Lika-liku Menggapai Hidayah (2)

Berbekal seminar di Mesjid Muniroh tadi, Ahmad semakin tertarik untuk mengikuti kajian-kajian yang mengacu ke manhaj Salaf. Pengajian favoritnya adalah di Mesjid Istiqomah Penumping, yang di antaranya diasuh oleh ustadz AM. Mengingat Solo adalah sarang berbagai aliran, dari yang ekstrim kiri hingga ekstrim kanan, wajar saja bila yang mengajarkan manhaj Salaf kadang mengadopsi pemikiran harakah dan semisalnya. Demikian pula orang yang besar di Solo seperti Ahmad. Ketika minat bacanya demikian besar terhadap buku-buku agama (yakni sekitar tahun 1995 kesini), ia tidak banyak mendapati buku-buku ‘salafi’, yang banyak beredar justeru buku-buku ‘haraki’. Sedikit demi sedikit ia pun terwarnai oleh buku-buku tersebut. Ia pun mulai membaca lebih jauh. Meski tidak menjadi haraki tulen, Ahmad tetap menaruh simpati kepada orang-orang haraki, terutama yang tetap mengacu kepada manhaj salaf dalam beberapa sisi, seperti akidah dan ibadah.

Pada tahun 1996 atau 1997, Ahmad diajak mengikuti halaqah kajian tiap minggu. Halaqah tersebut diasuh oleh seorang yang dianggap ustadz atau lebih ‘alim’ dalam urusan dien dari kita-kita yang tergolong ‘baru ngaji’ ini. Halaqah yang diikutinya memiliki beberapa jenjang, dari pemula, menengah, dan seterusnya; selain juga memperhatikan usia anggota, alias yang muda-muda memiliki halaqah sendiri, sedangkan yang tua-tua juga tersendiri.

Teori-teori pergerakan pun mulai diperkenalkan kepada kami, dan tentunya dengan ‘dalil-dalil’ yang dianggap kuat. Ahmad pun hanya ‘manggut-manggut’ saja mendengar pemaparan si ustadz yang berinisial Y tersebut. Buku yang dijadikan acuan pun adalah buku haraki (saya lupa apa judulnya). Akan tetapi, belum lagi selesai membahas buku tersebut, Ahmad dipindahkan ke halaqah lain bersama orang-orang yang seumuran dengannya dan ustadz yang lebih muda, inisialnya AH –rahimahullah[1]-.

Selama aktif di halaqah tadi, Ahmad tetap rajin ngaji di Mesjid Penumping, karena kajian-kajian halaqah lebih mengarah kepada pendidikan keorganisasian, pelatihan, dan bagaimana menyikapi penguasa (politik); sedangkan di Mesjid Penumping kajian-kajiannya lebih ilmiah karena menitik beratkan masalah keimanan dan tauhid.

Perkenalan dengan orang-orang haraki pun terus berlanjut dan makin erat, meski Ahmad sendiri tidak bernah resmi bergabung dengan salah satu harakah. Ia hanyalah simpatisan, tak lebih dari itu. Pasca lengsernya Soeharto tahun 1998, tak sampai setahun kemudian datanglah dua orang tokoh pergerakan asal Solo yang selama 15 tahun lebih bermukim di Malaysia. Keduanya adalah ustads AS dan ustadz ABB. Selama ini Ahmad sering mendengar sepak terjang ustadz AS dan keberaniannya menentang rezim Orba di bawah pimpinan Soeharto yang menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Ahmad juga mengoleksi beberapa kaset ceramah ust. AS, baik saat di Indonesia atau setelah berada di Malaysia. Keduanya konon pernah mendapat ‘karamah’ karena bisa lolos dari kejaran aparat dan intelijen rezim Soeharto, dan menyeberangi selat malaka dengan sebuah sampan.

Nah, pada tahun 1999 tersebut ustadz AS datang ke Indonesia bersama ABB. Tapi sayang, ajal keburu menjemput ustadz AS sebelum Ahmad sempat bersua dengannya. Beliau meninggal mendadak akibat serangan jantung di Bogor, tepat usai mengadakan pertemuan dengan sejumlah anak buahnya. Akhirnya jenazah beliau dibawa ke Klaten di rumah mertuanya untuk dimandikan, disholatkan, dan dimakamkan di sana. Ahmad sendiri sempat mencium kening Sang ustadz yang kharismatik dan legendaris tersebut, karena dia termasuk rombongan pelayat yang pertama kali tiba di lokasi.

