah kepada Habaib,karena ana cukup pede (read : Yaqin) akan Maha Mendengar-Nya Rabbul ‘Alamin,
            ..
            adapun perkara yang di anggap bid’ah, seperti dzikir jama’i di masjid, atau di lapangan yang di pimpin oleh Habib Syech Fulan,
            maka ana sudah jarang datang, bukan karena itu bid’ah,
            tapi cenderung karena perasaan ndak sreg !
            ..
            Karena biasanya jama’ah yang hadir ke acara tersebut selalu datang ber-konvoi, gak pake helm, bising,
            dan menurut ana itu sangat mengganggu sekali pengguna jalan yang lain (padahal mereka juga membayar pajak),
            ..
            apalagi sampai ada yang menutup jalan umum di sekitar TKP, dengan alasan untuk parkir kendaraan jama’ah, untuk ketertiban, dsb.
            ..
            Wallohu ta’alaa a’lam

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh… Aamiin wa jazaakallaahu khairan. Masya Allah, ana sudah tunggu-tunggu tanggapan antum dari kemarin, dan kali ini antum benar-benar membikin ana bahagia. Semua jerih payah ana dlm menulis penjelasan ini seketika berbalik menjadi luapan rasa bahagia… Satu orang seperti antum yg siap berdiskusi secara ilmiah dan obyektif, serta jauh dari sikap fanatik, lebih ana cintai daripada sepenuh bumi orang macam Novel Alaydrus (selama ia belum kembali pada jalan yg benar, yg diajarkan oleh Ahlul Bait sejati dan para salaf).

            Ana berharap agar Allah menambah hidayahNya pada ana, antum, Novel, Habib Munzir, dan seluruh kaum muslimin… serta mengembalikan kita kepada Dien-Nya, menjauhkan kita dari segala bid’ah, khurafat, kemusyrikan, kekufuran, dan apa-apa yg tidak diridhaiNya.

            Teruslah belajar dan berdiskusi secara obyektif ya akhi… Ana senang sekali diskusi dengan antum, dan -seingat ana- baru kali ini ada orang yg secara gentleman menyatakan ruju’ kepada Al Haqq, walillaahil hamdu awwalan wa akhieran, wamaa taufiiqi illa billaah…

            Isim ‘ala musamma (Open Mind), Baarakallaahu fiik wa zaadakallaahu hirshan ‘ala ma’rifatil haqq

            [Katabtum baarakallaahu fiikum]:
            adapun perkara yang di anggap bid’ah, seperti dzikir jama’i di masjid, atau di lapangan yang di pimpin oleh Habib Syech Fulan,
            maka ana sudah jarang datang, bukan karena itu bid’ah,
            tapi cenderung karena perasaan ndak sreg !

            TANGGAPAN: Ini permulaan hidayah ya akhi… perasaan tidak sreg adalah suara hati nurani yg fitri -inysa Allah-, sebagaimana Sabda Nabi tercinta yg disebutkan oleh Imam Nawawi -rahimahullah- dlm Arba’in-nya:
            عن النواس بن سمعان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “البر حسن الخلق والإثم ما حاك في صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس” رواه مسلم. وعن وابصة بن معبد رضي الله عنه:”قال أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ” جئت تسأل عن البر؟ ” قلت نعم، قال: “البر ما اطمأنت إليه النفس واطمأن إليه القلب، والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك”.
            حديث حسن رويناه من مسند الإمامين أحمد بن حنبل والدارمى بإسناد حسن.
            Dari Nawwas bin Sam’an ra, dari Nabi shallaahu ‘alaihi wa sallam, katanya: “Kebaikan itu adalah akhlak yg baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik dadamu, dan kau tak suka bila orang-orang mengetahuinya. HR. Muslim.
            Sedangkan sahabat Wabishah bin Ma’bad ra mengatakan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kata beliau: “Engkau bertanya kepadaku tentang kebaikan?”
            “ya” jawabku.
            “Kebaikan adalah apa yang dirasa nyaman oleh jiwa dan tenang dalam hati. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik hati dan menimbulkan keraguan dalam jiwa, walaupun orang-orang memfatwaimu berulang kali (bahwa hal tersebut tidak mengapa)”. Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad dan Ad Darimi dgn sanad Hasan.

            [Saaltum baarakallaahu fiikum]:
            [PERTAMA]
            Apakah riwayat Ibnu Mas’ud -rahimahullah- tersebut tidak mempunyai syahid dari hadits lain .. ?
            Yang bisa mengangkat ke derajat shahih atau hasan .. ?
            ..
            JAWAB: Kemarin ana telah mencari lewat maktabah syaamilah, dan hanya mendapatkan shalawat dgn redaksi spt itu dlm kitab Hilyatul Auliya’ dengan sanad yg antum nukil tsb. Wallaahu a’lam apakah hadits tsb memiliki syahid atau tidak. Tapi bukankah kaidah diskusi yg terkenal mengatakan: (أثبت العرش ثم انقش), yg letterleg-nya berarti: “Kokohkan dulu singgasananya, baru kamu ukir”, maksudnya: Sebelum kita istidlal dengan suatu dalil, pastikan dulu keabsahan dalil tsb. kemudian bukankah Nabi mengatakan: (البينة على المدعي) “Pendakwa wajib mendatangkan bukti” (HR. Bukhari-Muslim). Artinya, yg harus memastikan ada-tidaknya syahid bagi riwayat Ibnu Mas’ud tadi ialah pihak yg mengklaim bahwa Ibnu Mas’ud telah merekayasa bacaan shalawat yg tidak diajarkan oleh Rasulullah. Adapun ana -dlm kasus ini- justru menepis ‘dakwaan’ tsb demi membela nama baik beliau sebagai sahabat Nabi.
            Inilah kekeliruan yg sering ana jumpai pada mayoritas ikhwan yg tidak sependapat, termasuk pada guru-guru mereka (Novel, Munzir, Umar bin Hafizh, Alawi Al Maliki, Al Ghumari, dll). Mereka cenderung tidak memverifikasi keabsahan hadits/riwayat yg mereka nukil, bahkan Novel tidak segan2 berdalil dgn hadits maudhu’ dan batil untuk melegitimasi pendapatnya. Ironis memang… mengaku keturunan Rasulullah namun tega berdusta atas nama beliau.

