Lika-liku menggapai hidayah (3)

Sebelum berangkat ke Madinah, Ahmad pernah ‘mampir’ selama sepuluh bulan (kurang beberapa hari) di sebuah kota kecil di Propinsi Al Qassim, Saudi Arabia. Kota itu namanya ‘Unaizah. Kota asal ulama legendaris Najed yang namanya tak asing di telinga kita… Ya, dari sanalah terlahir Asy Syaikh Al ‘Allaamah, Abdurrahman bin Naashir As Sa’di. Seorang mufassir nan faqieh yang karya-karyanya demikian terkenal. Di kota itu pula terlahir ulama besar lainnya yang notabene adalah murid beliau, yaitu Asy Syaikh Al ‘Allaamah, Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, rahimahumullah jami’an.

Keberangkatan Ahmad ke ‘Unaizah sebetulnya lebih mirip dengan ‘pelarian’, karena bosan menggantungkan nasib di Jami’ah Islamiyyah Madinah (Bukan Jama’ah Islamiyyah lho !). Ahmad selama dua tahun ini sudah berusaha mendaftar dua kali, dan selalu gagal… Dua tahun berlalu tanpa ada ketentuan hendak kemana Ahmad akan melanjutkan studinya. Ahmad demikian tertarik untuk belajar ilmu-ilmu agama, akan tetapi background pendidikan SMP dan SMA-nya selama ini betul-betul kurang mendukungnya untuk bersaing dengan anak-anak Ma’had… apalagi ketika itu sistem keikutsertaan di Daurah Masyayikh Madinah, harus berdasarkan undangan yang dikirim dari pihak penyelenggara kepada ma’had-ma’had tertentu agar mengirimkan calon mereka untuk ikut serta di Dauroh. Dalam hati Ahmad berkata: “Memang siapa yang bakal melayangkan undangan ke SMA 3 ??” SMA yang terkenal dengan banyaknya siswa-siswi keturunan Tionghoa itu… SMA yg konon menempati peringkat pertama se-Kodya Solo selama bertahun-tahun…

Karenanya, usaha Ahmad untuk ikut serta dalam daurah selama dua tahun tersebut selalu tak berhasil. Paling banter ia hanya bisa ikut muqobalah saja… maksudnya, wawancara dengan salah seorang syaikh/dosen yang akan melayangkan sejumlah pertanyaan sesuai selera mereka… lalu menilai jawaban kita, dan selanjutnya… menunggu nasib.

Namun, Allah ternyata masih cukup ‘sayang’ dengan hamba-Nya yang satu ini. Ketika harapan untuk bisa belajar di kota Rasul hampir pupus, Ahmad mendapatkan jalan keluarnya. Hal itu bermula ketika Ahmad mendengar rencana diadakannya Daurah Masyayikh Jami’ah di sebuah Ponpes terkenal di Jogja, yaitu PP Taruna Al-Qur’an. Nah, kebetulan Ahmad selama tiga tahun belakangan sering mondar-mandir ke sebuah Ma’had Ali di Gading yang banyak dihuni oleh lulusan-lulusan PP Ngruki. Meskipun ‘aroma’ harokah masih tercium kuat, akan tetapi santri-santrinya lebih fokus ke masalah ilmiah daripada organisatoris. Dari pergaulan bersama merekalah semangat Ahmad untuk belajar agama makin kuat. Pemicunya ialah ketika salah seorang ustadz mereka yang bernama AR memanggil Ahmad. Beliau ingin sekedar ta’arruf dengan Ahmad yg kelihatan akrab dengan santri-santrinya selama ini. Di tengah perkenalan tadi, Ahmad mengatakan bahwa dirinya adalah keturunan Arab lulusan SMP dan SMA Negeri… maka si Ustadz pun melayangkan beberapa pertanyaan dalam bahasa Arab. Dengan ‘gelagapan’, Ahmad berusaha menjawab semampunya… dan alangkah malunya Ahmad ketika sang Ustadz mengatakan: “Antum lebih pantas untuk bisa berbahasa Arab dari pada kami”. Karena beliau adalah orang Pribumi.

Kata-kata Ustadz AR tadi ibarat percikan api yang menyulut semangat Ahmad. Apalagi selama ini ia sering menyaksikan dan mendengarkan bagaimana santri-santri Ma’had Ali tsb khutbah dalam bahasa Arab setiap hari Rabu secara bergiliran. Akhirnya, tibalah momen yang tepat bagi Ahmad untuk ikut serta di Daurah Masyayikh yg diadakan oleh PP Taruna Al Qur’an. Ahmad diutus sebagai salah satu wakil Ma’had Ali, bersama dua orang santri lainnya. Kebetulan, panitia Daurah adalah Ustadz J yang merupakan alumni Ngruki. Jadi, Ahmad dapat kemudahan untuk bisa ikut meskipun sebenarnya jatah mereka untuk Ma’had Ali hanya dua orang santri.

Alhamdulillah, setelah dua minggu mengikuti Daurah, tibalah saatnya ujian tertulis. Ahmad pun mengikuti ujian dan alhamdulillah berhasil lulus dengan nilai mumtaz dan masuk 10 besar, tepatnya rangking 9. Sedangkan salah seorang santri ma’had menempati rangking ke-3.