Sepeninggal ustadz AS –rahimahullah-, posisi dipegang oleh ustadz ABB. Ahmad pun berkenalan dengan beliau dan sempat bertanya-tanya tentang masalah jama’ah, bai’at, imamah dan hal-hal yang terkait dengan harakah lainnya. Penjelasan yang diberikan oleh ustadz ABB tentang hal-hal tadi Ahmad anggap logis dan tidak fanatis. Intinya, suatu jama’ah didirikan untuk memperjuangkan suatu misi yang mulia, dan hal ini tidak jauh berbeda dengan organisasi-organisasi yang ada, hanya saja tidak bersifat terbuka dan umum. Sedangkan baiat yang diterapkan atas anggota jama’ah tadi juga tidak bersifat mutlak, namun tetap mengacu kepada Al Qur’an dan Sunnah, alias apa yang sesuai dengan keduanya ya wajib diikuti, sedangkan yang tidak sesuai harus ditolak.

Hubungan Ahmad dengan ustadz ABB dan keluarganya pun semakin akrab. Terutama dengan anak beliau yang berinisial RR, dan kebetulan isteri ABB dan ibunda Ahmad masih ada hubungan famili, sehingga kedekatan pun makin bertambah.

Selama berinteraksi dengan orang-orang haraki tersebut, Ahmad sering mendengar istilah ‘thaghut’ yang biasanya diarahkan kepada pemerintah Indonesia yang tidak mau menerapkan syariat Islam sebagai undang-undang positifnya. Memang mereka bisa dikategorikan ‘thaghut’ yang notabene harus dikufuri, akan tetapi tidak secara membabi-buta. Inilah yang menjadi masalah utama dan yang membedakan antara harakah yang dipimpin oleh ABB dengan salafiyyin. Hal ini baru Ahmad ketahui setelah ia mengadakan kajian menyeluruh terhadap semua dalil yang dipergunakan oleh kedua belah pihak. Dan itu mulai dia lakukan setelah hengkang dari Solo dan menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah, tepatnya mulai tahun 2003.

Di Madinah, Ahmad mendapatkan nuansa baru. Berbagai pemikiran saling beradu di sana. Ada yang ikhwani (mengikuti pemikiran Ikhwanul Muslimin), ada yang salafi (baik yang moderat atau dianggap keras), ada yang Sururi (nisbah kepada Muhammad bin Surur), ada yang tablighi (mengikuti jama’ah tabligh), bahkan ada juga yang takfiri (gampang mengkafirkan orang lain).

Masing-masing dari kelompok tadi berusaha untuk menarik orang lain ke dalamnya. Tapi tetap saja yang menjadi kelompok terbesar adalah salafiyyin dan Ikhwanul Muslimin (IM). Ahmad sendiri belum merasa sebagai salafi maupun ikhwani, tapi dia lebih suka mengadopsi kedua pemikiran tersebut alias mengambil hal-hal positif dari keduanya dan meninggalkan hal-hal yang negatif. Sejauh yang ia ketahui, salafi adalah pihak yang anti terhadap hal-hal yang sifatnya organisasi, namun lebih menitik beratkan kepada masalah tauhid, ilmu, dan menghindari masalah-masalah politik. Sedangkan IM memiliki karakter yang sebaliknya: sangat terorganisir (ada Imam, ada muraaqib, ada muayyid dst), kurang perhatian dengan masalah tauhid, namun sangat perhatian dengan masalah politik, bahkan banyak yang ikut dalam politik praktis (partai & parlemen).

Adapun harakah yang Ahmad kenal selama ini -yang dipimpin oleh ABB-, tak lain merupakan hasil perkawinan silang antara salafi dan IM. Artinya, dalam masalah tauhid dan ibadah serta masalah-masalah dien lainnya, rujukannya sama dengan salafiyyin. Namun dalam menyikapi penguasa serta memperjuangkan tegaknya agama Allah, mereka mengadopsi sebagian pemikiran IM…. (bersambung)

 


[1] Beliau meninggal dunia di penghujung tahun 1999 karena ditabrak truk gandeng saat mengendarai sepeda motor di daerah Delanggu, Klaten.