            [KEDUA]
            Kalau memang benar riwayat sholawat Ibnu Mas’ud -rahimahullah- itu dhaif seperti kata antum
            ..
            lantas bagaimana dengan redaksi sholawat yang di tulis oleh Muhammad bin Idris -rahimahullah-
            ..
            وصلَّى الله على نبيِّنا كلَّما ذكره الذاكرون
            وغَفَل عن ذكره الغافلون
            وصلى الله عليه في الأوَّلين والآخرين
            أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلَّى على أحدٍ من خلقه
            وزكَّانا وإياكم بالصلاة عليه، أفضلَ ما زكَّى أحدًا من أمته بصلاته عليه
            ..
            من كلام الشافعي
            ..
            في كتابه (الرسالة)، رقم 39

            JAWAB: Akhil kariem, itu khan ucapan imam syafi’i dlm muqaddimah kitab beliau… ana heran dan agak geli juga kalau ada pihak-pihak yg menggunakan ungkapan spt ini sebagai dalil akan bolehnya merekayasa bacaan shalawat, lalu mereka meluaskan pengertian hal ini sehingga semua bacaan shalawat yg direkayasa oleh orang yg diklaim sebagai ulama pun boleh dan sah-sah aja dibaca, atau bahkan dijadikan bacaan resmi dlm acara-acara shalawatan.
            Tadinya ana mengira bahwa antum akan membawakan nas yg kasusnya mirip dengan Ibnu Mas’ud, alias bacaan shalawat dlm shalat. Tapi berhubung yg antum bawakan adalah doa dan pujian yg diucapkan Imam Syafi’i di awal kitabnya… maka ana katakan: Ini sama sekali bukan bid’ah, karena kita tidak dilarang untuk memuji Rasulullah selama tidak kelewat batas. Dan ini berarti tidak semua ungkapan pujian/shalawat/doa untuk Rasulullah bisa dibenarkan. Namun tiap-tiap bacaan harus diteliti terlebih dahulu. Dan dalam kasus ini, perkataan Imam Syafi’i tadi tidak mengandung kekeliruan sama sekali… itu sekedar ungkapan mubalaghah yg menjadi uslub orang Arab ketika mengatakan sesuatu. Ana juga tidak mendapatkan satu ulama pun yg mengingkari ungkapan tsb. bahkan Bukan hanya Imam Syafi’i yg melakukan hal seperti ini, tapi banyak dan sangat banyak ulama yg melakukan hal serupa… dan semuanya tidak ada sangkut-pautnya dengan ibadah, alias bukan dlm shalat.

            Kemudian, penting untuk dicermati, bahwa sebenarnya orang-orang yg berdalil dengan riwayat Ibnu Mas’ud, ungkapan Imam Syafi’i, dan yg semisalnya untuk membenarkan bacaan-bacaan shalawat yg direkayasa oleh sebagian ‘ulama’, yg lantas menjadi ritual ibadah dlm acara shalawatan, maulidan, tahlilan, dll; Sebenarnya mereka Tidak berdalil dengan riwayat tsb (yg boleh jadi sebagiannya shahih), akan tetapi mereka berdalil dengan QIYAS. Mereka menganggap bahwa adanya sebagian ulama yg merekayasa bacaan shalawat (Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Asy Syafi’i), menunjukkan bolehnya orang lain untuk melakukan hal serupa, alias merekayasa bacaan shalawat lainnya. Ini jelas analogi yg tidak benar, sebab menyamakan antara dua hal yg berbeda (Qiyas ma’al faariq). Kalau bacaan shalawat yg hendak mereka benarkan tadi redaksinya sama persis dengan ucapan Imam Syafi’i tadi -atau dengan redaksi shalawat lain yg memang shahih secara riwayat dan makna-; maka silakan saja… namun jika yg hendak dibenarkan adalah redaksi shalawat Nariyah, atau shalawat2 lain yg berbeda dengan shalawat para sahabat dan imam-imam tadi; maka jelas tidak bisa diterima.

            Dan inilah sebenarnya yg menjadi senjata utama Novel Alaydrus, Munzir Al Musawa, dan orang-orang yg sepemahaman dengan mereka. mereka hanya bermain qiyas, namun qiyas yg fasid dan ghairu mu’tabar… karena:
            1- Dalilnya tidak shahih, dan
            2- Illahnya tidak sama.

            [Tsumma saaltum baarakallaahu fiikum]:
            btewe ..di kitab apa ana bisa membaca paparan ulama salaf dari berbagai madzhab tentang Maslahah al mursalah ?