Seleksi penerimaan pun dilanjutkan dengan acara muqabalah. Tapi sayang, ketika muqabalah Ahmad mendapat pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga, dan ia pun kesulitan menjawab karena cara belajarnya selama ini yang serabutan.. yang penting faham dikit-dikit kalo baca kitab gundul, bisa ngomong dikit-dikit, dan faham diajak omong. Adapun kaidah-kaidah Nahwu dan tatacara i’rab, maka hanya sekilas pintas saja. Karenanya, ketika ditanya pertama kali tentang i’rab, Ahmad akan belepotan menjawabnya. Rasa pe-de-nya untuk diterima pun menurun drastis, sehingga yang tersisa hanya sepercik harapan untuk diterima.

Karenanya, Ahmad harus mencari pelarian kalau-kalau tahun depan namanya tak muncul lagi dalam daftar mahasiswa UIM. Tapi ada secercah harapan yang tersisa, karena kebetulan Ahmad ditunjuk sebagai wakil santri dalam acara penutupan daurah, dan diminta untuk berpidato dalam bahasa Arab di sana. Mungkin inilah salah satu ‘credit point’ terbesar yang menyebabkannya diterima di UIM kemudian.

Selama dua tahun tersebut, Ahmad sempat kenalan dengan salah satu Syaikh yang datang dari Saudi, yang merupakan murid Syaikh Utsaimin. Beliau datang berkunjung dalam rangka dakwah dan daurah di daerah tertentu, sesuai dengan yang diatur oleh yayasan pemrakarsa, yaitu Yayasan Al Sofwa Jakarta. Kebetulan, pilihan jatuh ke sebuah ponpes ‘bersahaja’ yang berlokasi di Simo, Boyolali. Inisialnya DS. Kedatangan syaikh tersebut tentu tidak disia-siakan oleh Ahmad, sehingga dalam waktu singkat pun segera terjalin hubungan erat antara Ahmad dengannya. Ahmad pernah menyampaikan cita-citanya untuk bisa belajar di Saudi, walaupun sekedar mulazamah (informal) di mesjid-mesjid. Tak disangka… tiba-tiba sebuah tawaran datang dari Musyrif (supervisor) Yayasan Al Sofwa, agar mencarikan dua orang yang siap untuk dikirim ke Unaizah, dengan syarat belum menikah. Ahmad pun segera menyambut tawaran tersebut dan menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.

Setibanya di Yayasan, Ahmad dipanggil oleh kepala yayasan, ustadz ABA untuk interview. Selama ini, apa yang Ahmad ketahui ttg Yayasan tersebut ialah bahwa ia berpemikiran ‘salafi’. Ketika interview, yang melayangkan pertanyaan ada tiga orang. Salah satunya adalah kepala yayasan itu sendiri, kemudian salah seorang ustadz yang Ahmad lupa siapa namanya, dan yang ketiga adalah ustadz yang beberapa waktu lalu sempat marak disebut di media massa, karena dituduh terlibat tindak terorisme. Ia berinisial AA, lulusan LIPIA Jakarta yang konon berpredikat ‘cum laude’… beliau juga konon hafal Al Qur’an dan Kitab Bulughul Maram. Cukup hebat dan mengagumkan untuk ukuran Indonesia bukan? Akan tetapi, ketika tiba giliran ustadz AA yang melontarkan pertanyaan. Ahmad merasa ada yang janggal dari pertanyaanya… yaitu ketika ia bertanya: Kitab apa saja yang telah kamu baca dalam masalah akidah? Jawab Ahmad: “Kitab Al Iman karya Az Zindani (tokoh IM terkenal di Yaman), lalu kitab At Tibyan Syarhu Nawaqidhil Islam, karya Sulaiman Al ‘Ulwan (yang belakangan diketahui membawa fikroh takfiri, meskipun konon juga cukup luas ilmunya dalam masalah hadits)”. Ketika ustadz AA mendengar judul kitab tersebut, ia langsung melontarkan pertanyaan berikutnya: “Ada sebuah masalah yang termasuk pembatal Islam kontemporer yang marak terjadi akhir-akhir ini… apa itu?”. Ahmad menjawab: “Syirik?”, “Oh, itu kan sejak dulu… penulisnya menjelaskan dalam catatan kakinya tentang pembatal yang berbunyi: “Man lam yukaffiril musyrikiena, aw syakka fi kufrihim… lalu Ahmad segera menyambung kelanjutannya: “Aw sohhaha madzhabahum, kafara”. “Betul”, kata AA. Kemudian AA mulai berbicara panjang lebar hingga mengarah kepada pemerintah RI. Ahmad segara menangkap arah pembicaraannya, dan menyergapnya dengan sebuah pertanyaan yang kurang lebih bunyinya: “Jadi, Indonesia ini negara kafir dong?”. Ustadz AA pun terdiam… dan langsung disela oleh ustadz ABA dengan mengatakan: “Nah lo.. !!” (maksudnya, bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan ini?).

bersambung…