            Mashalih Mursalah adalah salah satu pembahasan dlm usul fiqih, yaitu dalam bab Al-Adillah Al mukhtalafu Fiiha. Ana rasa, masalah ini baru ditaqrir sedemikian rupa oleh ulama-ulama yg hidup belakangan (setelah abad ketiga). jadi, kemungkinan antum tidak akan mendapati sesuatu yg sifatnya ‘nash’ dlm hal ini… tapi itu semua adalah hasil istiqra’ para ulama dari dalil-dalil yg ada.
            Antum dalam membaca masalah mashalih mursalah dlm kitab-kitab usul fiqh, spt Al Bahrul Muhith karya Az Zarkasyi (Syafi’i), atau Syarh Mukhtashor Ar Raudhah, karya Ath Thufi (Hambali), atau yg lainnya.
            Adapun khusus tentang mashalih mursalah, ada sebuah desertasi doktoral yg ditulis oleh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi thn 1973, antum bisa mendownloadnya di sini:
            Tapi ana pribadi belum baca dan belum tahu keakuratan tulisan beliau… dan sayangnya, akhir-akhir ini penulisnya justru menjadi ulama’ suu’ yg membela Rezim Basyar Al Assad, penjagal Ahlussunnah di Suriah.
            Adapun khusus terkait mashalih mursalah dan perbedaannya dengan bid’ah, ada sebuah kitab bagus yg ditulis oleh DR. Muhammad Husein Al Jezani, pakar usul fiqih dan dosen Univ. Islam Madinah. Judulnya: (قواعد معرفة البدع) Ana punya buku tsb dan sudah baca seluruhnya (karena tipis).
            Tafadhdhal, download di sini.
            Kalau mau menyimak syarah beliau, bisa download di sini (audio).
            Beliau juga punya kitab lain yg cukup bagus, yaitu: (معيار البدعة), bisa antum baca revisinya di sini.
            BTW, coba antum lihat siapa supervisor (musyrif ‘aam) situs http://www.dorar.net ini??? namanya tertulis di Banner Situs.

            Afwan, mungkin kepanjangan komentarnya… semoga bermanfaat.

          • comment-avatar
            openMind 8 years ago

            Bismillah,
            ..
            afwan yaa akhi,
            [PERTAMA]
            Apakah riwayat Ibnu Mas’ud -rahimahullah- tersebut tidak mempunyai syahid dari hadits lain .. ?
            Yang bisa mengangkat ke derajat shahih atau hasan .. ?
            ..
            [KEDUA]
            Kalau memang benar riwayat sholawat Ibnu Mas’ud -rahimahullah- itu dhaif seperti kata antum
            ..
            lantas bagaimana dengan redaksi sholawat yang di tulis oleh Muhammad bin Idris -rahimahullah-
            ..
            وصلَّى الله على نبيِّنا كلَّما ذكره الذاكرون
            وغَفَل عن ذكره الغافلون
            وصلى الله عليه في الأوَّلين والآخرين
            أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلَّى على أحدٍ من خلقه
            وزكَّانا وإياكم بالصلاة عليه، أفضلَ ما زكَّى أحدًا من أمته بصلاته عليه
            ..
            من كلام الشافعي
            ..
            في كتابه (الرسالة)، رقم 39
            ..
            Sekali lagi ana mohon maaf atas terganggunya waktu dan kesibukan antum,
            Semoga Allah memberikan gantinya dengan pahala yang banyak,
            ..
            btewe ..di kitab apa ana bisa membaca paparan ulama salaf dari berbagai madzhab tentang Maslahah al mursalah ?
            ..
            Barakallahu fiik

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            Jawabannya udah ana gabung sekalian… lihat tanggapan ana yg panjang.

          • comment-avatar
            openMind 8 years ago

            Alhamdulillah,
            ..
            ana ucapkan terima kasih banyak yaa akhi atas semua respon, jawaban, dan referensi-nya,
            ..
            ana benar-benar ndak menyangka,
            antum dengan seabrek kesibukan antum di sana,
            sempat-sempatnya membalas tanggapan demi tanggapan yang masuk dengan cepat.
            ..
            Kalau kita tidak ditakdirkan bertemu di dunia,
            Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan antum tetangga ana di Jannah yaa akhi,
            -Aamin ya Rabb-
            ..
            btewe.. sudah ana donlot semua referensi yang antum berikan,
            ..
            kecuali desertasi doktoral yg ditulis oleh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi thn 1973 (format PDF),
            ..
            sepertinya Link tersebut di blokir oleh proxy lokal (Indonesia),
            tapi -Bismillah- ana baca dulu yang sudah ada.
            ..
            ..
            ..
            hmmm …menarik
            ternyata musyrif ‘aam situs dorar.net masih أهل البيت
            ..
            kira-kira tercatat gak ya di
            http://www.rabithah-alawiyah.org/id/?page_id=10
            🙂
            ..
            Jazakallahu khayr, wa Barakallahu fiik.

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            Aamien ya Robbal ‘Alamien… (Jama’anallaahu fid dunya qablal aakhirah)

            Insya Allah yg sudah antum download cukup untuk memberi gambaran yg lebih jelas ttg masalah yg sering rancu difahami, yaitu beda antara Bid’ah dan Mashalih Mursalah. Baarakallaahu fiik…

            Syaikh Alawi Assegaf memang masya Allah… salah satu karya beliau bahkan mendapat pujian oleh Syaikh Bin Baz… HABIB seperti inilah yg dibutuhkan untuk membenahi akidah masyarakat Indonesia. Bukan Habib-habib yg hanya ngajari umat untuk ngalap berkah, tawassul, haul, maulidan, shalawatan, dsb… yg ujung-ujungnya tak lain demi kepentingan pribadi golongan mereka juga (JAIM) Ana bisa bilang begitu karena ana hidup di tengah-tengah mereka, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana tingkah laku mereka.

            Belum lama ini, di Hadhramaut ada seorang Qadhi dan Alim besar dari kalangan Ahlul Bait, namanya adalah Sayyid Abdurrahman bin Ubeidillah Assegaf (1300-1375 H). Beliau -walaupun memiliki kecenderungan sedikit ke tasawuf- adalah seorang yg munshif, arif, dan bijaksana. Beliau memahami dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab secara bijak. Beliau bahkan sangat membenci berbagai khurafat dan bid’ah (bahkan syirkiyyat) yang marak berkembang di tengah-tengah kaumnya (alawiyyin di Hadhramaut), hal itu beliau tuangkan dalam beberapa karya tulis beliau… Bahkan beliau pernah diundang ke Indonesia untuk mendamaikan perseteruan antara orang-orang keturunan Arab non Habaib dengan kaum Habaib.

            Salah satu buku beliau yg cukup bagus adalah yg berjudul: Tahqiequl Farqi bainal Aamili bi’ilmihi wa ghairih. Kitab ini ditahqiq oleh SYaikh Alawi Assegaf, dan diberi tarjamah (biografi) yg sangat indah ttg penulisnya oleh beliau…

            Antum tinggal di mana akhi? Adakah nomor yg bisa ana hubungi?
            Ana insya Allah akhir Mei ini akan pulang ke Indonesia untuk liburan, insya Allah ana fotokopikan kitab tsb kalau antum berminat…
            Biografi yg ditulis oleh Syaikh Alawi Assegaf sangat bagus dan membuka cakrawala baru ttg bagaimana mayoritas kaum habaib bisa berubah haluan dari ajaran salaf kepada tasawuf dan khurafat… biografi itu sendiri lebih panjang daripada kitab aslinya, dan ana belum menemukan biografi beliau yg selengkap itu dalam referensi manapun. Agaknya kaum Habaib sengaja menyembunyikan hal tsb dari kalangan umum, wallaahul musta’an…

          • comment-avatar
            openMind 8 years ago

            Assalamu’alaykum …

            Afwan yaa akhi, baru sempat onlen

            sudah ana kirim nomor ana ke email antum

            sufyanbaswedan@gmail.com

            oya, kalau ana boleh tahu,
            antum onlen menggunakan laptop atau PC ya akhi .. ?

            apakah pemerintah di sana menyediakan fasilitas seperti laptop atau PC untuk di gunakan keperluan belajar, dakwah atau yang semacamnya .. ?

            Atau untuk perkara belajar dan dakwah kita menggunakan properti milik sendiri ..

            Jazakallahukhayr

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh…

            Ahlan bik ya akhil habiib

            (قد كنت أنتظر ردك بكل شغف والحمد لله على كل حال)

            Ana pakai PC pribadi, pemerintah sini tidak menyediakan laptop/PC untuk keperluan belajar dll… untuk dakwah via net kita pakai modal sendiri, termasuk jasa internet juga bayar sendiri (murah kok karena kita bayar secara kolektif 16 orang pakai DSL). Tapi Alhamdulillah, kita diberi yg lebih penting dari itu semua, yaitu kesempatan untuk mencari ilmu dari sumber asli (Al Qur’an dan Sunnah bifahmi salafil ummah), kita juga belajar fiqih 4 madzhab tanpa fanatik kepada salah satunya…

            Dan yg tidak kalah penting, kita bisa berinteraksi dengan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia, dengan berbagai latar belakang mereka yg mungkin sangat kontradiksi dengan adat kita sbg orang Indonesia.

          • comment-avatar
            Gak pake Abu-abuan 8 years ago

            Piye toh iki? Katanya kullu bid’atin dolaalah wa kullu dolaalatin finnaar? Tapi ente bilang tidak semua org pelaku bid’ah masuk neraka, lha terus yg masuk neraka amalnya atau orangnya atau siapa? Dari sekian panjangnya jawaban ente diatas, njelimet berbelit2 gak karuan…gak jelas, jgn emosi bro santai aja, ha ha ha, seorang da’i gak boleh emosi…peace…

          • comment-avatar
            Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

            kalo antum tidak bisa memahami, maka orang lain bisa… ya gak faham gak usah nyalah-nyalahin dech… belajar lagi yg banyak biar faham. ana gak emosi kok bro, ente suuzhon sama ana tuh.

      • comment-avatar
        Nur Latifi 8 years ago

        Bro saya mau tanya nih, Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan Al-Faqih Al-Muqoddam, itu siapa? Trus, Al-Muhajir Ahmad bin Isa itu hijrahnya kemana dan utk apa? Demikian pertanyaan saya trima kasih…

        • comment-avatar
          Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

          Itu nenek-moyangnya kaum ba’alawi (haba-ib) yg ada di Hadramaut. Ia hijrah dari Irak ke Hadramaut, karena di Irak anak cucu Ali bin Abi Thalib sering mendapat intimidasi dari Bani Abbas, dan itu juga karena mereka sering mengadakan perlawanan kepada Bani Abbas… sehingga dengan begitu, si Ahmad bin Isa ini hijrah ke Hadramaut dan dijuluki Al Muhajir. Dia lantas beranak pinak di Hadramaut dan dari keturunannya tsb sebagiannya hijrah lagi ke berbagai negeri, salah satunya Indonesia.
          Gelar habib itu sendiri hanya dikenal di kalangan orang-orang sufi. Oleh karenanya, ana kenal dengan banyak sekali keturunan Ahlul bait di Saudi yang tidak pernah membanggakan dirinya atau menggelari dirinya dengan habib; karena mereka tahu bahwa yg mengangkat derajat seseorang itu adalah ilmu dan iman (takwa), bukan Nasab. Jadi, sekedar memiliki nasab yg mulia bukanlah suatu kelebihan, karena itu murni kehendak Allah atas dirinya dan kita tidak punya pilihan bahkan tidak pernah diberi penawaran oleh Allah ingin menjadi keturunan siapa? Tapi yg benar-benar merupakan keistimewaan ialah bila ybs menjadi orang berilmu dan bertakwa, sebab itu memerlukan usaha dan jerih payah dari ybs…

  • comment-avatar

    Senang menemukan situs ini. Semoga Allah Ta’ala jadikan sebagai situs yang penuh barakah; menjadi jalan kebaikan bagi yang menulis maupun yang membaca. Semoga situs ini dapat mengobati kebodohan orang-orang semacam saya. Mohon do’a dan nasehatnya.

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      ِAmin, jazakallaahu khairan atas komentarnya…

  • comment-avatar
    abu jihan 8 years ago

    assalamualaikum ust,setiap firqoh mereka mengatakan bahwa mereka berpegang dengan Al quran dan hadist,tapi bangaimana mereka memahami Al quran dan hadist,tidak seperti bagaimana para sahabat,tabiin,tabiuttabiin(salafusshalih) memahami Alquran dan hadist tsb,mereka menafsirkan menurut akal mereka saja,tanpa mendahulukan wahyu baru akal yang mengikuti wahyu,krn wahyu selamanya tidak akan bertentangan dengan akal,selama akal itu akal yang sehat dan akal yang memiliki ketegasan,bukan akal yang SAKIT !!
    lebih dan kurang ana mohon maaf,mungkin ini sedikit tambahan……jazzakullah khoir

    • comment-avatar
      PembelaMaulidNabi 8 years ago

      Wuihh gak salah tuh, bukankah firqoh anda yg senang bermain2 dgn akal? Makanya KALAU MAKAN BUAH PISANG JGN MAKAN KULITNYA TAPI ISINYA. nama anda ada ABU nya? Asli tuh nama? Kasian nama dari ortu digonta ganti…

  • comment-avatar
    Endy R Syarifudin 8 years ago

    Assalamu alaikum, semoga Allah tetap memberi terang hati hamba-hamba-Nya yang beriman. Aamin.

    Sekedar bertanya saja, dan jawab dengan jujur. Karena Allah Maha Tahu apa yang Ada di Setiap Hati Hambanya. Pertanyaan ini sederhana, namum mudah-mudahan bisa mengantarkan kita kepada kebenaran.

    1. Apakah setiap hari Anda membuka mushaf Al Quran? Mushaf yang dicetak berbahan kertas dan huruf-hurufnya memiliki tanda baca? Jika Anda tetap teguh berpegang dengan dalil Anda, “setiap yang tidak diajarkan Rasulullah SAW adalah bid’ah, dan setiap bid’ah sesat, dan setiap sesat tempatnya di neraka”, maka terimakah jika Anda disebut sebagai ahli bidah yang akan masuk neraka karena membaca mushaf al quran?
    Pasti Anda akan bertanya, kok bisa? Karena di Zaman Rasulullah SAW, Al Quran dibaca karena hapal. Para sahabat juga banyak yang hapal. Ayat-ayat al Quran awalnya tertulis dalam kulit kayu, pelepah kurma, itu pun bertuliskan arab gundul (tidak memiliki tanda baca). Sementara sekarang kita membacanya dalam cetakan kertas (buku). Bukankah ini bid’ah? Karena tidak ada hadist Rasulullah SAW yang memerintahkan kepada sahabatnya untuk menyusun al quran dalam bentuk cetakan kertas dan bertanda baca. Al Quran dihimpun atas inisiatif Khalifah Abu Bakar As Shidiq Ra, kemudian disempurnakan oleh Khalifah Ustman bin Affan Ra. makanya kemudian kita kenal dengan mushaf ustmani.
    Menurut hemat saya yang dhoif, perkara “Merayakan Maulid Nabi SAW” sejenis dengan “Penyusunan dan Pencetakan Mushaf Al Quran” sama-sama tidak diajarkan Rasulullah SAW.

    2. Saya yakin, Anda menulis di blog atau di internet adalah untuk berdakwah dengan berharap Ridho Allah SWT. Menulis di internet adalah perantara untuk meraih hadiah besar dari Allah? Pertanyaannya, adalah “Adakah dalil yang membolehkan Anda berdakwah melalui media internet?” Jika Anda tetap konsisten dengan dalil “Setiap yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap sesat berakhir di neraka”, terimakah jika anda disebut ahli bid’ah dan calon penghuni neraka?

    3. Apakah Anda menggunakan alat komukasi Handpone (HP)? Rasulullah SAW selama hidupnya tidak menggunakan HP. Jika beliau ingin berkomunikasi dengan orang lain berjauhan, beliau menulis surat atau mengirimkan seorang sahabat.
    Jika Anda tetap konsisten dengan dalil “Setiap perkara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap sesat berakhir di neraka”, terimakah jika anda disebut ahli bid’ah dan calon penghuni neraka karena menggunakan HP, sekalipun untuk menyetel alarm waktu sholat ?

    Demikianlah pertanyaan yang saya ajukan. Sekali lagi, marilah kita memikirkan kebenaran dengan hati yang lapang, pikiran jernih dan tetap mengharap rahmat Allah Swt. Wallahu alam

    wassalamu alaikum

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh… terima kasih atas komentarnya. Agaknya antum belum tuntas membaca tulisan saya sehingga memberi kesimpulan yang tidak tepat.
      Saya sarankan, ketika seseorang hendak mengkritisi suatu buku atau tulisan, maka bacalah buku/tulisan tersebut secara menyeluruh dari awal hingga akhir.
      Jawaban atas pertanyaan antum ada di sini.

      saya memang tidak menyinggung ttg penggunaan internet sebagai saranan dakwah, dan HP sebagai sarana komunikasi, karena kedua hal tsb tidak ada kaitannya dgn pengertian bid’ah yg saya jadikan acuan. Tapi sebelumnya, saya berhak bertanya kepada antum ttg ucapan antum berikut: Jika Anda tetap teguh berpegang dengan dalil Anda, “setiap yang tidak diajarkan Rasulullah SAW adalah bid’ah, dan setiap bid’ah sesat, dan setiap sesat tempatnya di neraka”, maka … dst”.

      Di manakah saya mengatakan seperti itu??

      kedua, anda mengatakan: “Merayakan Maulid Nabi SAW” sejenis dengan “Penyusunan dan Pencetakan Mushaf Al Quran” sama-sama tidak diajarkan Rasulullah SAW.
      Baiklah, sekarang bagaimana dengan hukum “pluralisme, liberalisme, syi’ah, ahmadiyah, merayakan ulang tahun, dll”? Bukankah semuanya juga tidak diajarkan nabi? kalau begitu, apakah sama dengan mengadakan maulid beliau? kalau sama ya Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun… tapi kalau beda, mohon jelaskan di mana perbedaannya?

  • comment-avatar
    PembelaMaulidNabi 8 years ago

    Gak usah repot2 anda undang saja novel alaydrus utk berdebat dgn anda dlm masalah ini, kalau anda merasa benar jangan tanggung kalau mmg niat menegakkan kebenaran, jgn cuma berbicara dibelakang, hadapi langsung, kalo perlu undang orang banyak sekalian biar jadi saksi……

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Siapa nulis buku dibantah dengan buku, gitu aja kok repot…

  • comment-avatar
    PembelaMaulidNabi 8 years ago

    ANDA INI MENGAJAK ORANG UTK SOPAN TAPI BALASAN ANDA TERHADAP KOMENTAR2 ORANG JG GAK SOPAN, BAGAIMANA ROSULULLOH NGASIH CONTOH SEPERTI ITU DALAM DAKWAHNYA?

  • comment-avatar
    Gak pake Abu-abuan 8 years ago

    ‘alaa kulli hal ayo ngurusi, benahi diri sendiri, jgn sibuk mencacat dan menyalah2kan orang lain, kalo memang gak sanggup menjalani dakwah seperti Rosululloh yg lembut dan bijaksana, masih gampang terbakar emosi dan masih berkeinginan diakui dan di BENARKAN orang lain, masih punya keinginan membalas caci maki org lain dgn cacian yg sama atau lebih parah, merasa paling benar dan paling tahu, STOP DAKWAH!!! KARENA DGN SIFAT2 SEPERTI ITU BELUM PANTAS MENDAKWAHI ORANG, TAPI LEBIH PANTAS UTK MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI, GAK MUNGKIN ORANG YANG SEDANG SAKIT BISA MENGOBATI ORANG LAIN, KECUALI YG SAKIT ITU JADI TAMBAH PARAH SAKITNYA, WES, NGONO WAE TAMBAH DIBAHAS TAMBAH RIBET, LHA WONG YG MEMBERI PENJELASAN YO MBULET N RIBET…PEACE…WES YO…? assalamualaikum…

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      lha sapa suruh ente nimbrung di sini kalo ga’ bisa memahami masalahnya? Rasulullah lembut dan bijaksana pada orang tertentu, dan keras pada orang tertentu. Beliau lembut tatkala menghadapi seorang Arab Badui jahil yang tiba-tiba kencing di dalam mesjid. Namun keras ketika menegur sahabat Mu’adz yg kelamaan saat mengimami shalat berjama’ah sehingga ada jamaahnya yang memisahkan diri dan shalat sendiri. dalam kasus ini beliau mengatakan: “Hai Mu’adz, apa kamu seorang penyulut fitnah !?”. Nih ana sertakan sebuah riwayat yg menceritakan betapa marahnya Rasulullah dlm kasus ini:

      عن أبي مسعود البدري رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إني لأتأخر عن صلاة الصبح من أجل فلان مما يطيل بنا. قال: فما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم غضب في موعظة قط أشد مما غضب يومئذ، فقال: يا أيها الناس! إن منكم منفرين! فأيكم أم الناس فليوجز، فإن من ورائه الكبير والصغير وذا الحاجة (متفق عليه) وهو في عمدة الأحكام برقم 85
      dari Abu Ma’sud Al Badri ra, katanya: Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah dan berkata, “Aku sengaja terlambat ikut shalat subuh berjama’ah gara-gara si Fulan yang kelamaan mengimami kita”. Abu Mas’ud berkata, “Sungguh, tak pernah kulihat Rasulullah marah saat memberi nasehat seperti marahnya beliau pada hari itu! beliau mengatakan, “Wahai saudara-saudara, Di antara kalian memang ada orang yang membikin orang lain lari dari agama! Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam, maka persingkatlah. sebab di belakangnya ada orang tua, anak kecil, dan orang yang berhajat!” (muttafaq alaih, lihat ‘Umdatul Ahkam hadits no 85).

      Jadi bung, penilaian ente bhw ana masih kasar itu patokannya apa? lalu siapa pula yg ana kasari? orang jahil ataukah orang ngeyel? Yang obyektif lah bung kalau menilai…

  • comment-avatar

    Assalamu’alaykum .Salam kenal semua .Subhanallah Blog yang kaya ilmu.ana baca tulisan dari UMMATI sebagaimana tertera dibawa.Harap Ust bisa menjelaskan syubhat tersebut.Syukran.Semoga Allah memudahkan urusan kita semua dalam Upaya Menghidupkan Sunnah dan Membasmi Bid’ah.

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Afwan ya akhi, tidak semua komentar bisa ana tampilkan, apalagi komentar yg penuh syubhat… bukan karena ana tidak bisa menjawab, tapi karena yg namanya syubhat tidak akan ada habisnya. Apalagi mengingat blog ini dikunjungi oleh banyak orang dengan berbagai tingkat pemahaman yg berbeda. Tidak semua orang yg setelah membaca syubhat bisa memahami bantahannya, sehingga bila syubhat2 ditampilkan apa adanya maka yg menjadi korban adalah orang-orang awam… sebab melontar syubhat identik dengan mencemari air, sedangkan membantahnya identik dengan menjernihkan air yg telah tercemar tadi. Tentunya yg kedua jauh lebih sulit… jadi, tidak perlu kita menebar polutan di air walaupun kita bisa membersihkannya kembali, sebab itu namanya buang-buang waktu dan tenaga.

      Jawaban global ana thd tulisan dari Ummati tsb ialah bahwa si penulis tidak membawakan dalil, namun yg dibawa adalah tulisan ulama usul fiqih yg tidak dicantumkan namanya. Perlu antum ketahui bahwa ucapan ulama bukanlah dalil yg berdiri sendiri, tapi justru ia memerlukan dalil yg mendukungnya. kalau ada dalil yg mendukungnya, barulah ucapan itu kita terima, tapi kalau tidak, ya tidak ada kekuatan hukumnya sama sekali.

  • comment-avatar
    nisa azzahra 8 years ago

    aku setuju ust, jika mau membaca al quran kenapa harus di kuburan? kenapa tidak masjid aja sekalian meramaikan syiar islam di masjid.dan org2 yg tdk setuju dg hal itu..tidak berfikirlah mereka bahwa orang yang dikubur itu sedang mempertanggung jawabkan perbuatannya selama didunia.karena se alim apapun mereka tetap saja mereka manusia yang punya khilaf dan dosa…..
    maaf saya hanya org awam yang sedang belajar agama untuk bisa lebih baik dalam ibadah …jazakillah

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Yang betul: JazaaKAllaah, karena jazakillah ditujukan untuk perempuan.

  • comment-avatar

    AFWAN ust,apa perbedaan antara ibadah mahdah dan ghairu mahdah?apakah benar bahwa kaedah”Asal ibadah ibadah adalah haram sampai ada dalil yang membolehkan” hanya baerlaku pada ibadah mahdah?Syukran

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Kalau yg dimaksud dengan ibadah mahdhah ialah ibadah yang tidak bisa difahami alasannya secara akal, namun semata-mata karena menuruti perintah Allah; maka lawannya ialah ibadah yg ma’quulatul ma’na, atau ibadah yg makna dan alasannya bisa difahami secara akal, dan agaknya inilah yg disebut sbg ibadah ‘ghairu mahdhah.

      Kalau memang spt itu yg dimaksud, maka perbedaannya terletak pada alasan dan tata caranya. Yg bisa dicerna oleh akal mk berarti ghairu mahdhah, sedangkan yg tidak bisa dicerna oleh akal mk berarti mahdhah.

      Kaidah hukum asal ibadah adalah haram agaknya memang khusus berlaku pada ibadah mahdhah dan ibadah-ibadah yg telah ditetapkan petunjuk pelaksanaannya oleh syariat.

      Ini bukan berarti bahwa pada ibadah selain mahdhah tidak bisa terjadi bid’ah… tetap saja bisa terjadi bid’ah, namun pada salah satu dari poin-poin berikut:
      1-Penyebabnya.
      2-Tata caranya.
      3-Tempatnya.
      4-Waktunya.
      5-Jumlahnya.
      6-Tujuannya.

      Misal, Sedekah adalah ibadah yg ghairu mahdhah. namun bila ada orang yg mengkhususkan kuburan sbg tempat sedekah, atau malam nisfu sya’ban sbg waktu sedekah, padahal tidak ada dalil shahih yg mengarah kesana, maka ia telah berbuat bid’ah.
      Jadi, klasifikasi mahdhah dan ghairu mahdhah ini tidak dimaksudkan untuk menolak kemungkinan terjadinya bid’ah, sebagaimana yg dilakukan oleh sebagian kalangan… wallahu a’lam.

  • comment-avatar

    Barakallahufikum atas jawaban ust.
    tapi ust .mengatakan”Kaidah hukum asal ibadah adalah haram agaknya memang khusus berlaku pada ibadah mahdhah dan ibadah-ibadah yg telah ditetapkan petunjuk pelaksanaannya oleh syariat.” menagapa ust mengatakan …agaknya…?
    mengapa sedekah malam nisfu sya’ban dikatan bid’ah padahal tidak ada larangan.Kerna yang melarang harus mendatangkan dalil?

  • comment-avatar

    WAHABI = PRODUK ZIONIS YAHUDI

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      kalo yg ente maksud wahabi adalah para ulama saudi dan pengikut mereka, maka sejarah membuktikan bahwa saudi pernah perang langsung dengan Zionis Israel tahun 1976. Anehnya, yang gemar mengecap bhw wahabi = yahudi/produk zionis, tokohnya (Gus Dur) merupakan pendiri The Shimon Peres Institute dan berusaha membuka hubungan diplomasi antara RI dgn Israel… aneh bin ajaib. Maling teriak maling.

      • comment-avatar
        Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

        bahkan tidak cuma zionis yg dibela, aliran-aliran sesat spt Ahmadiyah, Syi’ah, Baha’iyyah termasuk kaum nasrani dilindungi oleh tokoh-tokoh NU macam Gus Dur (laa rahimahullah) dan Sa’id (laisa bi) ‘Aqil Siradj, dll… bahkan Banser NU turut dikerahkan untuk melindungi musuh2 Islam tsb… Memang tidak semua warga NU spt itu, tapi kenyataannya yg memimpin ormas adalah org-org spt itu, sehingga mencemarkan reputasi warga NU lainnya yg lebih baik.

  • comment-avatar

    WAHABI = YAHUDI

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 8 years ago

      Inilah bukti nyata bahwa musuh2 wahabi-lah yang gemar mengkafirkan, bukan wahabi itu sendiri.

  • comment-avatar
    Ahmad Rifai 8 years ago

    Wahai saudara-saudaraku kaum Muslim sekalian gunakanlah NURANI dan AKAL SEHAT agar kita tidak tersesat. Coba fikirkan !!!,Siapakah yg betul-betul berfaham Ahlussunah Waljama’ah ? Syeh Muhammad Abdul Wahab atau Mendiang Gusdur ?

  • comment-avatar

    Assalamualaikum ustadz, kalau boleh ana request
    ana minta, klarifikasi tentang Syubhat para pelayad jenazah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang para pelayad bertabaruk kepada jenazah Syaikhul Islam
    dengan bertabaruknya masa kepada jenazah Syaikhul Islam maka hal tsb dijadikan syawahid bertabaruk bagi mereka
    dan seakan-akan ulama yang menyaksikan membenarkan masa yg bertabaruk kepada jenazah Syaikhul Islam, mohon klarifikasi hal ini ustadz, syukran Jazaakallahu khairan

    • comment-avatar
      Abu Hudzaifah Al Atsary 7 years ago

      Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh.

      Terlepas dari benar tidaknya kisah itu, kalaupun hal itu terjadi, maka dari sisi apa ia hendak dijadikan dalil? Lha wong bila yg bertabarruk saja syaikhul islam -bukan para pelayad- maka perbuatan syaikhul islam bukanlah dalil yg berdiri sendiri dalam islam. Sebab dalil syar’i itu terbagi menjadi dua, muttafaq ‘alaih dan mukhtalaf fiih. Yg muttafaq ‘alaih, artinya ialah dalil-dalil yg disepakati sebagai hujjah dlm agama, yaitu Al Qur’an, Sunnah, dan Ijma’. sedangkan menurut jumhur ulama yg keempat adalah qiyas. adapun yg mukhtalaf fiih ialah yg diperselisihkan apakah ia sah menjadi dalil ataukah tidak; seperti syari’at umat sebelum kita, istihsan, maslahat mursalah, albara’ah al asliyyah, dan qoul sahabat.

      Nah, perbuatan yg masih bisa dianggap dalil ialah perbuatan/perkataan sahabat, itupun dengan catatan bhw perbuatan/perkataan tsb tidak ada yg mengingkarinya dari sahabat lain.

      Adapun perbuatan selain sahabat, maka sama sekali tidak bisa dijadikan dalil, kecuali bila menjadi ijma’. Apalagi perbuatan generasi yg hidup berabad-abad kemudian. Apalagi bila yg berbuat spt itu adalah pelayat jenazah yg mayoritas adalah orang awam… apalagi jika yg mereka lakukan thd syaikhul islam -kalaupun kita anggap hal itu memang terjadi- adalah sesuatu yg senantiasa diingkari oleh syaikhul islam semasa hidupnya.

      Adapun bila beliau diperlakukan secara keliru setelah wafatnya, maka yg salah ialah pelakunya, bukan yg diperlakukan. Sebagaimana adanya golongan yg menuhankan Isa bin Maryam, dan Uzair, dan orang-orang shalih lainnya.

      Adapun sekedar menceritakan peristiwa yg dilakukan oleh para pelayat terhadap jenazah Syaikhul islam, maka tidak berarti bahwa si perawi kisah tsb merestui perbuatan tsb. karena yg namanya mengingkari tidak harus dengan lisan dan tangan, namun bisa juga dengan hati. Nah, darimana si penanya bisa memastikan bahwa para ulama yg melihat fenomena munkar tsb tidak mengingkari dengan hatinya?

  • comment-avatar

    jazakallah ustadz atas ilmunya.,memang benar apa yg trjadi di masyarakat kita sekarang ini,saya trmasuk yg besar dari keluarga NU,apa lg mertua,mreka sngat rajin dlm pengajian2 NU,trmasuk jg sering jiarah ke makam2 wali…mhon doanya smoga mreka d bri hidayah allah subhanahu wata’ala,amiin

  • comment-avatar
    Amin NurHidayat Abu Iqbal AlFaruq 7 years ago

    Mohon maaf Ustadz, kalo Bapak adalah Ahlussunnah, mohon berikan kami Kajian yang lebih dalam lagi tentang Jamaah Ahlussunah Wal Jamaah, karena saya dari Islam yang masih awam, masih jauh dari Ilmu Islam, yang masih saya belum sebenarnya adalah tentang : 1. NU, 2. Muhammadiyah, 3. Sunni, 4. Syi’ah, 5. Islam Liberal, 6. LDII, 7. Wahabi, 8. Ahmadiyah, 9. Naqsabandiyah. Yang masih menjadi pertanyaan besar saya adalah 9 point diatas, saya msh blum paham hingga sekarang. Ditambah lagi tentang Jamaah Ahlussunah waljamaah, siapakah mereka? karena setiap hari saya ibadah sesuai yg diajarkan orangtua, namun ikut manakah orantua saya, sampai skrng saya tidak tau. Sekian, terima kasih. Mohon jawaban dan penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

  • comment-avatar

    terbukti setiap tahun acara haul sangat ramai di daerah pasar kliwon

DISQUS: